<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Alim M Wiltom</title>
	<atom:link href="http://alimwiltom.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alimwiltom.wordpress.com</link>
	<description>Sebuah coretan dinding...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Oct 2011 05:24:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alimwiltom.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/81989169dc10ec4023291bdc90fb098e?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Alim M Wiltom</title>
		<link>http://alimwiltom.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alimwiltom.wordpress.com/osd.xml" title="Alim M Wiltom" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alimwiltom.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kupersembahkan untukmu, ayah. *seri sarjana &#8211; sarjana</title>
		<link>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/10/05/kupersembahkan-untukmu-ayah-seri-sarjana-sarjana/</link>
		<comments>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/10/05/kupersembahkan-untukmu-ayah-seri-sarjana-sarjana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 05:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alimwiltom</dc:creator>
				<category><![CDATA[goresan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alimwiltom.wordpress.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[ Alim M Wiltom, Palembang, 05 Oktober 2011 pukul 09 : 11 “Kamu kapan wisuda?” “Ah, nyantai aja Yah mungkin masih agak lama, dikampus ada banyak pengalaman yang dapat ku gali.” Jawabku kepada Ayah diseberang pulau. Entah sudah berapa kali Ayah menanyakan hal yang serupa. Membuatku sedikit jengkel berkali-kali menjelaskan bahwa kuliahku pasti akan selesai, hanya <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=279&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"> Alim M Wiltom, Palembang, 05 Oktober 2011 pukul 09 : 11</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu kapan wisuda?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, nyantai aja Yah mungkin masih agak lama, dikampus ada banyak pengalaman yang dapat ku gali.” Jawabku kepada Ayah diseberang pulau. Entah sudah berapa kali Ayah menanyakan hal yang serupa. Membuatku sedikit jengkel berkali-kali menjelaskan bahwa kuliahku pasti akan selesai, hanya saja butuh waktu yang sedikit agak lama.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lagi pula yang penting saya dapat kerja yang layak kan? Gelar gak terlalu pentinglah.Yang penting kerja, kerja, dan kerja.” Sambungku lagi sedikit ketus.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mbokya, diselesaikan secepatnya. Masa’ Dina tetangga kita yang kuliahnya bareng kamu aja katanya udah mau selesai. Tinggal tunggu jadwal wisuda. Lha kamu kapan??” kali ini Ayah membanding-bandingkan aku dengan Dina tetangga kami yang memang kuliahnya berbarengan dengan saya, pun dikampus yang sama. Hanya saja dia menggeluti bidang Ekonomi. Sedangkan aku Keguruan. Memang sih Dina lebih rajin dibanding saya untuk masalah akademis. Kalau teman-teman saya bilang dia orangnya <em>study oriented.</em></p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi kalau memang kamu masih banyak urusan yang mendukung masa depan kamu kelak dan itu sangat  penting, ya gakpapa. Ayah tunggu kabarnya saja disini. Udah dulu ya Nak, Ayah mau ke ladang lagi. Assalamualaikum…” tiba-tiba Ayahku memelankan suaranya. Mengalah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh ya,.. nanti rianti kabarin lagi ya Yah… waalaikum salam..” <em>tut.. tutt.. tutt..</em> <em>handphonenya</em> pun saya tutup setelah Ayah menutup <em>handphone</em>nya lebih dulu<em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hari ini ada banyak hal yang harus kuselesaikan. Bukan saja masalah skripsi yang <em>njelimet</em>, dari semester dua aku memang sudah ikut dalam kegiatan – kegiatan sosial. Aku ikut dalam kegiatan Palang Merah Remaja dikampusku. Sesuai jadwal, hari ini ada kegiatan donor darah bagi mahasiswa kampus yang ingin mendonorkan darahnya. Aku dipercayakan oleh teman &#8211; teman sebagai sekretaris pelaksana kegiatan. Tentunya ini membuatku menjadi sibuk. Sehingga aku melupakan skripsiku walaupun sebenarnya tanpa kegiatan inipun aku memang rada malas mengerjakan skripsiku. Belum ada minat. Karena obsesiku bukan menjadi seorang akademisi. Belum lagi dengan usahaku. Oh iya aku hampir lupa, bahwa aku sekarang sudah mulai usaha kecil-kecilan. Ya lumayan untuk mencukupi keperluanku dikampus dan <em>Alhamdulillah </em>aku juga bisa menabung setiap bulannya. Jaga – jaga kalau ada keperluan mendadak. Aku selalu berfikir bahwa Ayahku pasti akan sangat senang dikampung, kalau nantinya aku sudah punya tabungan sendiri yang jumlahnya akan mengagetkan seisi keluarga tentunya. Karena usahaku boleh dibilang lumayan lancar. Sejauh ini belum ada kendala yang begitu menyulitkan. “lihatlah, setelah lulus nanti aku akan membahagiakan Ayah…”</p>
<p style="text-align:justify;">Ada satu lagi yang akan membuat Ayah bahagia dariku. Ayah selalu mengirimiku uang untuk keperluan sehari – hari disini. Aku tidak pernah sedikitpun menggunakan uang hasil jerih keringat Ayah untuk hal – hal yang tidak bermanfaat. Apalagi untuk hal-hal yang berbau dosa. Kugunakan uang Ayah hanya untuk keperluan yang baik, karena aku yakin dengan penggunaan yang baik maka Ayah akan mendapatkan pahala yang akan membawanya ke <em>syurga</em> kelak. Aku tidak pernah lupa untuk berinfak, setidaknya seribu rupiah satu harinya. Itu komitmenku. Terkadang juga uangku sering terpakai untuk keperluan organisasiku. Karena biasanya keuangan organisasi tidak menentu. Jadi harus ada yang rela untuk merogoh koceknya masing – masing dari anggota. Akupun ikut andil. Kata ustadzah – ustadzah yang pernah kudengar “<em>bahwa jika kita ikhlas akan harta kita digunakan pada jalan yang benar, maka InsyaAllah akan bernilai pahala.” </em>Ini yang kudapatkan dalam pengajian rutinku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dina??! Kamu ikutan donor darah juga?” tanyaku heran sewaktu ketemu Dina di lokasi donor darah yang baru saja disebut-sebut Ayah ditelpon.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iyalah Ti. Masa’ enggak. Setidaknya Aku bisa menyumbangkan darahku dipenghujung hariku di kampus ini. Aku ingin bermanfaat bagi orang lain, walaupun hanya sedkit ini. Hehe..” jawab Dina nyengir.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm… udah mau lulus aja, baru mau gabung sama acara kita-kita. Kemarin – kemarin kemana aja?” sindirku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hehe…” kali ini mulutnya semakin lebar nyengir.</p>
<p style="text-align:justify;">Dina memang selalu gokil. Walaupun sangat serius ketika sedang belajar. Dulu sewaktu disekolah hampir setiap tahunnya ia juara umum.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh iya Ti..” sela Dina.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya?” jawabku heran.</p>
<p style="text-align:justify;">“KAMU tahu jadwal wisuda gak?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yah, malah nanya aku.” Jawabku sebal.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tahu gak, wisuda dikampus kita dua bulan lagi lho. Aku tadi gak sengaja dengar dari Pak Hartono dosen manajemenku.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Terus?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku harap, nanti kamu dan Bapak bisa menjadi pendampingku ya di wisuda. Keluargaku pada gak bisa ikut semua.”</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>InsyaAllah… </em>nanti aku bilang Ke Ayah<em>.</em>“ jawabku sedikit serau. Aku tahu betul apa yang dimaksud Dina dengan <em>keluargaku pada gak bisa ikut. </em>Tentulah tidak bisa. Di desa, Dina hanya tinggal bersama Embahnya yang sudah sangat berumur. Nampaknya tidak memungkinkan sekali untuk ikut menyeberang lautan. Ayah Ibu nya? Entahlah, sedari kecil Ayah Ibunya sudah tidak ada. Sudah meninggal. Kata Ayah karena sakit keras. Dan Paman – Pamannya. Jauh merantau. Jangankan untuk dating menghadiri wisuda, pulang kampung saja hampir tidak pernah. Jadilah ia hidup bersama Embahnya. Biasanya memang, segala sesuatunya Dina minta bantuan ke Ayah. Dina sangat dekat dengan keuarga kami. Bahkan sudah menjadi bagian keluarga kami.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh iya Din, tadi ditanyain Ayah.” Sambungku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iyakah?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, tadi pagi Ayah telpon. Terus Tanya kabarmu.” Jawabku sedikit berohong supaya Dina semakin senang. <em>Sedikit bohong untuk kebaikan kan tidak masalah</em>. Ini juga salah satu yang kudapat dari pengajianku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wah… jadi pengen telpon Ayah..” sahut Dina.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, makanya telpon sana, tanyain kabarnya dan ngomong langsung aja ke Ayah kalau dua bulan lagi kamu wisuda dan minta Ayah sebagai pendampingnya diwisuda nanti.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, nanti deh.. Setelah ini.” jawab Dina yakin.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;"><em>JOKO SANTOSO, SARJANA HUKUM. SH. IPK TIGA KOMA DUA DUA, DENGAN PREDIKAT, BAIK.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>BUDI RAHARJO, SARJANA HUKUM. SH. IPK TIGA KOMA EMPAT SATU, DENGAN PREDIKAT, AMAT BAIK.</em></p>
<p style="text-align:justify;">“Ti, coba kamu lihat mereka – mereka yang wisuda hari ini. Mereka begitu bahagia.”  Dina berbisik ditelingaku disela – sela penyematan Toga tanda kelulusan oleh Rektor kepada Mahasiswa yang wisuda satu persatu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kuperhatikan satu persatu mereka – mereka. Tampak semburat ekspresi bahagia dari mereka. “Hmm…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu lihat orang itu!” Dina menunjuk salah satu peserta wisuda. Akupun langsung menoleh.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu tahu Ti, Apa yang ia lakukan dalam wisuda ini?” Dina menghardiku. Akupun menggeleng pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ia membawa keluarganya juga. Sama sepertiku membawa Ayah dan juga Kamu. Tapi apa yang membuatnya sungguh berbeda? Ayahnya Ti. Demi ingin melihat anaknnya untuk penyematan sarjana hari ini. Ayahnya yang mempunyai cacat dikakinya rela untuk hadir dan nanti, terpaksa Ayahnya yang sedikit pincang kalau berjalan, dengan di <em>papah </em>anaknya yang wisuda hari ini selangkah demi selangkah menuju panggung penyematan. Tapi Ayahnya tidak pernah susah. Ia bahagia Ti, begitu bahagia dan bangganya ia melihat anaknya berhasil. Bahagia melihat anaknya yang mendapat gelar Sarjana, sedangkan ia, Sekolah Dasar pun tidak selesai.” Dina selalu menyemangatiku yang sedari tadi duduk disampingnya bersama Ayahku. Menjelaskan apa – apa yang luarbiasa terjadi ketika wisuda berlangsung.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan coba kau tengok disamping kita! Kursi ketiga setelah kita.” Kali ini Dina tidak menunjuk dengan tangannya. Walaupun begitu, aku melihat persis siapa yang Dina maksud.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayahnya keren bukan. Necis. Rapi. Berdasi, ber Jas. Tapi kau tahu Ti? Untuk datang pada wisuda anaknya. Ia rela mencari jas yang bisa di sewa hanya untuk hari ini. Kemarin anaknya Tanya kepadaku tempat penyewaan jas dan pakaian <em>kebaya </em>untuk ia dan Ibunya. Padahal aku tahu betul bagaimana kondisi keluarga mereka. Aku kenal betul dengan anaknya dan ia selalu cerita tentang kondisi keluarganya. Untuk makan saja mereka hutang – menghutang. Atau bahkan menghemat makan hanya satu kali sehari. Tentunya akan mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk sewa pakaian. Tapi apa yang Ayahnya bilang pada anaknya, <em>masalah uang tidak usah kau fikirkan ya Nak, yang jelas Kamu, Ayah dan Ibu harus terlihat rapi. Supaya nanti ketika di foto Ayah dan Ibu tidak malu – maluin kamu. Ayah bisa mengusahakan uangnya. Dan  kita bisa pajang di dinding rumah. Supaya orang – orang tahu, bahwa kau sudah bergelar sarjana.” </em>Kali ini Dina membuatku tertegun, mengingat – ingat kembali apa yang telah kulakukan. Menunda kelulusan. Menunda wisuda.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan masih banyak lagi orang – orang disini yang berkorban hanya untuk wisuda anaknya. Ada yang libur kerja, menelantarkan sawah dan masih banyak lagi. Tahu apa yang mereka fikirkan? Bukan hanya saja agar anak &#8211; anaknya bisa mendapat kerja yang layak Ti, tapi wisuda ini sebagai hadiah pertama kita untuk Keluarga. Ayah yang banting tulang, peras keringat hanya sekedar membiayai kita kuliah. Dan ia tidak pernah mencicipi apa itu manisnya kuliah. Tidakkah kita berfikir kalau seandainya kita hitung dari awal biaya kuliah sampai sekarang, sudah berapa juta uang Ayah kita habiskan? Bahkan mungkin bisa sampai puluhan juta. Atau mungkin ratusan. Dengan wisuda inilah setidaknya kita bisa membuat Ayah kita bangga walaupun tidak pernah mencicipi puluhan juta biaya untuk kuliah. Wisuda adalah hadiah Ti, wisuda adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi Ayah kita yang tidak bisa menyelesaikan sekolah dasar ini.” Aku tertunduk lesu setelah begitu panjang Dina menjabarkan alasan mengapa harus wisuda. Nampaknya Dina memang sengaja mengajakku untuk menjadi pendamping wisuda nya. Supaya tergerak hatiku untuk segera menyelesaikan wisuda. Ingin rasanya aku menitikan air mata. Bahwa aku belum bisa membahagiakan Ayahku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Coba kau perhatikan Ayahmu Ti.” Kali ini Dina memaksaku untuk melihat semburat wajah Ayah. Yang semakin tua dan keriput.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidakkah kau memperhatikan ekspresi Ayahmu? Dari tadi Ayahmu memanjang manjangkan lehernya melihat orang – orang bersama anak – anaknya dalam penyematan gelar. Sesekali Ayahmu senyum, sesekali matanya berkaca – kaca. Aku sangat yakin Ayahmu sangat merindukanmu memakai Toga, Rianti, bangga mendampingimu. Bisa melihat anaknya mendapat gelar sarjana. Aku yakin Ayahmu telah menunggu – nunggu itu bertahun – tahun. Tidakkah kau mampu menyadari harapan Ayahmu itu?” Dina semakin memojokkanku. Ingin sekali rasanya aku menangis dan memohon maaf kepada Ayah. Ternyata Dina benar ternyata bukan saja kekayaan yang orang tua inginkan. Tapi lebih dari itu adalah kebahagiaan dan rasa bangga.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, kamu sangat beruntung Ti.” Dina melanjutkan kata – katanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu sangat beruntung mempunyai Ayah sepertinya, yang begitu pengertian kepadamu. Kamu masih beruntung bahwa Ayahmu bisa selalu menelponmu, menanyakan kabar. Tentunya kamu tidak ingin sepertiku kan? Begitu sedih Ti. Bayangkan kalau seandainya kamu dalam posisiku. Yang walaupun aku bisa meraih segudang prestasi, namun aku tidak bisa membahagiakan siapa – siapa. Aku tidak bisa mempersembahkan gelar kesarjanaanku ini kepada Ayahku, Ibuku atau keluargaku yang lain. Aku hanya bisa bersimpuh dan berdoa untuk Ayah Ibuku. Aku berharap nanti ketika aku dikumpulkan kepada mereka diakhirat, aku bisa berbangga kepada Ayah Ibuku bahwa aku sudah bergela sarjana. Pastilah Ayah Ibuku sangat bangga…..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Din,… kamu benar. Seharusnya aku bisa membaca harapan Ayahku.” aku memotong pembicaraan dina seketika. Dina berhenti bicara dan menoleh kearahku…</p>
<p style="text-align:justify;">“Tunggu sebentar. Aku minta waktu untuk berbicara kepada ayah..” aku memutar badanku kearah samping kanan. Tepat menghadap pada posisi Ayah yang sedari tadi sangat asyik melihat orang – orang dalam penyematan toga kesarjanaan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yah,…” aku mencoba bicara kepada ayah dengan sedikit lirih. Ayahku memandangku heran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yah,.. Rianti minta maaf Yah… mau kah Ayah memaafkan Rianti?</p>
<p style="text-align:justify;">“Maaf untuk apa Nak?” Ayahku bertanya semakin penasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Rianti belum bisa wisuda hari ini. Rianti mengabaikan pesan Ayah untuk segera wisuda. Rianti minta maaf Yah…. Tapi Rianti janji, enam bulan kedepan dijadwal wisuda yang kedua, Rianti akan membuat Ayah bangga. Bahwa Ayah bisa melihat Rianti mendapat penyematan toga kesarjanaan. Nanti kita bisa befoto bersama dan kita pasang foto kita dinding rumah kita. Rianti akan mempersembahkan semuanya untuk Ayah. Rianti janji. Ayah mau kan memaafkan Rianti..?” Ayah diam saja. Matanya semakin berkaca – kaca melihat aku yang meyakinkan Ayah bahwa pasti akan wisuda pada jadwal wisuda di kesempatan kedua.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak ada yang harus dimintamaafkan dan tidak ada yang harus dimaafkan Nak&#8230; Rianti tidak salah. Yang jelas, mulai dari sekarang Rianti rajin – rajin kuliah, gapai semua impian yang Rianti inginkan, jangan disisakan. Ayah akan menunggu Rianti wisuda seberapapun lama waktunya. Laukakan apa – apa yang mendukung masa depanmu Nak. Rianti gak usah mengkhawatirkan Ayah, Ayah baik  &#8211; baik saja.” Ayah tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;"> Ayah selalu membesarkan hatiku, tidak pernahlah ia marah denganku. Apapun yang kulakukan ayah selalu mendukungku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya Yah… InsyaAllah… Rianti janji. Untuk Ayah.” Aku dan Ayah tersenyum. Dina yang sedari tadi melihatkupun ikut tersenyum bangga.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>DINA HERLIANA, SARJANA EKONOMI. SE. IPK. TIGA KOMA DELAPAN LIMA, DENGAN PREDIKAT, CUMLAUDE.</em></p>
<p style="text-align:justify;">“Nampaknya giliranku Ti, ayo kita maju kedepan, bersama Ayah juga.” Kini akhirnya giliran Dina mendapatkan Penyematan Toga kesarjanaan dengan nilai begitu mumuaskan, <em>cumlaude.</em></p>
<p style="text-align:justify;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">
<p style="text-align:justify;" align="right">Alim M Wiltom, Palembang, 05 Oktober 2011 pukul 09 : 11</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alimwiltom.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alimwiltom.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alimwiltom.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alimwiltom.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alimwiltom.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alimwiltom.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alimwiltom.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alimwiltom.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alimwiltom.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alimwiltom.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alimwiltom.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alimwiltom.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alimwiltom.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alimwiltom.wordpress.com/279/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=279&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/10/05/kupersembahkan-untukmu-ayah-seri-sarjana-sarjana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-0.789275 113.921327</georss:point>
		<geo:lat>-0.789275</geo:lat>
		<geo:long>113.921327</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb4a355965475fd94da51feba9981762?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alimwiltom</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memahami lebih dalam Peran Konstitusi Kemahasiswaan (Studi Analisis Kampus IAIN Raden fatah Palembang)</title>
		<link>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/08/09/memahami-lebih-dalam-peran-konstitusi-kemahasiswaan-studi-analisis-kampus-iain-raden-fatah-palembang/</link>
		<comments>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/08/09/memahami-lebih-dalam-peran-konstitusi-kemahasiswaan-studi-analisis-kampus-iain-raden-fatah-palembang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 02:58:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alimwiltom</dc:creator>
				<category><![CDATA[KeMahasiswaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alimwiltom.wordpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Alim Muslimin ket. DPM IAIN RF tahun 2010   Aktivis mahasiswa seharusnya sudah bisa dengan gamblang menjelaskan rule of the game (aturan main) yang menjadi kitab suci dalam kancah perpolitikan mahasiswa. Tidak kemudian gagu dan udik dengan konstitusi, salah tafsir, atau bahkan sama sekali tak mengerti apa dan mengapa aturan tersebut. Terlebih telah <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=276&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://alimwiltom.files.wordpress.com/2011/08/mari-membaca-3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-277" title="mari membaca 3" src="http://alimwiltom.files.wordpress.com/2011/08/mari-membaca-3.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>Oleh : Alim Muslimin ket. DPM IAIN RF tahun 2010</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Aktivis mahasiswa seharusnya sudah bisa dengan gamblang menjelaskan <em>rule of the game </em>(aturan main) yang menjadi <em>kitab</em> <em>suci </em>dalam kancah perpolitikan mahasiswa. Tidak kemudian <em>gagu</em> dan <em>udik</em> dengan konstitusi, salah tafsir, atau bahkan sama sekali tak mengerti apa dan mengapa aturan tersebut. Terlebih telah menyandang status sebagai seorang aktivis mahasiswa yang secara tidak langsung menjadi <em>icon </em>dan sorotan segenap mahasiswa lain, konstitusi seharusnya menjadi makanan wajib dalam setiap diskusi. Menjadi lucu bahwa kemudian ketika beberapa mahasiswa di kampus IAIN Raden Fatah yang mengaku sebagai aktivis pergerakan, yang malang melintang dalam dunia pergerakan mahasiswa mulai dari diskusi sampai aksi jalanan tidak bisa menafsirkan dengan benar <em>rule of the game </em>yang ada di kampus. Ini begitu miris, sangat miris bahkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang menjadi <em>bottleneck </em>(penghambat) dari penyaluran pemahaman tentang konstitusi ini sebenarnya Cuma satu, yaitu minimnya kesadaran dan keseriusan mahasiswa dalam memahami konstitusi bagi negaranya sendiri, yaitu konstitusi kemahasiswaan. Mahasiswa cenderung mencari <em>shortcut </em>(jalan pintas) dalam pelaksanaan keorganisasiaannya. Hanya sekedar membaca konstitusi. Itupun hanya bagian yang bersifat kekinian atau hanya ketika ada masalah dilapangan. Sehingga mahasiswa dalam keseharian aktivitasnya hanya disibukan dalam permasalahan-permasalahan yang seharusnya bisa ditanggulangi sejak awal. Masalah pemahaman konstitusi ini menjadi pembahasan yang begitu penting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam hal ini saya ingin menjelaskan secara gamblang aturan yang dipakai oleh mahasiswa IAIN Raden fatah Palembang dalam menjalankan <em>student Goverment </em>(kepemerintahan mahasiswa) di kampus. Walaupun saya sadari begitu banyak cara yang digunakan oleh kampus lain yang ada di Indonesia, namun IAIN Raden Fatah memilih caranya sendiri.</p>
<p>Dalam menjalankan <em>student Govermentnya, </em>mahasiswa IAIN Raden Fatah Palembang melalui para Legislatornya tahun 2010 menganut sistem <em>Trias Politica (Montesqieu), </em>dengan ditandainya tiga pilar utama, yaitu Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif. Karena hal ini dipandang metode yang lebih baik untuk menjalankan proses demokratisasi dibandingkan dengan cara-cara yang lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Legislatif,</strong> seperti kita ketahui adalah lembaga yang membuat aturan-aturan yang akan menjadi acuan utama dalam menjalankan <em>student govermentnya </em>kelak<em>.</em> Dengan tiga peran penting, yaitu Legislasi (membuat aturan; UUD, UU dan lain lain), Budgeting (Penganggaran), dan Controlling (mengawasi). Yang ini telah tercantum dalam UUD ORMAWA IAIN RF PALEMBANG TAHUN 2010 BAB II Pasal 3 dan UUD ORMAWA IAIN RF PALEMBANG TAHUN 2010 BAB V Pasal 17. Apa dan Siapa saja Anggota Legislatif itu? Ialah MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa), DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), dan DPF (Dewan Perwakilan Fakultas). Yang dipilih langsung oleh seluruh mahasiswa berdasarkan kursi nya masing-masing melalui EMILU MAHASISWA.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Eksekutif,</strong> ialah entitas yang menjalankan aturan (konstitusi) yang telah dibuat oleh Anggota Legislatif. Eksekutiflah yang menjalankan semua roda kepemerintahan dibawah pengawasan Anggota Legislatif dan berjalan diatas UUD dan UU. Yang juga dipilih langsung oleh mahasiswa melalui PEMILU MAHASISWA. Perihal penentuan para menteri dalam membantu menjalankan roda kepemerintahan, presiden Mahasiswa berhak penuh (preogatif) untuk mengangkat dan memberhentikannya sesuai aturan yang berlaku dalam UUD ORMAWA IAIN RF PALEMBANG BAB III Pasal 4 ayat (4) dan pasal 12 ayat (3). Boleh saja PRESMA mengangkat dan memberhentikan para menterinya secara sepihak, karena itu hak preogatif presiden. Dan yang perlu diingat bahwa kita tidak menganut sistem partai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Yudikatif,</strong> dalam hal ini MPM berlaku sebagai Yudikatif dengan berkoordinasi dengan beberapa pihak yaitu Pembantu Rektor III (PUREK III) Pembantu Dekan III (PUDEK III).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adapun wacana pemakzulan atau <em>impechment </em>atau pemberhentian PRESMA dan WAPRESMA seperti yang di aspirasikan mahasiswa beberapa hari yang lalu di kampus IAIN RF, sebenarnya jikalau membaca dengan teliti, bahwa sudah begitu jelas dalam aturan ORMAWA IAIN RF 2010. Untuk meng<em>impechment </em>seorang Presma, itu bisa diajukan oleh 2/3 Anggota Legislatif dalam sidang Istimewa MPM. Itupun jikalau PRESMA melakukan pelanggaran hukum positif indonesia atau melanggar konstitusi Ormawa IAIN RF Palembang. (UUD ORMAWA IAIN RF PALEMBANG BAB III Pasal 8. Dan selanjutnya dijelaskan dalam pasal 10 UUD ORMAWA IAIN RF Palembang. Inilah aturan yang telah disepakati oleh Anggota Legislatif tahun 2010 dan disahkan oleh Rektor melalui Surat Keputusan Nomor XIX Tahun 2010. Tidak serta merta setelah penyampaian aspirasi, langsung kemudian ingin menurunkan. Ini kesalahan pemahaman yang fatal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelas sudah aturan yang telah dibuat, dan ini wajib dipahami seluruh jagat Kampus IAIN RF Palembang. Sejak awal bahwa semangat perubahan itu ditanamkan oleh para pendiri dan penggiat politik kampus di IAIN RF Palembang. Bahwa proses demokrasisasi selalu didengung-dengungkan. Semuanya boleh berpendapat, semuanya bebas menyampaikan aspirasi, sebagai wujud demokrasi, namun dalam penyampainya sepatutnya para aktivis mahasiswa menyampaikan dengan bijak, santun dan bertata krama. Karena demokrasi yang kita bangun adalah demokrasi yang santun, bukan <em>demokrasi</em> <em>abal – abal. </em>Kalau mahasiswa tidak lagi pernah menghargai konstitusi sebagai landasan hukum dan bertindak semaunya, apa bedanya kita dengan <em>suku Bar – Bar</em> yang bertindak semaunya tanpa berfikir terlebih dahulu. Yang menjadi pembeda mahasiswa dengan kaum yang lainnya , bahwa mahasiswa itu berakal, memiliki kecerdasan lebih untuk berfikir matang. Entitas terdidik untuk kemudian dapat menjadi orang-orang yang berfikir untuk bangsa, pilar – pilar negara. Dan nilai lebih dari seorang mahasiswa ialah idealisme yang takkan pernah tergadai. Bergerak atas kehendaknya sendiri tanpa ada yang menginterpensi. Terlebih hanya sekedar dengan uang, <em>ini hal yang sangat memalukan </em>(melihat banyaknya fenomena mahasiswa yang menggadaikan idealismenya untuk sejumlah uang)<em>. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mahasiswa harus menjadi <em>centre position </em>(posisi tengah) dalam segala kondisi yang ada. Menjadi perantara antara rakyat dan penguasa. Selalu mengawal proses demokratisasi untuk kemudian menjadikan bangsa ini bangsa yang makmur dan berkeadilan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*penulis adalah orang yang merumuskan dari awal konstitusi UUD &amp; UU ORMAWA 2010 IAIN RF Palembang</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alimwiltom.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alimwiltom.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alimwiltom.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alimwiltom.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alimwiltom.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alimwiltom.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alimwiltom.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alimwiltom.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alimwiltom.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alimwiltom.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alimwiltom.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alimwiltom.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alimwiltom.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alimwiltom.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=276&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/08/09/memahami-lebih-dalam-peran-konstitusi-kemahasiswaan-studi-analisis-kampus-iain-raden-fatah-palembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-0.789275 113.921327</georss:point>
		<geo:lat>-0.789275</geo:lat>
		<geo:long>113.921327</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb4a355965475fd94da51feba9981762?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alimwiltom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alimwiltom.files.wordpress.com/2011/08/mari-membaca-3.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">mari membaca 3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Kucing &#8211; kucing yang lucu  (Mozaik 5)</title>
		<link>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/06/11/267/</link>
		<comments>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/06/11/267/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jun 2011 12:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alimwiltom</dc:creator>
				<category><![CDATA[goresan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alimwiltom.wordpress.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Alim M Wiltom (10 Juni 2011) Pagi ini begitu indah. Ku hirup udara yang begitu segar hingga masuk melalui hidungku, berjalan disela-sela kerongkongan, menelisik disetiap rongga-rongga membuat urat-urat syarat bereaksi, menyegarkan disetiap aliran darah, aku bisa merasakannya. Udara yang masuk bersesakan kesekujur tubuh. Mengalir dan terus mengalir&#8230; tak puas dengan udara yang kuhirup <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=267&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : <a href="http://www.facebook.com/note.php?created&amp;&amp;note_id=10150642646255094" target="_blank"><strong>Alim M Wiltom</strong></a> (10 Juni 2011)</p>
<p>Pagi ini begitu indah. Ku hirup udara yang begitu segar hingga masuk melalui hidungku, berjalan disela-sela kerongkongan, menelisik disetiap rongga-rongga membuat urat-urat syarat bereaksi, menyegarkan disetiap aliran darah, aku bisa merasakannya. Udara yang masuk bersesakan kesekujur tubuh. Mengalir dan terus mengalir&#8230;</p>
<p>tak puas dengan udara yang kuhirup di balik jendela rumah, aku mencoba untuk melangkahkan kaki ke luar mencari udara segar yang lebih banyak. Tak kupedulikan sekalipun suhunya begitu dingin menusuk-nusuk sampai ketulang, aku tetap beranjak keluar.</p>
<p>***</p>
<p>“Abi sadar kalau aku adalah istri Abi??? Pernahkah Abi berfikir dan bertanya-tanya pada diri Abi Sendiri, tentang perasaan Aku???” istriku menghardik diriku yang sedari tadi tetap diam.</p>
<p>“Aku tidak meminta banyak hal dari Abi, yang aku minta hanya kasih sayang dan perhatian dari Abi selaku suami. Itu saja, tidak lebih. Tidak rumahl mewah, tidak juga mobil mentereng. Cukup kasih sayang dan perhatian dari Abi”. Istriku melanjutkan ucapannya, terbata-bata mencoba menahan segukan tangis, membelakangiku sembari duduk di sudut kasur.</p>
<p>Aku mulai tersadarkan. Sekarang aku faham betul apa yang dimaksud istriku. Memang belakangan ini aku lebih banyak membagi waktu dengan adikku Citra, mengajaknya jalan-jalan, makan diluar rumah, berjam-jam, berhari-hari. Walaupun tak jarang aku juga mengajak istriku Winda untuk berjalan bertiga, namun karena jadwal yang padat dengan aktivitas sosialnya membuat aku sering berjalan berduaan saja dengan adik kesayanganku Citra. Menghabiskan dua per tiga hari-hari ku bersama citra. Pernah sekali waktu aku dan Citra pulang begitu larut, karena sepulang bekerja aku sengaja menyempatkan diri untuk menjemput Citra dikampus, tapi ternyata Citra mengajakku pergi menonton. Tanpa fikir panjang, aku yang sedari tadi penat dengan segala macam urusan kantor langsung mengiyakan ajakan Citra. Setelah memnghubungi isteriku Winda. Jadilah kami menonton bersama.</p>
<p>Sialnya sewaktu mau beranjak pulang, ban mobilku kempes. Sempat aku <em>merutukki </em>ban mobil yang kempes. Betapa tidak, seharusnya aku dan Citra sudah bisa sampai rumah dan memberikan <em>surprise</em> untuk isteri tercinta. Banyak sekali kami membeli oleh-oleh. Sebenarnya Citra yang memaksa untuk membeli ini, beli itu, “untuk mbak Winda nanti kak” katanya. Akupun menurut saja. Tapi hal itu sia-sia, pastilah akan terasa <em>basi </em>jadinya. Tidak menjadi <em>surprise</em> lagi. Kami pulang teramat larut. Isteriku pastilah sudah <em>terkantuk</em> dirumah, lelah menunggu kepulangan kami.</p>
<p>“wah pak bannya bocor, dua pula bocornya. Kayaknya agak lama. Kalo Bapak mau makan atau jajan,&#8230; jajan aja  dulu gak papa.” ujar mas-mas tukang tambal ban dengan logat khas Bataknya. Akhirnya kami makan dipinggir jalanan kota. Inilah yang membuat isteriku cemburu dan <em>uring-uringan</em> akhir-akhir ini.</p>
<p>“Maaf kan Aku, Mi. Aku memang salah” aku mencoba untuk meminta maaf, menyesali segala kesalahan. Tapi ia tetap saja membelakangiku. Diam.</p>
<p>***</p>
<p>Kulangkahkan kaki menyambut mentari pagi. Aroma bunga disekelilingku semakin menambah indahnya pagi ini. Kebun teh menghijau, membuat mataku yang hitam putih menjadi menghijau. begitu luas, seluas mata memandang. Membuatku semakin tidak ada alasan untuk tidak bersyukur dan memaksa berfikir bahwa diri ini begitu kecil. Dunia ini terlampau indah.</p>
<p>“miauu&#8230; miauu&#8230; miauu&#8230; miauu&#8230;” aku terusik dengan suara yang bersahut sahutan. Kepalaku <em>celingukan </em>mencari cari sumber suara. Beberapa kali aku menyingkap daun-daun teh. Dan akhirnya aku menemukan sumber suara tepat di belakangku berdiri.</p>
<p>“<em>MasyaAllah&#8230;</em>” desisku kaget.</p>
<p>“anak anak kucing&#8230; lucu sekali&#8230;” segera aku mencoba untuk meraih anak kucing dari rerimbun daun teh.</p>
<p>“ni kucing induknya kemana ya? Tega banget ninggalin anak-anaknya disini&#8230; hmm&#8230;” sembari menggendong kedua anak kucing yang lucu lucu itu aku berusaha mencari cari siapa tahu ada induknya disekeliling kebun teh.</p>
<p>“apa jangan jangan ada orang yang sengaja membuang anak anak kucing ini kesini ya???” tuduhku heran.</p>
<p>“ya sudahlah daripada ni kucing terlantarkan, lebih baik ku bawa masuk ajalah. Kasihan masih kecil-kecil.” Segera aku membawa kedua kucing masuk. Aku berniat mengurusnya. Anggap saja ini hadiah. Hadiah dari langit.<span id="more-267"></span></p>
<p>***</p>
<p><em>Untuk yang tersayang.</em></p>
<p><em>Bidardariku Winda dan Adik yang Bandel Citra.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>            Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh</em></p>
<p><em>Maaf&#8230; </em></p>
<p><em>Aku belum bisa memaafkan diri sendiri atas segala yang telah ku perbuat terhadap orang-orang yang sangat kusayangi&#8230;</em></p>
<p><em>Maaf&#8230;</em></p>
<p><em>Aku belum bisa memaafkan diri sendiri, karena telah menyakiti hati orang-orang yang aku menyayanginya melebihi rasa kasih sayang terhadap diriku sendiri&#8230;</em></p>
<p><em>Maaf&#8230;</em></p>
<p><em>Kalau ternyata diri ini terlampau jauh untuk bisa mencontoh Rasulullah yang agung, yang begitu adil dan bijaksana&#8230;</em></p>
<p><em>Maaf&#8230;</em></p>
<p><em>Jikalau ternyata diri ini begitu mengecewakan hati-hati yang lembut, hati-hati yang sedikitpun tak layak untuk disakiti bahkan tak layak walau hanya sekedar satu goresan kecil ranting&#8230;</em></p>
<p><em>Maaf&#8230;</em></p>
<p><em>Atas segala hal yang telah membuat semuanya menjadi rumit&#8230;</em></p>
<p><em>Atas segala apapun, aku tetaplah manusia yang dhoif&#8230;</em></p>
<p><em>Berikan aku waktu sejenak untuk berfikir sejenak, memuhasabah diri, sendiri menyepi&#8230;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Hamba Allah yang selalu Dzolim</em></p>
<p><em>ttd</em></p>
<p><em>Andhika</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pagi-pagi sekali aku beranjak dari tempat tidurku. Meninggalkan rumah yang telah memberi warna dalam hidup ku. Kulihat isteriku masih terlelap, mungkin karena kecapaian seharian sedu &#8211; sedan, jengkel atas sikapku. Apalagi Citra, pastilah masih pulas. Sengaja selepas sholat malam aku bergegas meninggalkan rumah, agar semuanya tidak bertanya <em>resek </em>tentang kemana aku akan pergi? Berapa lama? Dan pertanyaan semacam itu lainnya. Apalagi kalau Citra yang bertanya, pastilah akan rewel. Kulipat surat yang telah kusiapkan sedari ba’da sholat malam, dan kuletakan begitu saja surat itu di atas ranjang kami, didekat isteriku terlelap. <em>“Ummi, Citra,.. maafkan aku&#8230;” </em>aku pergi.</p>
<p>***</p>
<p>Kucoba untuk membuka &#8211; buka tas kecilku. Tapi aku tidak menemukan makanan yang pas untuk si kucing. Puas aku menggeledah tas kecil yang kubawa dari rumah sampai semua isi tas berhamburan di atas lantai. Tetap saja. Nihil. Aku kebingungan, karena memang dari rumah tidak ada rencana sama sekali untuk memelihara kucing, dua ekor pula. Jadi tak ada yang bisa kuberikan untuk si kucing. Kucoba untuk mengingat ingat kembali, siapa tahu ada sesuatu yang bisa diberikan.</p>
<p>“eh, tunggu dulu..” aku mendapatkan ide.</p>
<p>“roti.  ya roti&#8230;” aku mengingat sesuatu. Satu bungkus roti isi. Roti yang tidak sengaja aku beli di terminal pagi tadi. Pukul 05.00. Sebenarnya aku tidak lapar. Hanya iseng saja membeli roti, masalahnya penjaja roti <em>resek </em>didepanku sewaktu mobil masih nge<em>team </em>ditermianal kota. Akhirnya penjaja roti berhasil menyulap seleraku, dari yang tidak mau beli roti sampai akhirnya aku beli roti. Bukan karena lapar atau kepingin. Tapi karena jengkel. Kubeli satu bungkus saja. Hanya satu bungkus. Sebagai syarat untuk mengusir halus penjaja roti dari hadapanku.</p>
<p>Kuperiksa saku jaketku. “<em>Alhamdulillah </em>masih ada. Hmm&#8230; ternyata berguna juga ni roti”.</p>
<p>Langsung kupotong rotinya satu cubitan satu cubitan. Kucing &#8211; kucingpunpun dengan lahab memakan roti yang kuberikan. Tidak sabaran. Badannya bergoyang goyang mengimbangi mulutnya yang sedang menguyah ekstra cepat cubitan &#8211; cubitan roti. Ekornya goyang-goyang. Kanan, kiri. Lucu sekali melihat kedua kucing ini yang begitu lahab menyantap roti. Kuperhatikan satu persatu kucingnya. Satu berwarna putih bercorak kuning. Yang satunya putih bercorak kuning hitam.</p>
<p>Asyik memperhatikan kucing kucingnya, tiba tiba&#8230; “grrhh&#8230;.mmmng&#8230; mmmeong&#8230;.” kucing-kucingnya mulai bertengkar. Keduanya mengeram. Takut jatah masing &#8211; masing direbut satu sama lain. Padahal aku telah membagi rata roti &#8211; rotinya. Hanya saja kucing yang berwarna putih kuning lebih cepat memakan rotinya ketimbang kucing yang satunya.</p>
<p>Percuma melerai. Tetap saja mereka mengeram. Dan daripada ribet, lebih baik kupisahkan saja kucing &#8211; kucing ini. Yang satu kupindahkan di pojok rumah sebelah kanan. Yang satu kupindahkan di pojok rumah sebelah kiri. Beserta rotinya. Supaya mereka tidak saling ganggu. “hmm.. dasar, kucing kucing yang merepotkan.”</p>
<p>Belum juga sehari aku sampai di Villa ini. Aku sudah direpotkan oleh kedua kucing yang ketemukan di halaman rumah.</p>
<p>Direpotkan oleh kucing &#8211; kucing baruku.</p>
<p>Setelah kurang lebih kurang dua jam Aku memutuskan untuk bersih – bersih badan. Mandi. Supaya lebih <em>fresh</em>.</p>
<p>***</p>
<p>“ya ampun&#8230;. dasar kucing – kucing bandel!!!” keluhku kesal.</p>
<p>“masa’ buang kotoran sembarangan, ya di teras, ya di sofa&#8230; Hhhh&#8230;” aku semakin kesal.</p>
<p>“miau&#8230; miau.. miau&#8230;” balas kucing yang berlarian kearahku. Menantap seakan meminta – minta sesuatu. Entah apa maksudnya aku juga tidak faham betul.</p>
<p>“apalagi???! Mau makan? Minum? Atau???&#8230; Buang kotoran lagi???” hardikku kembali. Semakin kesal dengan tingkah kucing &#8211; kucing itu. Betapa tidak, akibat ulah kucing-kucing yang nakal. Aku harus bersabar mencuci bagian rumah yang terimbas  kotoran mereka. <em>Harus lebih bersabar.</em></p>
<p>***</p>
<p>“ini kembaliannya dik”.</p>
<p>“oh ya, terimakasih Bu”.</p>
<p>“sama – sama&#8230;”.</p>
<p>Aku memutuskan untuk masak sendiri hari ini. Seadanya. Tahu, tempe dan sayur kangkung. Sebenarnya ini mengulang kebiasaanku dulu. Sewaktu masih menjadi mahasiswa. Kalau Cuma masak yang beginian aku bisa. Tapi kalau yang sudah rumit dengan bumbu – bumbunya, aku menyerah. Aku memang sengaja untuk menjadi anak kost. Mencoba mandiri dan <em>survive. </em>Susah, senang harus bisa kuatasi dengan caraku. Tidak merengek. Tidak juga manja. Disamping juga kampusku jauh. Harus melalui beberapa provinsi. Tidak terbayang berapa uang yang akan aku habiskan seandainya aku <em>kekeh </em>pulang pergi naik pesawat setiap harinya.</p>
<p>“tahu,.. tempe,.. sayur kangkung,.. bawang merah,.. bawang putih,.. tomat,.. cabe merah,.. garam,.. gula,&#8230; hmm&#8230;. apalagi ya yang kurang???” terdiam sambil berfikir. Mengeja satu persatu daftar belanja dalam otak. Membolak balik memori.</p>
<p>“oh iya, ikan.!” Seruku mendapatkan ide.</p>
<p>“ikan??.. maksudku ikan asin. Ehehe..” tertawa dalam hati. Lucu. Ikan? Mana mungkin aku membeli ikan. Itu pasti akan boros sekali. Lagian aku belum tahu pasti berapa hari akan menetap di Villa ini. Sedangkan uang yang ku bawa, seadanya. Tak mungkin menggunakan <em>creadit card. </em>Ini kugunakan hanya untuk urusan tertentu saja. Bukan untuk pribadi.</p>
<p>“iya ikan asin. yah, lumayanlah. Semoga saja kucing – kucingku bisa menerima.” Tukasku. Ikan asin ini sengaja kubeli untuk peliharaan baruku. Karena setahuku, kucing suka dengan ikan. Kalau untuk tempe atau tahu, kemungkinan besar mereka akan menolak. Tidak mau makan. <em>Harus bisa mengerti dan memikirkan untuk mereka.</em></p>
<p>***</p>
<p>“pus,.. pus,.. pus,.. cckcckcck&#8230;”</p>
<p>“miau&#8230; miau&#8230; miau&#8230; miau&#8230;” tetap tidak mau.</p>
<p>“pussi.. pussi.. cckcckcckcck..”</p>
<p>“miauuuuuuuu&#8230;..” nampaknya mereka tidak mau. Tidak mungkin malu – malu. Walaupun ada istilah <em>malu – malu kucing. </em></p>
<p>Tetap saja kucing – kucingnya merengek di depanku. Mengganggu aku yang sudah mau mulai menyantap masakan kesukaanku. Tahu – tempe – Kangkung. Tak kuhiraukan. Tetap saja aku lahab. Walaupun sedikit <em>risih. </em>Kutinggalkan kedua kucingku didalam rumah. Tak lupa menutup rapat pintu. Sedangkan aku asyik makan di teras rumah, sembari menikmati pemandangan nan indah. Semakin menambah klasiknya suasana pedesaan.</p>
<p>Tak lama kemudian, aku tak mendengar lagi rengekkan kucing-kucingku yang nakal. Diam. Dan makanku pun usai.</p>
<p>Saat ku cek didalam. “hmm&#8230;” aku tersenyum simpul. Bangga. Akhirnya kucing-kucingku mulai memakan bagian mereka.</p>
<p><em>Untuk sesuatu yang baik. Butuh sedikit pemaksaan.</em></p>
<p>***</p>
<p>Aku lupa sesuatu hal. Aku melupakan hal yang seharusnya kusadari pertama kali. Aku belum memandikan kucing. Pantas saja bau nya agak pesing.</p>
<p>Hari ini giliranku untuk memandikan mereka. Membersihkan mereka. Agar semakin lucu dan yang pastinya wangi.</p>
<p>Pukul 11.30. “Byurr&#8230; Byurr.. kecipak, kecipak&#8230; Byurr&#8230;”</p>
<p>“Mmmmeaauuuuu&#8230;”</p>
<p>“eh mau lari kemana, ni urusan belum selesai&#8230;.”</p>
<p>“Mmmmiiiiiiiaauuuuuuu&#8230;.. meau&#8230;” ternyata memandikan kucing tidak semudah yang kufikirkan. Butuh ketelatenan dan trik. Cakaran, hal yang biasa diterima untuk pemula sepertiku. Meronta – ronta. Suara yang melengking. Semuanya tidak dapat dilalui dengan emosional. Butuh kesabaran yang lebih dari sekedar kata sabar itu sendiri. Bijaksana. Ya, bijaksana.</p>
<p><em>Harus bisa mengosongkan gelas hati kita yang penuh.</em></p>
<p>***</p>
<p>“kardus fix, lubangnya pas&#8230; semoga mereka nyaman&#8230;” Aku berniat membawa kedua kucing ini kerumah. Semoga menjadi hadiah yang menarik untuk Isteriku Winda dan Adikku Citra. Akan kuceritakan semua.</p>
<p>Hari ini aku memutuskan pulang. Setelah tiga hari asyik dengan kucing – kucing yang lucu ini. Nampaknya tiga hari sudah cukup bagiku untuk bisa mengambil sikap. Lebih tenang. Lebih ringan. Setidaknya ada banyak hal yang dapat kuambil pelajaran. Tidak mudah menjadi lebih baik. Semuanya kupelajari dari kejadian tiga hari terakhir, bersama kedua peliharaanku. Belajar dari kucing – kucing yang lucu. Aku pulang.</p>
<p>***</p>
<p><a title="mozaik 4" href="http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/13/mozaik-4-tak-ada-yang-bisa-kukatakan-aku-sayang-kamu%E2%80%A6-bag-2/" target="_blank"><strong>&lt;&lt;&lt; cerita sebelumnya : (mozaik 4) tak ada yang bisa kukatakan, aku sayang kamu… bag.2</strong></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alimwiltom.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alimwiltom.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alimwiltom.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alimwiltom.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alimwiltom.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alimwiltom.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alimwiltom.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alimwiltom.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alimwiltom.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alimwiltom.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alimwiltom.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alimwiltom.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alimwiltom.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alimwiltom.wordpress.com/267/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=267&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/06/11/267/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-0.789275 113.921327</georss:point>
		<geo:lat>-0.789275</geo:lat>
		<geo:long>113.921327</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb4a355965475fd94da51feba9981762?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alimwiltom</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(Mozaik 4) tak ada yang bisa kukatakan, aku sayang kamu… bag.2</title>
		<link>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/13/mozaik-4-tak-ada-yang-bisa-kukatakan-aku-sayang-kamu%e2%80%a6-bag-2/</link>
		<comments>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/13/mozaik-4-tak-ada-yang-bisa-kukatakan-aku-sayang-kamu%e2%80%a6-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 May 2011 06:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alimwiltom</dc:creator>
				<category><![CDATA[goresan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alimwiltom.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Alim M Wiltom Hari ini kembali aku dengan rutinitas baru. Mengantar istri tercinta dalam setiap aktivitasnya. Termasuk mengantar ke panti. Seperti biasa. “hati-hati ya mi. salam buat anak-anak disana.” “iya bi, InsyaAllah... Abi juga kudu hati-hati” Ku kecup kening istriku dengan kecupan lembut seraya  berbisik “Aku sayang kamu, bidardariku&#8230;”. dengan sebelumnya ia mengecup <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=263&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : <a title="(Mozaik 4) tak ada yang bisa kukatakan, aku sayang kamu… bag.2" href="http://www.facebook.com/note.php?saved&amp;&amp;note_id=10150591673610094#!/note.php?note_id=10150591673610094" target="_blank">Alim M Wiltom</a></strong></p>
<p>Hari ini kembali aku dengan rutinitas baru. Mengantar istri tercinta dalam setiap aktivitasnya. Termasuk mengantar ke panti. Seperti biasa.</p>
<p>“hati-hati ya mi. salam buat anak-anak disana.”</p>
<p>“iya bi, <em>InsyaAllah..</em>. Abi juga kudu hati-hati”</p>
<p>Ku kecup kening istriku dengan kecupan lembut seraya  berbisik <em>“Aku sayang kamu, bidardariku&#8230;”.</em> dengan sebelumnya ia mengecup tanganku. Tidak akan pernah akan kulewatkan rutinitas ini, karena ini adalah peristiwa yang kutungggu-tunggu setiap harinya. Memanjakan sang bidardari.</p>
<p>Lagi pula ini adalah cara terampuhku. Cara terampuhku membuatnya tersipu malu dengan muka memerah. Terus salah tingkah. Dan juga biasanya setelah prosesi itu berlangsung, ia begitu semangat dengan memasang <em>tensi </em>sangat tinggi. Lebih tinggi daripada tensi ketika pak Presiden memarahi para bawahannya. Alhasil, semua aktivitas dikerjakan dengan hasil yang maksimal…</p>
<p>Kujalankan mobil merahku. Istriku tetap berada disana, memandangiku yang sudah mulai beranjak pergi. Memastikan kepergianku dengan selamat. Setidaknya selamat ketika didepannya. <em>“istriku yang cantik. Bidardariku yang manis,… aku sayang kamu umi… beruntung aku mendapatkan pendamping yang begitu menyayangi, perhatian, begitu mengerti…bahkan semua kata-kata terbaikpun tak cukup untuk menggambarkan luhurnya sikapmu..” </em>gumamku seraya menyetir mobil.<span id="more-263"></span></p>
<p>****</p>
<p>“citra???”</p>
<p>“kamu gak kekampus hari ini??”</p>
<p>sapaku heran. Melihat adik kesayangan tetap betah dengan mushabnya di ruang tamu. Tanpa menghiraukan sedikitpun. Memang sebelum berangkat ke panti, setelah sarapan., ia langsung duduk di ruang tamu dengan membawa mushab coklatnya. Meninggalkan kami berdua dimeja makan. Membolak-balik mushabnya. Sekali-kali terlihat ia menyalakan <em>televisi </em>, entah apa yang sedang di tontonnya. Kartunn, berita, gossip, musik, atau apalah aku tak tahu. Mungkin saja hanya sekedar <em>merefresh </em>mata agar tidak mengantuk.</p>
<p>“kok ditanya, diem aja. Kamu sakit? tukasku.</p>
<p>“lha, kakak ngapain gak kekantor?! Kakak sakit???!” sindirnya ketus.</p>
<p>“tadi kakak bingung, mau kekantor atau gak. Berhubung di kantor juga pekerjaan sudah beres semua, kakak memutuskan untuk pulang” jawabku sabar.</p>
<p>“aku lagi males kekampus.gak ada kerjaan!” Ketusnya lagi tanpa menghiraukan penjelasanku.</p>
<p>“o gitu ya…”.</p>
<p>Aku semakin kesal dibuatnya. Sikap dingin itu kembali muncul, setelah kejadian beberapa minggu lalu. Sikap dingin yang membuat <em>mati gaya </em>yang  hampir membunuh perasaanku. Sikap dingin yang mendiamkanku selama dua hari. Hanya dua hari saja. Tak lebih tak kurang. Namun dua hari itu begitu suram. Begitu mencekam.</p>
<p>“hari ini kakak lagi kosong, citra temenin kakak jalan-jalan ya. Udah lama gak jalan-jalan sama citra. Kakak kangen.” Citra tetap saja diam tanpa sepatah katapun. Pura-pura tidak mendengar ajakanku. Atau mungkin memang benar-benar tidak mendengar karena begitu asyiknya dengan mushab coklatnya.</p>
<p>“citra mau kan?” tanyaku lagi. Walaupun kini rasa kesalku sudah naik ke <em>gigi dua.</em></p>
<p>Tak berapa lama kemudian sebelum aku melanjutkan dengan permintaan selanjutnya, citra menganggukan kepalanya dengan pelan setengah ragu. Mungkin ia terpaksa atau kasihan dengan ajakanku yang sedikit memaksa itu.</p>
<p>“ya udah, sekarang citra siap-siap. Kalo emang udah siap kita segera berangkat sekarang.”</p>
<p>Kembali anggukan citra semakin melamban sembari menutup mushab coklatnya. Nampaknya setengah hati.</p>
<p>***</p>
<p>Terik matahari pagi menyinari bunga-bunga yang sedang bermekaran. Ikhlas memancarkan sinarnya membantu pertumbuhan bunga yang begitu indah. Tak pernah kita berfikir mengapa matahari begitu baik dan perhatiannya terhadap bunga-bunga. Setiap hari memancarkan sinar tanpa berharap akan balas budi sang bunga. Begitu menakjubkan. Padahal kalau matahari ingin marah, ia layak untuk marah. Betapa tidak, apa yang ia dapatkan dari sekuntum bunga? Tak sedikitpun. Namun demikian, ia tetap ikhlas menyinari setiap hari tanpa lelah. Tanpa keluh kesah.</p>
<p>Hari ini bunga-bunga menghiasi taman kota. Warna-warni dengan berbagai coraknya. Merah, kuning, ungu, putih, <em>pink,..</em> menambah keindahan taman kota yang memang telah indah dengan penataannya. Kursi-kursi tersusun indah di beberapa titik taman. Membuat orang-orang berbondong-bondong berkunjung melepas kepenatan yang mungkin penat dengan aktivitas hariannya. Kantor, kampus, sekolah, aktivitas sosial, rumah tangga, bahkan ada yang lancang untuk memanfaatkan taman kota untuk sekedar pacaran. Menebar maksiat…</p>
<p>Ya pagi ini aku mengajak citra untuk menikmati keindahan taman kota.</p>
<p>Kami duduk berdua di kursi yang sedari tadi kosong. Seakan-akan kami telah memesan kursinya dari penjaga taman jauh beberapa hari sebelumnya.</p>
<p>“Tamannya indah ya cit..” ujarku basa-basi.</p>
<p>“hmm..” jawabnya singkat. Sambil memandangi sejenak keindahan taman kota.</p>
<p>“citra ingat sudah berapa kali kita berkunjung kesini? Tak terhitung. Ini adalah tempat terfavorit kamu kan dari kamu kecil hingga sekarang. Walaupun sebenarnya tempat favoritmu banyak sih, warung bakso, toko roti, toko <em>ice cream, </em>bioskop, mall…haha” aku tertawa menghibur.</p>
<p>Sengaja untuk mencairkan suasana, menghilangkan kekakuan. Biasanya setelah aku menggodanya, citra langsung mencubit ku tanda tidak terima dan tertawa bersama-sama setelahnya. Tapi kali ini tidak. Citra hanya melepaskan senyum sederhana. Itupun tidak lama. Hanya berapa sekian detiknya.</p>
<p>“dulu citra pernah kecebur disana kan…haha?” aku menunjuk suatu lokasi kolam taman yang dihiasi air mancur. Tempat kejadian beberapa tahun silam.</p>
<p>“lagian, dulu kamunya norak amat. Sedikit-sedikit foto, ada hal yang unik. Foto, ada <em>tourist. </em>foto, ada yg lagi rame-rame. Foto. Terus liat air mancur sedikit pasti foto. Dasar.. adik yang aneh.. hehehe” aku menggoda, tertawa-tawa sambil mengusap-usap jilbab birunya. sengaja aku mengulang kejadian-kejadian masa lalu, berusaha menghibur adikku yang tetap murung. Walaupun aku sebenarnya tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Kejadian yang membuat citra begitu <em>senewen. </em>Karena dengan kejadian itu ia basah kuyub. Muka nya memerah, malu. Buru-buru ia menyeretku memaksa pulang. Akupun memakluminya. Walaupun sudah megalami kejadian-kejadian yg membuatnya malu, tetap saja citra. Gila foto. Kalau gak foto bukan citra namanya.</p>
<p>Hening. Tetap saja hening. Citra tak bergeming sedikitpun kecuali senyum-senyum dinginnya. Senyum sederhana. Terpaksa.</p>
<p>“kakak perhatikan beberapa minggu ini citra selalu murung. Citra mau berbagi dengan kakak?” aku mulai serius dengan pertayaanku.</p>
<p>“citra, mungkin masih sedih atas kematian ibu. Kakak ngerti. Kakakpun merasa sangat sedih dan kehilangan. Kalau ada orang yang paling bertanggung jawab atas kematian ibu. Kakaklah orangnya. Kakak merasa anak yang paling durhaka di dunia  dan tak berguna..” aku menghentikan kalimatku. Menahan diri agar tidak ada satupu bulir airmata yang jatuh di pipi ku. Karena aku tak mau terlihat sedih didepan adik kesayangan.</p>
<p>Kulanjutkan kalimatku dengan hati yang bergemuruh…</p>
<p>“kakak minta maaf pada citra. Kakaklah penyebab kematian ibu. Coba seandainya kakak tidak terlambat datang ke Rumah Sakit Soecipto waktu itu. Mungkin ibu masih bisa terselamatkan. Mungkin kakak masih sempat mendonorkan darah. Kakak bersalah…”</p>
<p>“kakak bersedia mendapatkan hukuman apapun dari citra. Apapun. Tapi kakak mohon, citra tersenyum lagi.. tersenyum seperti dulu…” Kupegang erat tangan adik kesayanganku yang sedari tadi duduk tepat di sebelah kananku. Memohon agar ia tetap tersenyum seperti dulu. Namun citra tetap bungkam. Tak bergeming sedikitpun.</p>
<p>“citra merasa bahwa kakak tidak mempedulikan citra lagi??? Kakak begitu jahat bagi citra. Pasti citra merasa bahwa kakak tidak menyayangi citra lagi. Kakak berubah. Iya kan??” ekspresi citra berubah seketika mendengar pernyataanku barusan. Sedikit terkejut. Seakan ingin bertanya <em>kenapa kakak bisa menebak seperti itu?</em> .</p>
<p>“kemarin kakak tidak sengaja membuka <em>diary </em>citra. Sewaktu kakak mencari citra dikamar. Kakak melihat sebuah buku diary citra tergeletak diatas meja. Tanpa sengaja kakak membuka-bukanya. Citra menuliskan hal yang membuat kakak sangat terpukul. Disana tertulis dengan jelas:  <em>kakak sekarang tidak menyayangi citra lagi, kakak lebih asyik dengan mbak winda. Oh ibu… kenapa kau meninggalkanku sendirian disini. Tanpamu. Tanpa kakak. Aku disini bagaikan anak pungut ibu.. aku terlantarkan. Ibu jahat. Kakak jahat.” </em>Aku berusaha membaca utuh isi diary citra.</p>
<p>“citra salah besar!!!” ungkapku tegas sembari memandangi mata citra lekat-lekat. Citra-pun mengangkat mukanya. Ntah karena terkejut atau mungkin ingin marah karena aku begitu lancang membuka diary nya tanpa izin.</p>
<p>“citra salah besar, adikku..”</p>
<p>“tidak pernah sedkitpun kakak berfikir ingin mengacuhkan citra, tidak pernah kakak ingin melupakan citra.. tidak pernah. Sewaktu citra pergi keluar meninggalkan makan malam yang telah susah payah mbak winda hidangkan. Kakak lebih memilih untuk mengejar citra, meninggalkan mbak winda sendirian disana.”</p>
<p>“kakak lebih memilih citra adikku,… karena kakak tidak ingin terjadi apa-apa terhadap citra. Walaupun mungkin kakak adalah suami yang tidak bertanggung jawab. Meninggalkan isteri yang sudah bersusah payah menyediakan hidangan makan malam. Kakak tak peduli. Kakak berusaha mengejar citra yang begitu cepat meninggalkan rumah. Tanpa pamit. Namun kakak tidak menemukan sesosok citra disekeliling rumah. Kakak terlambat mengejar citra, karena harus sedikit beradu mulut dengan mbak winda. Kakak mencari citra. Namun tetap saja tidak menemukan. Hujan pun tak kakak hiraukan. Demi mencari adik kesayanganku..”</p>
<p>“citra…” aku membungkukan badan, duduk tepat berada didepan citra, tetap memegang erat tangannya. menjongkokan badan. Memohon. Selayaknya seorang pangeran yang sedang merayu kekasihnya.</p>
<p>“kakak telah kehilangan ibu tercinta&#8230; kakak tidak ngin kehilanganan adik kesayangan kakak. Kalau citra masih berfikir kakak tidak menyayangi citra, itu salah besar adikku… kakak tidak bisa hidup tanpa seorang adik yang begitu kakak sayangi sepertimu. Walaupun kau selalu manja dengan kakak.” Air matakupun tak dapat kubendung lagi. Mukaku memerah haru.</p>
<p>“tak ada yang bisa kakak katakana lagi kepada citra… kakak menyayangimu citra… sangat menyayangimu… jangan pernah membenci kakak lagi.”</p>
<p>Aku berdiri beranjak pergi meninggalkan citra, dengan isak tangis. Sedih karena tidak sedikitpun citra menghiraukan tangisanku. Kakak yang selalu menahan rasa sedih didepannya. Aku kecewa.</p>
<p>Tapi tiba-tiba, ketika aku mulai beranjak, citra meraih tanganku. Mencegat kepergianku…</p>
<p>“kakak…” ia berdiri dan menarik tanganku. Sehingga tubuhku berbalik arah menghadapnya lagi.</p>
<p>“citra sayang kakak… citra sangat menyayangi kakak. Citra gak mau kehilangan kakak…” tiba-tiba ia memeluk tubuh ku seraya menangis. Mengharu biru. Menumpahkan semuanya dalam dekapanku. Akupun menerima pasrah..</p>
<p>“jangan pernah tinggalkan citra kak.. citralah yang salah” lanjutnya.</p>
<p>Akupun berbisik..</p>
<p>“apa peru kakak ulangi kata-kata kakak tadi??&#8230; kakak sayang citra. Kakak gak bakal meninggalkan citra.”</p>
<p>“cukup kak.. citra tahu. Citra minta maaf selama ini citra salah menilai..</p>
<p>Citrapun menangis sedu-sedan tanpa henti. Menumpahkan semuanya..</p>
<p>“dasar adik yang bandel…” akupun mengusap-usap jilbab birunya yang mulai lusuh…</p>
<p>&#8220;citra kangen kakak&#8230;.&#8221;</p>
<p>****</p>
<p><a title="(mozaik 3) Apa kau masih sayang??" href="http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/11/mozaik-3-apa-kau-masih-sayang/" target="_blank"><span style="color:#ff0000;"><strong>&lt;&lt;&lt; cerita sebelumnya : (mozaik 3) Apa kau masih sayang??</strong></span></a></p>
<p style="text-align:right;"><em><strong></strong></em><a title="mozaik 5" href="http://alimwiltom.wordpress.com/2011/06/11/267/" target="_blank"><em><strong>cerita selanjutnya: (Mozaik 5) Belajar dari kucing &#8211; kucing yang lucu &gt;&gt;&gt;</strong></em><strong><em></em></strong></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alimwiltom.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alimwiltom.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alimwiltom.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alimwiltom.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alimwiltom.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alimwiltom.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alimwiltom.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alimwiltom.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alimwiltom.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alimwiltom.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alimwiltom.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alimwiltom.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alimwiltom.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alimwiltom.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=263&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/13/mozaik-4-tak-ada-yang-bisa-kukatakan-aku-sayang-kamu%e2%80%a6-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-0.789275 113.921327</georss:point>
		<geo:lat>-0.789275</geo:lat>
		<geo:long>113.921327</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb4a355965475fd94da51feba9981762?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alimwiltom</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(mozaik 3) Apa kau masih sayang??</title>
		<link>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/11/mozaik-3-apa-kau-masih-sayang/</link>
		<comments>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/11/mozaik-3-apa-kau-masih-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 03:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alimwiltom</dc:creator>
				<category><![CDATA[goresan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alimwiltom.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Susanti Eka Pratiwi Sabtu, malam minggu. Aku berdiri tegap di depan jendela kamarku, di lantai 2. Menatap gerimis di bawah sinar lampu jalanan. Cantik. ***** Kamis petang. aku meminta kakak menjemputku agak malam, karena aku harus mendampingi adik – adik angkatanku. Biasanya saat kaum adam shalat jum’at, aku dan adik-adikku mengendap – endap <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=250&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Apakah kau masih sayang padaku?" href="http://www.facebook.com/notes/susanti-eka-pratiwi/mozaik-3-apa-kau-masih-sayang/10150174538638314?ref=notif&amp;notif_t=note_tag" target="_blank"><strong>oleh : Susanti Eka Pratiwi</strong></a></p>
<p>Sabtu, malam minggu.</p>
<p>Aku berdiri tegap di depan jendela kamarku, di lantai 2. Menatap gerimis di bawah sinar lampu jalanan. Cantik.</p>
<p>*****</p>
<p>Kamis petang.</p>
<p>aku meminta kakak menjemputku agak malam, karena aku harus mendampingi adik – adik angkatanku. Biasanya saat kaum adam shalat jum’at, aku dan adik-adikku mengendap – endap di bawah tangga dekanat, melingkar dan melakukan ritual pekanan. Ngaji.</p>
<p>Tapi  jum’at pekan ini tanggal merah, dan mereka berencana untuk pulang kerumah masing – masing. Jadinya jadwal ngaji diganti hari kamis. Ba’da ashar, saat tidak ada lagi jam kuliah, sehingga tidak mengganggu amanah terbesar orang tua. 2 ½ jam dihabiskan untuk bercengkama bersama, tilawah, kultum, berbagi berita, juga mendengarkan curhat mereka. Selalu menyenangkan, mendapat banyak pelajaran dari setiap cerita.</p>
<p>Pergantian jadwal itu yang membuatku tidak bisa pulang seperti biasa. Kakak selalu menjemputku pukul 5, karena pukul 4 dia sudah keluar dari kantor. Namun hari ini aku meminta kakak menunggu sampai pukul 6 karena kemungkinan selesai ngaji pukul 6.</p>
<p>Setelah melepas kepergian adik-adik, aku mulai melakukan pekerjaan membosankan. Menunggu kakak. Aku menuju gerbang kampus, huft&#8230;. sudah mulai gelap. Lampu jalan sudah dinyalakan semua. Tapi tetap saja ramai kendaraan tidak berkurang. Bising.</p>
<p>Kutolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan, kakak belum ada. Mencari kursi jalanan. Penuh. Banyak yang masih nongkrong, tapi kulihat ada satu kursi yang kosong di seberang. Baiklah, dari pada menunggu kakak sambil berdiri, kuputuskan untuk memanfaatkan kursi yang kosong di seberang.</p>
<p>Untung saja kursi itu lumayan strategis, tepat berada di bawah lampu jalan, terang. Aku bisa sambil membaca, atau mungkin tilawah, kurang beberapa lembar untuk mencapai satu juz. Target tilawah harianku. Sudah ada bapak – bapak yang duduk di kursi itu sebelumnya, asyik dengan majalahnya, sehingga tidak melihat anggukkanku meminta izin duduk berdampingan. Kubiarkan saja.<em> Lagian bukan kursinya, bodo’ amat.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Baru satu ayat, adzan bergema. Magrib.</p>
<p><em>‘Kak, citra sholat dulu. Tunggu depan gerbang aja ya?? hehe&#8230;’ </em>kuterbangkan pesan itu pada orang yang sekarang tak tahu sedang berada dimana. Mungkin di jalan, terjebak macet.</p>
<p>Bapak – bapak di sebelahku masih asyik dengan majalahnya. Tak bergeming dengan suara adzan yang mulai memekakkan, tak jelas, tak karuan, bertabrakan dari satu mesjid dengan masjid lainnya. Kacau.</p>
<p>Aku mulai beranjak, bapak itu tetap diam. <em>Kenapa tidak bersegera untuk sholat?</em> Kubiarkan saja<em>. Bukan urusanku&#8230; bodo’!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>******</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Gerimis semakin rapat, lampu jalanan juga semakin indah di buatnya. Semua mobil yang lewat mulai menyalakan wiper untuk membersikan kaca mobil dari tetesan air langit itu.</p>
<p>Klutak klutik klutak klutik&#8230;</p>
<p>Mbak winda masih menyiapkan makan malam. kuduga kakak membantunya. Aku tidak membantu, malas bertemu mereka. orang yang tidak perduli lagi kepadaku. Bikin emosi.<span id="more-250"></span> Jadi kuketapkan untuk tetap berdiri di depan jendela kamar, melihat gerimis.</p>
<p>*******</p>
<p>Hhhh&#8230;</p>
<p>Sudah pukul 8 malam. Sebal.</p>
<p>Ku cek lagi pesan terkirim di handphone. <em>‘Kak, citra sholat dulu. Tunggu depan gerbang aja ya?? hehe&#8230;’ </em>kakak, <em>pending.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kulihat lagi inbox. ‘<em>dek, bentar ya dijemputnya, kakak nganter mbak winda ke panti, insya Alllah Cuma bentar. ^^</em>’. Huh&#8230;!! lagi – lagi mbak winda. Kenapa kakak nggak minta ke ibu atau ayah tuk belikan aku motor sih?! Dari pada menelantarkan aku sendiri. Ngedumel. Sebel.</p>
<p>Gerimis. Lampu jalanan semakin cantik.</p>
<p>Aku masih menunggu di kursi tadi. Bapak – bapak tadi juga masih duduk di sana. Bertahan dengan posisi dan majalah yang sama seperti  saat kutinggalkan ke mushola. Tetap kudiamkan. Beliau juga mendiamkan. Lagipula sekarang aku sedang sebal, semakin tidak selera menyapanya.</p>
<p>20.46 WIB.</p>
<p>semakin jengkel.</p>
<p>Kuambil lagi qur’an. meneruskan tilawah. Satu ayat. Dua ayat. Uh.. jengkel. Tiga ayat. Empat ayat. Huh. Jengkel banget. Kututup qur’anku. <em>Kakak&#8230;.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kuambil novel yang sedari tadi berputar ulang dengan Qur’an. Entah sudah berapa kali perputaran qur’an dan novel ini. Kubaca lagi. <em>Kenapa jadi tidak menarik?!</em> Lagi pula kenapa bisa lupa dengan cerita di halaman – halaman sebelumnya? <em>Uh&#8230; kakak&#8230;&#8230;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>*****</p>
<p>Bosan berdiri di depan jendela kamar.</p>
<p>Kuputuskan untuk keluar. Mengambil payung. Turun. Mengendap keluar. Kudengar kakak memanggil. Kudiamkan saja. <em>Citra keluar sebentar, assalamu’alaikum.. </em>tak ada yang menyahut. Bagaimana mungkin mereka akan menyahut? sedang aku tak bersuara. Tadi kuucap salam dalam hati.</p>
<p>Tak kuhiraukan langkah kakak mengejarku. Aku sudah terlanjur keluar.</p>
<p><em>Citra laper. Mau beli roti aja sebentar. Males makan sama kakak dan mbak winda. Masih jengkel. Maaf kakak&#8230;</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>*****</p>
<p>21. 55 WIB</p>
<p>Kukenali mobil merah yang mendekat. Aku tetap pada posisiku. Diam saja.</p>
<p>Kakak keluar dari mobil. Nyengir. Menghampiriku. Mengusap jilbabku yang Sedikit lembab tersiram gerimis. Tanda maafnya, gengsi mengucapkan.</p>
<p>Kudiamkan saja. Kutinggal masuk ke mobil. Kakak hanya diam saja. Melihatku dari belakang. Memastikan aman hingga di dalam mobil. Selanjutnya menyusulku masuk mobil, ambil kendali.</p>
<p>Kukira kakak akan minta maaf dan menjelaskan keterlambatannya, eh&#8230;. ternyata tidak ada kata maaf. aku malas bertanya. Jengkel.</p>
<p>Kulihat handphoneku. <em>‘tunggu kakak! Jangan naik taxi’</em> pesan kakak 20 menit yang lalu sebelum ia tiba. Huft&#8230; lagipula bagaimana aku bisa naik taxi. Sedang dompetku ketinggalan, tak membawa uang sepeserpun. Bahkan perutku sudah meronta dari tadi. Tak bisa membeli makanan.</p>
<p>‘ada cerita apa hari ini?’ kakak memecah keheningan.</p>
<p>Aku diam.</p>
<p>‘Hm&#8230;. mau makan dimana? Belum makan kan?’ lagi – lagi kakak bersuara.</p>
<p>Aku tetap diam. <em>Sebenarnya citra pengen bakso.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sepertinya dia mulai terganggu dengan sikapku.</p>
<p>‘Citra marah ma kakak?’ katanya memelan.</p>
<p>Diam.</p>
<p><em>Bagaimana mungkin bisa marah ma kakak. Sedang dalam lelah pun kakak tetap menjemput. Pasti kakak belum istirahat sedari tadi</em>. Tapi aku sudah terlanjur jengkel. sesak sekali. Jengkel banget. Pengen nangis.</p>
<p>Kakak mengusap jilbabku. ‘maaf ya sayang&#8230;’ katanya berbisik.</p>
<p><em>Jangan menangis citra.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Tetap diam. Aku kan sedang marah.</p>
<p>*********</p>
<p>Jum’at pagi.</p>
<p>Sarapan bersama di meja makan. Setelah kejadian semalam, aku masih memasang tampang sebal. Kakak berencana pergi dengan mbak winda, mau nonton. Heran! Kenapa mesti bercerita di depanku jika tidak berniat mengajak. Dia bahkan menuduhku akan mengganggunya pacaran jika aku ikut, membuatku semakin jengkel. Ditambah lagi, pagi itu kakak tak mau mengantarku ke kampus, menyuruhku naik angkot. akhirnya aku melakukan pekerjaan yang sudah sekian lama tak kulakukan.</p>
<p>Rumah agak jauh dari kampus, naik angkot harus transit 2 kali. Dan tahukah? 2 kali naik angkot tak berAC menuju kampus membuat jengkel pada kakak semakin meluap &#8211; luap. <em>Tuh kan.. apa kataku, setelah menikah pasti kakak nggak sayang lagi sama citra. Bilang ke ibu buat beliin motor juga nggak mau, apa sih maunya kakak. </em>Ngedumel dalam hati.</p>
<p>Aku menyerahkan ongkos dengan ketus pada supir angkot. <em>Maklum ya pak, aku sedang jengkel.</em></p>
<p>Lihat saja, akan kudiamkan kakak. Kalau memang tidak diperdulikan, tidak usah perdulikan juga. misi mendiamkan akan kujalankan. Meski akan sangat menyakitkan, akan kucari tahu, <em>masihkah kakak sayang padaku?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>******</p>
<p>20.50 WIB.</p>
<p>Hujan semakin deras, aku menunda kepulangan. Kutunggu hujan agak reda. Untung sudah kenyang, sudah makan roti. Aku beli roti ukuran jumbo,  makan di toko. Kuhabiskan sendiri. Lapar.</p>
<p>Aku berdiri di teras toko roti, memandangi hujan yang tetap deras. Tak  apa pulang agak malam. Toh! Toko rotinya dekat dengan rumah. Aku masih bisa melihat rumah dari sini. Aku berharap kakak menyusulku, memintaku untuk pulang bersama. Pasti akan segera kumaafkan. Tapi aku salah, kakak tidak datang. <em>Sepertinya memang sudah tidak perduli lagi.Hhhhh&#8230;.</em> desahku.</p>
<p>Jalanan semakin sepi, aku tetap berdiri di teras toko roti. kulihat jam di toko roti itu, huft&#8230;. sudah hampir pukul 11 malam. Kakak tak juga menyusulku. <em>Tega!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kulihat ke arah rumah, lantai 2 masih terang. Itu kamarku. Kulihat ke arah kamar kakak. Sudah gelap. <em>Jahat sekali. Bukannya menyusulku malah pergi tidur duluan</em>. Sepertinya kakak memang sudah tidak sayang lagi padaku, lebih sayang sama mbak winda. Padahal dulu kakak tak pernah membiarkan aku keluar sendiri sampai selarut ini. Ia pasti akan langsung menelpon, ngomel, menyuruhku untuk pulang segera. Tapi sekarang? Lagi pula aku sengaja meninggalkan handphone. Malas dihubungi, berharap kakak menyusul.</p>
<p>Kulihat jalanan menuju rumah. Nihil. Tak ada sosok yang kukenal. Kakak sungguh tak sayang lagi. Tidak menyusul. Padahal aku adik satu – satunya. Sudah tak dianggap. Dadaku sesak, Hampir menangis.</p>
<p>15 menit lewat dari pukul 11, aku mulai takut. Kemalamam. Hujan masih deras. Kupaksa untuk menerobos hujan. Sia – sia menunggu kakak menjemput. Dia sudah tidak sayang lagi. Takkan menjemput. mataku agak berat. Sepertinya aku tak kuat lagi menahan tangis. <em>Aku menangis.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kututup payungku, kubiarkan hujan mesra membelaiku. basah kuyup. biar air mataku tak terlihat, bergabung dengan derasnya hujan. Kudongakkan kepalaku ke langit. Hujan semakin deras menyentuh pipiku. Sakit.</p>
<p>Kakak benar- benar tega, tidak lagi mencemaskanku. Air mataku meleleh banyak, tapi tak terlihat karena siraman hujan. Namun senggukan yang kutimbulkan pasti akan membuat orang yang tidak melihat akan tahu kalau aku sedang menangis.</p>
<p>Berjalan pelan menuju gerbang rumah. Ada seseorang berjalan di belakang, tak kuhiraukan. Siapapun dia, aku tak perduli. Paling – paling tetanggaku, jikapun itu penculik, tak apa, mungkin kalau aku diculik kakak akan cemas. memberikan kembali separuh hatinya untukku, tidak seperti sekarang, yang seluruh hatinya telah diberikan pada mbak winda.</p>
<p>Aku sudah berada di depan gerbang rumah. Kamar kakak benar – benar sudah gelap. Aku berhenti. Heran! Kenapa tidak segera diculik? (masih sesenggukan, sepertinya hidungku ikut meler, entah efek nangis atau efek kehujanan). Namun, Tiba – tiba kurasakan air hujan tak lagi membasahi, ada yang meletakkan payung di atas kepalaku.</p>
<p>Kuputar kepalaku.</p>
<p><em>Kakak&#8230;.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>2 hari aku mendiamkannya, kukira dia tak lagi perduli padaku. Ternyata aku salah. Kakak memperhatikan aku sejak keluar dari rumah. Menyusulku, tidak makan malam.</p>
<p>Aku  melihatnya dengan hidung meler, masih sesenggukan. Dia tersenyum.</p>
<p>Menarik bahuku, memelukku.</p>
<p>‘jangan pernah mendiamkan kakak lagi, ini lebih ampuh untuk membunuh dari pada omelanmu, kecuali citra memang berniat mau bunuh kakak?’ katanya berbisik. Serak..</p>
<p>Kakak mengeratkan pelukannya ‘kakak sayang sama citra!’ Semakin serak.</p>
<p>Aku salah, ternyata ia masih perduli. Hujan – hujanan memperhatikan di bawah pohon samping toko roti. membiarkan aku sendiri.</p>
<p>Kerongkonganku tercekat. Aku tak bisa berkata lagi. Tangisku membuncah.Semakin sesenggukan. Semakin meler.</p>
<p>***</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><em><strong><a title="(mozaik 2) tak ada yang bisa kukatakan, Aku Menyayangimu... Bag.1" href="http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/08/tak-ada-yang-bisa-kukatakan-aku-menyayangimu-bag-1/" target="_blank"><span style="color:#ff0000;">&lt;&lt;&lt;&lt; Cerita sebelumnya : (Mozaik 2) tak ada yang bisa kukatakan, Aku Menyayangimu&#8230; Bag.1</span></a></strong></em></span></p>
<p style="text-align:right;"><a title="(Mozaik 4) tak ada yang bisa kukatakan, aku sayang kamu… bag.2" href="http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/13/mozaik-4-tak-ada-yang-bisa-kukatakan-aku-sayang-kamu%E2%80%A6-bag-2/" target="_blank"><span style="color:#008000;"><strong>Cerita selanjutnya : (Mozaik 4) tak ada yang bisa kukatakan, aku sayang kamu… bag</strong></span> &gt;&gt;&gt;</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alimwiltom.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alimwiltom.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alimwiltom.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alimwiltom.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alimwiltom.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alimwiltom.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alimwiltom.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alimwiltom.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alimwiltom.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alimwiltom.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alimwiltom.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alimwiltom.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alimwiltom.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alimwiltom.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=250&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/11/mozaik-3-apa-kau-masih-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-0.789275 113.921327</georss:point>
		<geo:lat>-0.789275</geo:lat>
		<geo:long>113.921327</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb4a355965475fd94da51feba9981762?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alimwiltom</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(Mozaik 2) tak ada yang bisa kukatakan, Aku Menyayangimu&#8230; Bag.1</title>
		<link>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/08/tak-ada-yang-bisa-kukatakan-aku-menyayangimu-bag-1/</link>
		<comments>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/08/tak-ada-yang-bisa-kukatakan-aku-menyayangimu-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 May 2011 05:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alimwiltom</dc:creator>
				<category><![CDATA[goresan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alimwiltom.wordpress.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Alim M Wiltom Hhhh… hari ini begitu melelahkan. hari yang paling mendebarkan disepanjang sejarah hidupku&#8230; aku sangat kecapaian. Punggungku rasanya seakan mau patah. kurebahkan tubuh ku diatas kasur yang begitu empuk bertabur bunga. kuperhatikan satupersatu hiasan kamar yang berjuntai indah. Hiasan yang menghiasi sudut-sudut kamar. kamar ini beda, sangat beda. setidaknya beda dari seminggu <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=237&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: <a title="on facebook : tak ada yang bisa kukatakan, Aku Menyayangimu... Bag.1" href="http://www.facebook.com/notes/alim-m-wiltom/tak-ada-yang-bisa-kukatakan-aku-menyayangimu-bag1/10150581518665094?ref=notif&amp;notif_t=note_comment" target="_blank">Alim M Wiltom</a></p>
<p>Hhhh…</p>
<p>hari ini begitu melelahkan. hari yang paling mendebarkan disepanjang sejarah hidupku&#8230;</p>
<p>aku sangat kecapaian. Punggungku rasanya seakan mau patah.</p>
<p>kurebahkan tubuh ku diatas kasur yang begitu empuk bertabur bunga. kuperhatikan satupersatu hiasan kamar yang berjuntai indah. Hiasan yang menghiasi sudut-sudut kamar. kamar ini beda, sangat beda. setidaknya beda dari seminggu yang lalu. ya mungkin karena hari ini adalah hari spesialku.</p>
<p>“akhirnya hari ini berlalu juga, Alhamdulillha” gumamku dalam hati.</p>
<p>&#8220;drrrt drrrrrt drrrrtt…&#8221;</p>
<p>&#8220;drrrt drrrrrt drrrrtt…&#8221;</p>
<p>&#8220;astaghfirullahaladzim&#8230;&#8221; aku terbangun dalam lamunan panjang. Mengindera sesuatu.</p>
<p>“Handpone ku!!!”</p>
<p>mataku tertuju pada handphone yang terletak di atas meja dekat ranjang kamarku. handphone yang sedari tadi menemani meja kayu ini sengaja ku silent kan, agar fokus dalam upacara sakralku.</p>
<p>&#8220;drrtt drrrttt drrt&#8230;&#8221; getar handphone pun terus berlanjut…</p>
<p>segera dengan gesit ku ambil handphone yang telah lama menari-nari diatas meja ini. tak kalah gesitnya dengan jurus-jurus Bruce lee..</p>
<p><em>&#8220;Barokallahu laka wa baroka a&#8217;laika Wajamaabaina kuma fii khoiri&#8230;&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;selamat saudaraku, sekarang islammu sudah utuh..&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;hati-hati akh, ente harus menyiapkan stamina. jangan panik&#8230; hahaha&#8221;</em></p>
<p>kubaca satupersatu pesan singkat di handphone ku&#8230;<em> </em></p>
<p><em> </em>&#8220;dasar teman-teman yang aneh&#8230;<em>&#8221; </em>gumamku gusar&#8230;</p>
<p>“bisa-bisanya ngerjain orang..”</p>
<p>&#8220;tapi bener juga ya??? jangan panik. hmm&#8230;&#8221; aku tertawa licik dalam hati.<span id="more-237"></span></p>
<p>Tak mungkin kujawab satupersatu pesan singkat itu. begitu banyak pesan singkat yang masuk dalam inbox handphoneku hari ini. dari ucapan selamat sampai hal-hal yang tidak pentingpun masuk dalam inbox handphone ku. walaupun sebenarnya aku juga suka dikerjain begitu.. hehe.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;bi, bi, abi.. bangun, bangun,  udah waktu ashar nih, bangun…&#8221;</p>
<p>&#8220;ho ohh&#8230;.&#8221; aku menguap panjang setengah sadar. Kubuka perlahan mata satu persatu. Tapi tiba-tiba. mataku terbelalak.</p>
<p>&#8220;ha???&#8221;</p>
<p>aku terkejut bukan kepalang, siapapula wanita berjilbab panjang ini. kok tiba-tiba muncul di kamar ku ini. Otakku bekerja super cepat, mengingat-ingat apa yang telah terjadi hari ini. Maklum IQ ku tidak terlalu tinggi, sehigga untuk mengingat sesuatu  butuh proses yang panjang bagiku…</p>
<p>&#8220;astaghfirullahaladzim, i i iya.. mi. Abi bangun&#8221; jawabku.</p>
<p>Mi?? Bi??? gumamku heran. sejak kapan kami menyepakati panggilan ini. Abi-Umi. Semua terucap begitu saja. Refleks. hmm.. ada-ada saja.</p>
<p>ialah wanita yang kulihat ditaman bersama adik kesayanganku. wanita yang kuperjuangkan, aku tak peduli apakah ia suka atau tidak terhadapku, yang jelas kecenderungan hati ini telah mantap untuk segera meminangnya. dan hari ini wanita itu resmi menjadi bidardari dalam kehidupanku. hari ini menjadi saksi&#8230;</p>
<p>&#8220;yuk berjamaah&#8230;&#8221; suara lembut itu kembali memenuhi ruang hati ini. membuat jantung dag dig dug bukan kepalang.</p>
<p>&#8220;Umi udah wudhu..?&#8221; tanyaku ringan. ini trik ku supaya tidak terlihat gugup dan kaku didepannya. hanya basa-basi.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah udah&#8230;&#8221; jawabnya.</p>
<p>&#8220;udah Abi buruan Wudhu, trus kita berjamaah. bidardarimu ini sudah nggak sabar diimami sang pangeran&#8230;&#8221; goda nya..</p>
<p>&#8220;he he..&#8221; aku nyengir dg kikuk. bidadrdari?, ternyata istriku ini mesrah juga ya. Tepatnya genit.</p>
<p>aku beranjak dari tempat tidur, segera mengambil wudhu dan langsung mengimami sang bidardari tercantik yang pernah kumiliki&#8230;.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;Assalamualaikum warrahmatullah&#8230;. Assalamualaikum warrahmatullah&#8230;&#8221;</p>
<p>setelah berdoa, segera kuhadapkan mukaku kebelakang. sambil menjulurkan tangan pada sang bidardari. Berharap ia menerima dg bersalaman layaknya seorang imam kepada makmumnya. Sengaja kupandang pekat-pekat mata yang cantik jelita itu, membuatnya tersipu malu. Tiba-tiba dengan sigap ia ingin menyambar tanganku untuk bersalaman..</p>
<p>&#8220;eits..&#8221; buru-buru aku menarik tangan. ia terkejut heran.</p>
<p>“lho kok?” gumamnya heran.</p>
<p>&#8220;kita kan bukan muhrim.. hehe&#8221; goda ku&#8230;</p>
<p>&#8220;Abi lupa? kan udah, tadi pagi Abi mengucapkan kalimat sakti. dengan begitu aku telah menjadi halal bagi Abi&#8230;&#8221; jawabnya lincah sambil tertawa mengejek..</p>
<p>kamipun tertawa bersama dengan begitu riang di ruangan  6&#215;6 meter ini.. begitu mesrah&#8230;..</p>
<p>***</p>
<p>hari ini aku beraktifitas seperti biasanya, kekantor menjalankan anak perusahaan milik Ayah dan seperti biasanya pula sebelum sampai kekantor, aku mengantar adik kesayanganku ke kampusnya&#8230; lumayan jauh tempatnya. sehingga untuk naik angkot butuh transit sampai dua kali.</p>
<p>&#8220;belakangan ini kamu kok murung terus cit?&#8221; aku mencoba memecahkan kebisuan sepanjang perjalanan kepada adikku. memang setelah aku menikah, adikku sering murung di rumah. Entah kenapa aku tidak tahu.</p>
<p>&#8220;cit, kamu baik-baik saja kan?&#8221; tegasku melihat adiku yang masih saja membisu..</p>
<p>&#8220;gak kok. aku baik-baik saja kak&#8221; jawabnya singkat.</p>
<p>&#8220;yakin?&#8221;</p>
<p>&#8220;ya, yakin InsyaAllah&#8221;</p>
<p>&#8220;ya syukurlah kalo begitu&#8221; kamipun meneruskan perjalanan dengan keheningan. tanpa suara, tanpa canda seperti biasa.</p>
<p>sebelum aku menikah hari-hariku ya seperti ini, mengantar adik kesayangan. biasanya ia selalu menggodaku, bercanda, tertawa lepas.. tapi hari ini.. keakraban itu hilang&#8230;</p>
<p>&#8220;kak, aku boleh tanya??&#8221; tiba-tiba adikku bicara disela-sela keheningan.</p>
<p>&#8220;oh. ya, boleh. mau tanya apa cit?&#8221; jawabku santai.</p>
<p>&#8220;anu ka.. eh.. itu..&#8221; ia menghentikan kata-katanya.</p>
<p>&#8220;apa? kok kamu kayak orang bingung gitu? gak biasanya??&#8221;</p>
<p>&#8220;ini kak, aku masih ga dibolehin beli motor ya sama ibu??&#8221;</p>
<p>&#8220;lho kok nanyanya gitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;habis setiap hari kakak harus nganter aku mulu, aku kasihan dg kakak. kalo ada motor kan enak, aku bisa pergi-pulang sendiri. gak mesti dianter kakak&#8221; rewelnya keluar.</p>
<p>“boleh dong kak.. kakak kan bisa bilang sama ibu. Kalo kakak yang bilang. Ibu pasti ngizinin..” sambungnya manja.</p>
<p>&#8220;dasar, bandel..&#8221; ujarku sambil mengusap2 jilbabnya..</p>
<p>memang adiku selalu menanyakan hal itu. menanyakan hal yang sama sebelum-sebelumnya. minta diizinin beli dan bawa motor. Ibu gak pernah izinin adiku bawa motor, persisnya semenjak kecelakaan bermotor 3 tahun yang lalu. yah motornya sih lumayan hancur. untung saja adikku gak kenapa-napa. walaupun sempat opname di rumah sakit selama 3 hari. Itu membuat sesiai rumah cemas bukan main. Ibu sampai menangis melihat kejadian waktu itu. Ayah marah-marah. “ kenapa gak dijaga,, kamukan kakaknya? Seharusnya kamu perhatikan adikmu,.. bla bla bla…”dan mulai hari itu ibu menegaskan kepadaku sebagai kakak satu-satunya untuk menjaga citra dan mengawasi agar ia tidak bawa motor&#8230;</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;gimana mi? jadi mau nonton hari ini?&#8221; tanyaku di ruang makan.</p>
<p>&#8220;kalo umi, ikut apa kata abi ajalah..&#8221;</p>
<p>&#8220;ya udah kalo gitu, sudah sarapan umi siap-siap. kita langsung berangkat&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku gak diajak ya kak?&#8221; sela adikku manja.</p>
<p>&#8220;gak boleh, kamu kan masih kecil&#8221; jawabku sedikit menyindir.</p>
<p>&#8220;lagian, masa mau ganggu orang pacaran?&#8221; sambungku.</p>
<p>&#8220;Uhh dasar&#8230; menyebalkan..&#8221; keluhnya.</p>
<p>“ya udah aku kekampus aja kalo gitu. yang anter siapa?” rengeknya.</p>
<p>“hhmm.. kayaknya mulai hari ini kamu harus membiasakan diri naik angkot ya cit.” tegasku.</p>
<p>“tuh kan jahat… udah gak diajak nonton, trus disuruh naik angkot  pula” rengeknya kembali.</p>
<p>“ya udah pergi aja sono, aku mau ke kampus. Assalamualaikum!!!…” citra langsung meninggalkan meja makan dengan wajah kusam membuat kami bingung.</p>
<p>“wa….. alaikum sa…lam…”.</p>
<p>***</p>
<p>“hallo, Abi? Abi dimana? Ditunggu di ruang UGD Rumah Sakit dr.Soecipto sekarang! Disini dibutuhkan golongan darah A&#8230;” tutt…tutt…tutt..tutt…</p>
<p>“halo.. halo… halo…!!!?” handphone tiba-tiba saja dimatikan. Ku coba tuk menghubungi balik.</p>
<p>…“<em>nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada dalam luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi” </em>…</p>
<p>“Astaghfirullahaladzim… semoga tidak terjadi apa-apa??”</p>
<p>Tanpa fikir panjang, Segera kupacu mobilku menuju ruang UGD Rumah Sakit dr.Soecipto…</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong><a title="cerita sebelumnya" href="http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/08/nobody-like-you/" target="_blank"><span style="color:#ff0000;">&lt;&lt;&lt; cerita Sebelumnya : (Mozaik 1) No Body Like You!!!</span></a></strong></span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#008000;"><strong><a title="(mozaik 3) apa kau masih sayang??" href="http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/11/mozaik-3-apa-kau-masih-sayang/" target="_blank"><span style="color:#008000;">cerita selanjutnya: (Mozaik 3) Apa kau masih sayang?? &gt;&gt;&gt;</span></a></strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alimwiltom.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alimwiltom.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alimwiltom.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alimwiltom.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alimwiltom.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alimwiltom.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alimwiltom.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alimwiltom.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alimwiltom.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alimwiltom.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alimwiltom.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alimwiltom.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alimwiltom.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alimwiltom.wordpress.com/237/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=237&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/08/tak-ada-yang-bisa-kukatakan-aku-menyayangimu-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		<georss:point>-0.789275 113.921327</georss:point>
		<geo:lat>-0.789275</geo:lat>
		<geo:long>113.921327</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb4a355965475fd94da51feba9981762?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alimwiltom</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(Mozaik 1) Nobody like you !!</title>
		<link>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/08/nobody-like-you/</link>
		<comments>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/08/nobody-like-you/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 May 2011 04:57:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alimwiltom</dc:creator>
				<category><![CDATA[goresan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alimwiltom.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Susanti Eka Pratiwi Begitu banyak hiasan berjuntai di atap kamar itu. menjulur bermeter – meter sutera menutupi temboknya, hingga tak ada sedikitpun celah tuk memperlihatkan pudarnya cat tembok yang sudah 10 tahun tak diganti. Ditambah rangkaian bunga di beberapa titik, membuatnya semakin indah. Kamar itu benar – benar berhasil disulap menjadi ruangan bidadari dalam <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=232&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>oleh: <a title="no body like you!" href="http://www.facebook.com/notes/susanti-eka-pratiwi/nobody-like-you-/10150169776333314" target="_blank">Susanti Eka Pratiwi </a></h3>
<p>Begitu banyak hiasan berjuntai di atap kamar itu. menjulur bermeter – meter sutera menutupi temboknya, hingga tak ada sedikitpun celah tuk memperlihatkan pudarnya cat tembok yang sudah 10 tahun tak diganti. Ditambah rangkaian bunga di beberapa titik, membuatnya semakin indah. Kamar itu benar – benar berhasil disulap menjadi ruangan bidadari dalam semalam, tapi aku takut melihatnya, aku takut melalui hari – hari setelahnya.</p>
<p>******</p>
<p>“Kak, duren&#8230;.” rengekku padanya setiap kali harum buah itu menggodaku. Selalu saja manja di depannya. Seorang laki – laki semampai yang selalu mengusap jilbabku saat aku rewel di dekatnya. Dia kakakku satu – satunya, kami sangat dekat, bagaimana mungkin hubungan kami tak dekat sedang setiap hari dia selalu ada untukku, dia yang selalu setia mendampingiku.</p>
<p>Ayah dan ibu selalu asyik dengan bisnisnya di Jerman, Hongkong, Sidney atau mana lagilah. Aku sampai tak hafal, selalu berpindah. Efeknya aku tak begitu dekat dengan mereka. Tapi dengan kakakku, setiap cerita di hari – hariku selalu terbagi dengannya. Dia segalanya untukku, entah akan seperti apa hidupku tanpanya.</p>
<p>Apapun pintaku selalu saja diusahakan. Alhasil, terciptalah aku yang sering bergantung padanya. Sedikit – sedikit kakak&#8230; rada susah dikit, kakak&#8230;kerepotan, kakak&#8230; sedih, kakak&#8230; sudah ngerjain tugas, kakak&#8230; huft&#8230; itulah aku dengan kakakku, manja.</p>
<p>******</p>
<p>Mushaf warna emas itu terbungkus rapi di atas meja belajar di kamar yang penuh sutera itu. besok akan jadi saksi bisu, perubahan status seorang gadis menjadi istri.<span id="more-232"></span></p>
<p>Hari sudah larut, lewat tengah malam. Tapi masih banyak orang seliweran di luar kamar ini. Menyiapkan esok yang mendebarkan. Hari bahagia bagi kebanyakan orang, harusnya aku juga. Tapi ada rasa yang bergejolak. Aku memutuskan tuk tetap tinggal di kamar ini, menatap wajahku di cermin. Kutatap lekat, mataku berkaca-kaca. Tapi tak menetes, belum menetes.</p>
<p>******</p>
<p>“lihat mbak itu!!” peritah kakak saat kami berjalan – jalan berdua. “Cantik tidak?” tanyanya selanjutnya.</p>
<p>“hm&#8230;..” aku mengangguk, nyengir, menatapnya menggoda, curiga.</p>
<p>Ia tahu aku mulai <em>resek</em>, colek sana – colek sini, tetap menggodanya. Ia hanya tersenyum, <em>sok</em> <em>cool</em>. “bagaimana kalau jadi kakakmu?” katanya datar dengan tetap menjaga senyumnya, tetep <em>sok cool.</em></p>
<p>huaaaa&#8230;. aku melonjak senang. “yee&#8230; ternyata kakak doyan cewek juga” haahaha..</p>
<p>kuperhatikan lagi gadis yang ditunjuk kakakku, berjilbab besar juga sepertiku, cantik, manis, murah senyum, setidaknya itu penilaian awalku. Entahlah nanti kalau aku sudah lebih mengenalnya, akan berubah menjadi bidadari atau malah jadi nenek lampir.</p>
<p>*******</p>
<p>Kakak sudah menyelesaikan S2nya, benar juga, ia harus mulai berfikir tentang penggenapan diennya. Dan seleranya juga tidak terlalu buruk, lumayanlah, pikirku. seorang mbak yang yang tak luput dari perhatianku sejak awal bertemu, kakak menemukannya tidak sengaja di taman kota saat kami sedang berjalan – jalan berdua.</p>
<p>******</p>
<p>Besok statusnya akan bertambah, menjadi seorang suami untuk mbak yang kulihat di taman 5 bulan lalu. Baru aku tahu, ternyata itu juga pertama kalinya kakak melihatnya. Ia jatuh pada tatapan pertama. Lalu memperjuangkannya.</p>
<p>Gadis itu yatim piatu, tak mungkin acara pernikahan dilaksanakan di panti, cukup kecil untuk menampung tamu yang pasti akan membludak, teman kakak, juga partner bisnis ayah dan ibu yang berdatangan dari banyak negara. sehingga pernikahan dilaksanakan di rumah, mempelai pria.</p>
<p>Kukuasai kamar kakak malam ini. kamar pengantinya. Sepertinya ia menyadari ada yang tak beres padaku, menatapku dalam, mataku berkaca tapi ia memilih diam dan beranjak ke kamarku, tidur, menyiapkan energi tuk esok hari.</p>
<p>Kutatap kembali wajahku di cermin yang masih bisu, mataku semakin berkaca. Menetes.</p>
<p>Oh.. Tuhan. Bahkan malam ini ia baru akan jadi milik orang lain, masih milikku. Pun ketika esok ia melantunkan kalimat sakti, ia tetap menjadi kakakku, tapi kenapa sakit sekali rasanya berbagi dengan orang lain. Aku takut kehilangan dia. kakakku satu – satunya.</p>
<p>Oh&#8230;. Tuhan, tak bisakah kau biarkan ia tinggal lebih lama lagi bersamaku?</p>
<p>“<em>Kakak, bagaimana mungkin menemukan orang sepertimu? Kau beda, kau spesial, nobody like you!”</em></p>
<p style="text-align:right;"><em><br />
<span style="color:#008000;"><strong><a title="cerita sebelumnya : " href="http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/08/tak-ada-yang-bisa-kukatakan-aku-menyayangimu-bag-1/" target="_blank"><span style="color:#008000;">cerita selanjutnya: (Mozaik 2) tak ada yang bisa kukatakan, Aku Menyayangimu&#8230; Bag.1 &gt;&gt;&gt;</span></a></strong></span><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alimwiltom.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alimwiltom.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alimwiltom.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alimwiltom.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alimwiltom.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alimwiltom.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alimwiltom.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alimwiltom.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alimwiltom.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alimwiltom.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alimwiltom.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alimwiltom.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alimwiltom.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alimwiltom.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=232&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/05/08/nobody-like-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<georss:point>-0.789275 113.921327</georss:point>
		<geo:lat>-0.789275</geo:lat>
		<geo:long>113.921327</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb4a355965475fd94da51feba9981762?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alimwiltom</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesan tanpa Kata</title>
		<link>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/02/03/pesan-tanpa-kata/</link>
		<comments>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/02/03/pesan-tanpa-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 12:23:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alimwiltom</dc:creator>
				<category><![CDATA[goresan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alimwiltom.wordpress.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Memahami mu karena naluri. ini bukan kisah yang asyik dibaca, mungkin. ini juga bukan cerita fiksi yang akan menghabiskan secangkir teh di teras rumah. &#160; ini adalah sebuah sikap! sikap yang tak semua orang mengerti. sikap yang mana hanya kau dan aku yang mengerti. &#8220;pesan tanpa kata&#8221;. &#160; sahabatku pernah berkata &#8220;perbaikilah cara komunikasimu, InsyaAllah <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=227&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em><a href="http://alimwiltom.files.wordpress.com/2011/02/ukhuwah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-228" title="ukhuwah" src="http://alimwiltom.files.wordpress.com/2011/02/ukhuwah.jpg?w=300&#038;h=240" alt="" width="300" height="240" /></a>Memahami mu karena naluri. </em></p>
<p style="text-align:justify;">ini bukan kisah yang asyik dibaca, mungkin. ini juga bukan cerita fiksi yang akan menghabiskan secangkir teh di teras rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">ini adalah sebuah sikap! sikap yang tak semua orang mengerti. sikap yang mana hanya kau dan aku yang mengerti.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;pesan tanpa kata&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">sahabatku pernah berkata <em>&#8220;perbaikilah cara komunikasimu, InsyaAllah semua urusanmu yang rumit akan mudah diselesaikan.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">atau saudara-saudara yang lainpun pernah berujar, <em>&#8220;satu yang menjadi kekuranganmu tentang hal ini, ialah kamunikasimu yang tidak begitu baik.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">tapi dalam hati saya berkata,<em><strong> ini adalah prinsip! </strong></em> prinsip yang harus kupertahankan. logika-logika kalian tentang  kamunikasi tidak akan pernah mampu melunturkan prinsip yang mengakar  ini.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">sederhana, saya menyebutnya sebagai &#8220;pesan tanpa kata&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">kecenderungan  untuk mendiamkan adalah sesuatu yang menjengkelkan bagi teman yang  lain, biasanya. tapi prcayalah, ini akan lebih ampuh daripada sekedar  ocehan kepada &#8220;diri yang bebal&#8221;,</p>
<p style="text-align:justify;">patung bernyawa itu takkan pernah tahu apa itu amarah??</p>
<p style="text-align:justify;">hati yang berkarat takkan pernah mampu menerima celupan sakitnya alkohol yang akan mencucinya dari karat yang menulikan.</p>
<p style="text-align:justify;">DIAM, inilah akses terbaik saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">pernahkah pembaca mempunyai seorang sahabat karib? yang mengerti dan memahami?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>menjadi  penghibur dikala sedih, menjadi obat dikala sakit, menjadi benteng  dikala diserang, menjadi tongkat dikala pincang, menjadi angin dikala  petang hari, <span id="more-227"></span>mejadi air yang menyejukan dikala dahaga menerpa  kerongkongan, berkorban, memenuhi kebutuhanmu ketimbang kebutuhanya  sendiri. menjadi dan memberikan yang terbaik untukmu???  begitu  pengertian. pernahkah???</em></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">coba simak kembali cerita  usangmu dulu, bersama teman satu kost, bersama, teman satu organisasi,  partner kerja, teman satu kampung atau yang lainnya&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">cermati, jikalau ada orang yg serupa demikian, maka ialah sahabat karibmu.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">karena  sahabat karib takkan pernah mencelakakan sahabatnya, tidak akan pernah  &#8220;mengobjek&#8221; sahabatnya, tidak akan pernah memburuk-burukan sahabatnya  didepan khalayak ramai&#8230; bukalah lembaran-lembaran bersama  teman-temanmu dahulu..</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">*sebenarnya saya ingin membahas apa itu <em>saudara, teman, dan sahabat.</em> tapi nampaknya ini bukan waktu yang tepat. takut terlalu bertele-tele.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">kembali pada sebuah sikap pesan tanpa kata.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">mungkin pembaca bisa mengingat kembali kisah sahabat Rosul;</p>
<blockquote><p><strong><em>&#8220;tersebutlah  seorang KAAB BIN MALIK, seorang sahabat Rosul yang mulia. tidak ikut  dalam perang tabuk adalah suatu hal yang begitu menyakitkan dan takkan  pernah terlupakan baginya.</em></strong>.</p>
<p><strong><em>dengan  kesalahan ini, maka Rosul mengambil sikap kepada KAAB BIN MALIK yaitu  sama dg apa yg kita bicarakan hari ini, Pesan tanpa kata.</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Rosul  mendiamkan KAAB BIN MALIK selama 50 hari sampai turunnya wahyu untuk  membebaskan Iqob tersebut. pesan tanpa kata; Rosul dan para sahabat  mendiamkan KAAB BIN MALIK agar ia mau memuhasabah diri, evaluasi,  intropeksi diri atas kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan.</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>dan itulah yang KAAB BIN MALIK lakukan. evaluasi diri&#8230;</em></strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">artinya, sikap mendiamkan adalah tidak sepenuhnya salah&#8230;.<strong><em>!</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Pesan tanpa kata<em> </em>&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">betapapun Kaab berusaha untuk menjalin komunikasi, Rosulpun tak peduli, sampai iqobnya selesai&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">bahkan  setiap usai sholat, Kaab berusaha untuk mengambil moment itu untuk  mendapatkan senyum dari sang Rosul&#8230; namun itu menjadi sia-sia saja,  karena Rosul tetap dg komitmentnya. yaitu Diam!</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">pesan tanpa kata.</p>
<p style="text-align:justify;">walaupun dalam hatinya, Rosul sangat sedih dan ingin sekali bersama Kaab. namun apa boleh buat, ini adalah sebuah sikap.</p>
<p style="text-align:justify;">terbukti  dg datangnya wahyu bahwa Iqob sang Kaab sudah usai, Rosul dan para  sahabat menyambut hangat sembari menangis untuk Kaab&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>pesan tanpa kata adalah proses penyadaran yang paling ampuh bagi sebagian orang&#8230;</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<blockquote><p><em><strong>Mungkin kita bisa mengingat kisah istri Rosul tercinta??? Aisyah&#8230;</strong></em></p>
<p><em><strong>setelah mendapatkan fitnah, apa yg terjadi kepada Rosul terhadap Aisyah???</strong></em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">PESAN tanpa KATA&#8230; itulah yg dilakukan sang Rosul&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>dan untuk sahabat-sahabat karib kita&#8230;</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>pahamilah, rasakan disetiap detik jarum jam&#8230;</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">apa yang sedang ingin diajarkan oleh sahabatmu itu??</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">tak usah beribu kata, tak usah ocehan yg akan membuatmu merasa mual&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">cukup dg diam.. maka kau akan mengerti..</p>
<p style="text-align:justify;">sebagaimana Abu bakar kepada nabi Muhammad SAW&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<blockquote><p><strong><em>beliau  menangis tersedu ketika Rosul menyampaikan kabar kembira kepada sahabat  yg lainnya. dan tentunya sahabat lainnya merasa bahagia..</em></strong></p>
<p><strong><em>namun apa yang terjadi dg Abu Bakar Assidiq??</em></strong></p>
<p><strong><em>ia menanggis tersedu, sampai para sahabat lainnya merasa heran??? mengapa Abu bakar menangis???</em></strong></p>
<p><strong><em>karena  Abu Bakar tahu, bahwa dg kabar bahagia itu maka berarti Rosul akan  meninggalkan para sahabatnya untuk selamanya.. dan abu bakar menangkap  isyarat itu sehingga ia menangis&#8230;</em></strong></p>
<p><strong><em>pesan itu tercatat dalam surah Almaidah ayat 3</em></strong></p>
<p><strong><em>&#8220;&#8230;Pada  hari ini telah kusempurnakan agamamu untukmu, dan telah aku cukupkan  nikmat-Ku bagimu, dam telah aku Ridhoi Islam sebagai Agamamu&#8230;&#8221;</em></strong></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">alangkah indahnya bersahabat dengan Abu bakar yg begitu mengerti&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Wahai abu Bakar kami merindukan sahabat sepertimu, yang begitu mengerti&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">wahai Kaab, alangkah beruntung bersahabat dg orang sepertimu, mau mengintropeksi diri walaupun hanya dg sikap Diamnya Rosul..</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">pesan tanpa kata, semoga kau mengerti. Sahabat&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Kamis, 3 Februari 2o1o</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alimwiltom.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alimwiltom.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alimwiltom.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alimwiltom.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alimwiltom.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alimwiltom.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alimwiltom.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alimwiltom.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alimwiltom.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alimwiltom.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alimwiltom.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alimwiltom.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alimwiltom.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alimwiltom.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=227&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alimwiltom.wordpress.com/2011/02/03/pesan-tanpa-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-0.789275 113.921327</georss:point>
		<geo:lat>-0.789275</geo:lat>
		<geo:long>113.921327</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb4a355965475fd94da51feba9981762?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alimwiltom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alimwiltom.files.wordpress.com/2011/02/ukhuwah.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ukhuwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>membina cahaya harapan&#8230;</title>
		<link>http://alimwiltom.wordpress.com/2010/10/16/membina-cahaya-harapan/</link>
		<comments>http://alimwiltom.wordpress.com/2010/10/16/membina-cahaya-harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2010 03:12:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alimwiltom</dc:creator>
				<category><![CDATA[goresan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alimwiltom.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[burung-burung bersiul merdu mengusik hari-hariku mengingatkanku pada masa-masa dimana semuanya selalu menjadi indah dan menyenangkan. angin pagi berhembus lembut menembus jiwa merasuk dalam raga menyadarkanku pada sebuah kisah yang takkan terlupakan. hiruk pikuk suasana, lalu lalang aktifitas, teriakan tukang becak, teriakan pedagang baju, pedagang rambutan, selalu membuatku tertawa dalam hati tersenyum ringan mengingatkan pada skenario <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=218&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>burung-burung bersiul merdu mengusik hari-hariku mengingatkanku pada  masa-masa dimana semuanya selalu menjadi indah dan menyenangkan.</p>
<p>angin pagi berhembus lembut menembus jiwa merasuk dalam raga menyadarkanku pada sebuah kisah yang takkan terlupakan.</p>
<p>hiruk  pikuk suasana, lalu lalang aktifitas, teriakan tukang becak, teriakan  pedagang baju, pedagang rambutan, selalu membuatku tertawa dalam hati  tersenyum ringan mengingatkan pada skenario peristiwa tentang awal dan  akhir, tentang rindu yang tak terbendung, tentang air mata, tentang rasa  manja, tentang ego, tentang kasih sayang, tentang harapan yang selalu  digantungkan, tentang keoptimisan dan kesetiaan. tawa anak-anak kecil  yang lewat setiap paginya didepan rumah membuatku iri akan lakunya. aku  ingin berlaku manja sepertinya, sedikit-sedikit merengek,  sedikit-sedikit ngambek, sedikit-sedikit<span id="more-218"></span> menangis&#8230; hhhh&#8230;.</p>
<p>dulu  hidupku begitu rumit, sempit tak ada ruang, hanya ada ruang untuk  diriku. aku tidak pernah kenal kata &#8220;orang lain&#8221; dalam hidup ini, tak  ada kata kepercayaan dalam kamus hidupku. hanya ada satu yaitu aku.  siapa mereka? apa mereka?</p>
<p>higga akhirnya datang secercah cahaya  harapan yang begitu menyejukan bak embun dipagi hari. menyemai rasa-ra  kepercayaan, menyiram pohon-pohon kebersamaan, menopang dikala goyah,  menyambut dikala susah, cahaya itu selalu memancarkan keikhlasan&#8230;  begitu terang. begitu benderang&#8230;</p>
<p>seandainya aku mampu meraih cahayamu&#8230;</p>
<p>seandainya tangan ini mampu&#8230;</p>
<p>seandainya jiwa ini tak bergejolak ragu&#8230;</p>
<p>seandainya raga ini tak kaku&#8230;</p>
<p>terkadang semangat membuncah&#8230;</p>
<p>tapi tak jarang pula semangat itu layu..</p>
<p>ibarat daun yang tumbuh dengan semangat hijaunya..</p>
<p>dan layu sebelum gugur pada waktunya&#8230;.</p>
<p>fajar selalu mengejar senja&#8230;</p>
<p>senja selalu menunggu fajar..</p>
<p>bintang-bintang tertawa meelihat pertemuan senja dan fajar disepertiga malam dihadapan-Nya.</p>
<p>namun, bulan selalu mengibah melihat rasa yang tertunda.</p>
<p>cahaya harapan,&#8230;</p>
<p>semoga benar semuanya kan menjadi kenyataan..</p>
<p>cahaya harapan,&#8230;</p>
<p>semoga benar, kalau ini hanyalah masalah waktu saja&#8230;</p>
<p>cahaya harapan,&#8230;</p>
<p>semoga para malaikat selalu membina cahayamu&#8230;</p>
<p>semoga, Allah memberikan yang terbaik. agar cahaya itu bisa dibina bersama&#8230;</p>
<p>karena semuanya fitrah, maka berdoa sajalah&#8230;</p>
<p>(harap yg takkan pernah usai)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alimwiltom.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alimwiltom.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alimwiltom.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alimwiltom.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alimwiltom.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alimwiltom.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alimwiltom.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alimwiltom.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alimwiltom.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alimwiltom.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alimwiltom.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alimwiltom.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alimwiltom.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alimwiltom.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=218&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alimwiltom.wordpress.com/2010/10/16/membina-cahaya-harapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-0.789275 113.921327</georss:point>
		<geo:lat>-0.789275</geo:lat>
		<geo:long>113.921327</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb4a355965475fd94da51feba9981762?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alimwiltom</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa yang bisa kita berikan? Ya berikanlah. (Bag 1)</title>
		<link>http://alimwiltom.wordpress.com/2010/09/20/apa-yang-bisa-kita-berikan-ya-berikanlah-bag-1/</link>
		<comments>http://alimwiltom.wordpress.com/2010/09/20/apa-yang-bisa-kita-berikan-ya-berikanlah-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 14:44:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alimwiltom</dc:creator>
				<category><![CDATA[goresan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alimwiltom.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[palembang, 20 September 2010 Pernah kita berfikir bahwa kehidupan kita tidak seindah kehidupan saudara-saudara kita yang lain. Mereka mempunyai segudang kelebihan, segudang kenikmatan, segudang prestasi, segudang harta, segudang ilmu dan segugang pujian. Sedangkan kita? Kita hanyalah seonggok sampah, tak lebih hanyalah pemanis keseimbangan hidup (baik-buruk kehidupan). Saya pernah berkata kepada teman saya bahwa “kau akan <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=201&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<address>palembang, 20 September 2010</address>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://alimwiltom.files.wordpress.com/2010/09/images.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-202" title="images" src="http://alimwiltom.files.wordpress.com/2010/09/images.jpeg?w=259&#038;h=194" alt="" width="259" height="194" /></a>Pernah kita berfikir bahwa kehidupan kita tidak seindah kehidupan saudara-saudara kita yang lain. Mereka mempunyai segudang kelebihan, segudang kenikmatan, segudang prestasi, segudang harta, segudang ilmu dan segugang pujian. Sedangkan kita? Kita hanyalah seonggok sampah, tak lebih hanyalah pemanis keseimbangan hidup (baik-buruk kehidupan). Saya pernah berkata kepada teman saya bahwa “<strong><em>kau akan dipandang sejauh mana kau memandang</em></strong>”, ketika kita memandang bahwa diri kita sampah, maka selamanya kita akan menjadi sampah, namun jikalau kita memandang bahwa kita adalah pemenang, maka kita akan menjadi seorang pemenang, seorang yang super, seorang yang dahsyat luar biasa. Kitalah yang menciptakan sugesti kehidupan, dan kitalah yang akan menjalankan kehidupan ini berdasarkan sugesti yang kita miliki. Karena yang perlu kita ingat bahwa “<strong><em>di dunia ini tidak ada yang pintar dan bodoh” <span id="more-201"></span></em></strong>tapi kehidupan akan mengantarkan kita kedalam dimensi yang kita miliki masing-masing. Seringkali kita berfikir bahwa orang yg tidak bisa mengerjakan oal-soal mate-matika, akuntansi, bahasa inggris, fisika, mereka adalah orang-orang bodoh. Orang yang tidak bisa mengerjakan soal-soal mate-matika bukan berarti ia bodoh, orang yang tidak bisa mengerjakan soal-soal akuntansi bukan berarti ia bodoh, orang yg tidak bisa mengerjakan soal-soal fisika bukanlah orang yang bodoh. Orang bodoh adalah orang yg selalu membodoh-bodohkan orang lain. Saya akan memakai logika sederhana untuk menjawab mengpa bisa demikian. Apakah kita pernah melihat becak? Apakah kita tahu, bagaimana mengayuh becak dengan baik? Apakah kita tahu bagaimana mendapatkan penghasilan yang sempurna dalam sehari? Apakah kita tahu bagaimana merawat becak dengan baik? Apakah kita tahu??? Mungkin banyak orang yang tahu, tapi banyak juga orang yang tidak tahu, bahkan seorang professor pun belum tentu tahu. <strong><em>Tapi yang jelas tukang becak tahu persis apa yang akan dilakukannya terhadap becak tersebut</em></strong>. Apakah kita akan mengatakan professor yang mempunyai segudang prestasi tersebut orang yang bodoh?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alimwiltom.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alimwiltom.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alimwiltom.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alimwiltom.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alimwiltom.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alimwiltom.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alimwiltom.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alimwiltom.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alimwiltom.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alimwiltom.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alimwiltom.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alimwiltom.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alimwiltom.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alimwiltom.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alimwiltom.wordpress.com&amp;blog=10026252&amp;post=201&amp;subd=alimwiltom&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alimwiltom.wordpress.com/2010/09/20/apa-yang-bisa-kita-berikan-ya-berikanlah-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-0.789275 113.921327</georss:point>
		<geo:lat>-0.789275</geo:lat>
		<geo:long>113.921327</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cb4a355965475fd94da51feba9981762?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alimwiltom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alimwiltom.files.wordpress.com/2010/09/images.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
