Belajar dari Kucing – kucing yang lucu (Mozaik 5)

Oleh : Alim M Wiltom (10 Juni 2011)

Pagi ini begitu indah. Ku hirup udara yang begitu segar hingga masuk melalui hidungku, berjalan disela-sela kerongkongan, menelisik disetiap rongga-rongga membuat urat-urat syarat bereaksi, menyegarkan disetiap aliran darah, aku bisa merasakannya. Udara yang masuk bersesakan kesekujur tubuh. Mengalir dan terus mengalir…

tak puas dengan udara yang kuhirup di balik jendela rumah, aku mencoba untuk melangkahkan kaki ke luar mencari udara segar yang lebih banyak. Tak kupedulikan sekalipun suhunya begitu dingin menusuk-nusuk sampai ketulang, aku tetap beranjak keluar.

***

“Abi sadar kalau aku adalah istri Abi??? Pernahkah Abi berfikir dan bertanya-tanya pada diri Abi Sendiri, tentang perasaan Aku???” istriku menghardik diriku yang sedari tadi tetap diam.

“Aku tidak meminta banyak hal dari Abi, yang aku minta hanya kasih sayang dan perhatian dari Abi selaku suami. Itu saja, tidak lebih. Tidak rumahl mewah, tidak juga mobil mentereng. Cukup kasih sayang dan perhatian dari Abi”. Istriku melanjutkan ucapannya, terbata-bata mencoba menahan segukan tangis, membelakangiku sembari duduk di sudut kasur.

Aku mulai tersadarkan. Sekarang aku faham betul apa yang dimaksud istriku. Memang belakangan ini aku lebih banyak membagi waktu dengan adikku Citra, mengajaknya jalan-jalan, makan diluar rumah, berjam-jam, berhari-hari. Walaupun tak jarang aku juga mengajak istriku Winda untuk berjalan bertiga, namun karena jadwal yang padat dengan aktivitas sosialnya membuat aku sering berjalan berduaan saja dengan adik kesayanganku Citra. Menghabiskan dua per tiga hari-hari ku bersama citra. Pernah sekali waktu aku dan Citra pulang begitu larut, karena sepulang bekerja aku sengaja menyempatkan diri untuk menjemput Citra dikampus, tapi ternyata Citra mengajakku pergi menonton. Tanpa fikir panjang, aku yang sedari tadi penat dengan segala macam urusan kantor langsung mengiyakan ajakan Citra. Setelah memnghubungi isteriku Winda. Jadilah kami menonton bersama.

Sialnya sewaktu mau beranjak pulang, ban mobilku kempes. Sempat aku merutukki ban mobil yang kempes. Betapa tidak, seharusnya aku dan Citra sudah bisa sampai rumah dan memberikan surprise untuk isteri tercinta. Banyak sekali kami membeli oleh-oleh. Sebenarnya Citra yang memaksa untuk membeli ini, beli itu, “untuk mbak Winda nanti kak” katanya. Akupun menurut saja. Tapi hal itu sia-sia, pastilah akan terasa basi jadinya. Tidak menjadi surprise lagi. Kami pulang teramat larut. Isteriku pastilah sudah terkantuk dirumah, lelah menunggu kepulangan kami.

“wah pak bannya bocor, dua pula bocornya. Kayaknya agak lama. Kalo Bapak mau makan atau jajan,… jajan aja  dulu gak papa.” ujar mas-mas tukang tambal ban dengan logat khas Bataknya. Akhirnya kami makan dipinggir jalanan kota. Inilah yang membuat isteriku cemburu dan uring-uringan akhir-akhir ini.

“Maaf kan Aku, Mi. Aku memang salah” aku mencoba untuk meminta maaf, menyesali segala kesalahan. Tapi ia tetap saja membelakangiku. Diam.

***

Kulangkahkan kaki menyambut mentari pagi. Aroma bunga disekelilingku semakin menambah indahnya pagi ini. Kebun teh menghijau, membuat mataku yang hitam putih menjadi menghijau. begitu luas, seluas mata memandang. Membuatku semakin tidak ada alasan untuk tidak bersyukur dan memaksa berfikir bahwa diri ini begitu kecil. Dunia ini terlampau indah.

“miauu… miauu… miauu… miauu…” aku terusik dengan suara yang bersahut sahutan. Kepalaku celingukan mencari cari sumber suara. Beberapa kali aku menyingkap daun-daun teh. Dan akhirnya aku menemukan sumber suara tepat di belakangku berdiri.

MasyaAllah…” desisku kaget.

“anak anak kucing… lucu sekali…” segera aku mencoba untuk meraih anak kucing dari rerimbun daun teh.

“ni kucing induknya kemana ya? Tega banget ninggalin anak-anaknya disini… hmm…” sembari menggendong kedua anak kucing yang lucu lucu itu aku berusaha mencari cari siapa tahu ada induknya disekeliling kebun teh.

“apa jangan jangan ada orang yang sengaja membuang anak anak kucing ini kesini ya???” tuduhku heran.

“ya sudahlah daripada ni kucing terlantarkan, lebih baik ku bawa masuk ajalah. Kasihan masih kecil-kecil.” Segera aku membawa kedua kucing masuk. Aku berniat mengurusnya. Anggap saja ini hadiah. Hadiah dari langit.

***

Untuk yang tersayang.

Bidardariku Winda dan Adik yang Bandel Citra.

 

            Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Maaf…

Aku belum bisa memaafkan diri sendiri atas segala yang telah ku perbuat terhadap orang-orang yang sangat kusayangi…

Maaf…

Aku belum bisa memaafkan diri sendiri, karena telah menyakiti hati orang-orang yang aku menyayanginya melebihi rasa kasih sayang terhadap diriku sendiri…

Maaf…

Kalau ternyata diri ini terlampau jauh untuk bisa mencontoh Rasulullah yang agung, yang begitu adil dan bijaksana…

Maaf…

Jikalau ternyata diri ini begitu mengecewakan hati-hati yang lembut, hati-hati yang sedikitpun tak layak untuk disakiti bahkan tak layak walau hanya sekedar satu goresan kecil ranting…

Maaf…

Atas segala hal yang telah membuat semuanya menjadi rumit…

Atas segala apapun, aku tetaplah manusia yang dhoif…

Berikan aku waktu sejenak untuk berfikir sejenak, memuhasabah diri, sendiri menyepi…

 

Hamba Allah yang selalu Dzolim

ttd

Andhika

 

Pagi-pagi sekali aku beranjak dari tempat tidurku. Meninggalkan rumah yang telah memberi warna dalam hidup ku. Kulihat isteriku masih terlelap, mungkin karena kecapaian seharian sedu – sedan, jengkel atas sikapku. Apalagi Citra, pastilah masih pulas. Sengaja selepas sholat malam aku bergegas meninggalkan rumah, agar semuanya tidak bertanya resek tentang kemana aku akan pergi? Berapa lama? Dan pertanyaan semacam itu lainnya. Apalagi kalau Citra yang bertanya, pastilah akan rewel. Kulipat surat yang telah kusiapkan sedari ba’da sholat malam, dan kuletakan begitu saja surat itu di atas ranjang kami, didekat isteriku terlelap. “Ummi, Citra,.. maafkan aku…” aku pergi.

***

Kucoba untuk membuka – buka tas kecilku. Tapi aku tidak menemukan makanan yang pas untuk si kucing. Puas aku menggeledah tas kecil yang kubawa dari rumah sampai semua isi tas berhamburan di atas lantai. Tetap saja. Nihil. Aku kebingungan, karena memang dari rumah tidak ada rencana sama sekali untuk memelihara kucing, dua ekor pula. Jadi tak ada yang bisa kuberikan untuk si kucing. Kucoba untuk mengingat ingat kembali, siapa tahu ada sesuatu yang bisa diberikan.

“eh, tunggu dulu..” aku mendapatkan ide.

“roti.  ya roti…” aku mengingat sesuatu. Satu bungkus roti isi. Roti yang tidak sengaja aku beli di terminal pagi tadi. Pukul 05.00. Sebenarnya aku tidak lapar. Hanya iseng saja membeli roti, masalahnya penjaja roti resek didepanku sewaktu mobil masih ngeteam ditermianal kota. Akhirnya penjaja roti berhasil menyulap seleraku, dari yang tidak mau beli roti sampai akhirnya aku beli roti. Bukan karena lapar atau kepingin. Tapi karena jengkel. Kubeli satu bungkus saja. Hanya satu bungkus. Sebagai syarat untuk mengusir halus penjaja roti dari hadapanku.

Kuperiksa saku jaketku. “Alhamdulillah masih ada. Hmm… ternyata berguna juga ni roti”.

Langsung kupotong rotinya satu cubitan satu cubitan. Kucing – kucingpunpun dengan lahab memakan roti yang kuberikan. Tidak sabaran. Badannya bergoyang goyang mengimbangi mulutnya yang sedang menguyah ekstra cepat cubitan – cubitan roti. Ekornya goyang-goyang. Kanan, kiri. Lucu sekali melihat kedua kucing ini yang begitu lahab menyantap roti. Kuperhatikan satu persatu kucingnya. Satu berwarna putih bercorak kuning. Yang satunya putih bercorak kuning hitam.

Asyik memperhatikan kucing kucingnya, tiba tiba… “grrhh….mmmng… mmmeong….” kucing-kucingnya mulai bertengkar. Keduanya mengeram. Takut jatah masing – masing direbut satu sama lain. Padahal aku telah membagi rata roti – rotinya. Hanya saja kucing yang berwarna putih kuning lebih cepat memakan rotinya ketimbang kucing yang satunya.

Percuma melerai. Tetap saja mereka mengeram. Dan daripada ribet, lebih baik kupisahkan saja kucing – kucing ini. Yang satu kupindahkan di pojok rumah sebelah kanan. Yang satu kupindahkan di pojok rumah sebelah kiri. Beserta rotinya. Supaya mereka tidak saling ganggu. “hmm.. dasar, kucing kucing yang merepotkan.”

Belum juga sehari aku sampai di Villa ini. Aku sudah direpotkan oleh kedua kucing yang ketemukan di halaman rumah.

Direpotkan oleh kucing – kucing baruku.

Setelah kurang lebih kurang dua jam Aku memutuskan untuk bersih – bersih badan. Mandi. Supaya lebih fresh.

***

“ya ampun…. dasar kucing – kucing bandel!!!” keluhku kesal.

“masa’ buang kotoran sembarangan, ya di teras, ya di sofa… Hhhh…” aku semakin kesal.

“miau… miau.. miau…” balas kucing yang berlarian kearahku. Menantap seakan meminta – minta sesuatu. Entah apa maksudnya aku juga tidak faham betul.

“apalagi???! Mau makan? Minum? Atau???… Buang kotoran lagi???” hardikku kembali. Semakin kesal dengan tingkah kucing – kucing itu. Betapa tidak, akibat ulah kucing-kucing yang nakal. Aku harus bersabar mencuci bagian rumah yang terimbas  kotoran mereka. Harus lebih bersabar.

***

“ini kembaliannya dik”.

“oh ya, terimakasih Bu”.

“sama – sama…”.

Aku memutuskan untuk masak sendiri hari ini. Seadanya. Tahu, tempe dan sayur kangkung. Sebenarnya ini mengulang kebiasaanku dulu. Sewaktu masih menjadi mahasiswa. Kalau Cuma masak yang beginian aku bisa. Tapi kalau yang sudah rumit dengan bumbu – bumbunya, aku menyerah. Aku memang sengaja untuk menjadi anak kost. Mencoba mandiri dan survive. Susah, senang harus bisa kuatasi dengan caraku. Tidak merengek. Tidak juga manja. Disamping juga kampusku jauh. Harus melalui beberapa provinsi. Tidak terbayang berapa uang yang akan aku habiskan seandainya aku kekeh pulang pergi naik pesawat setiap harinya.

“tahu,.. tempe,.. sayur kangkung,.. bawang merah,.. bawang putih,.. tomat,.. cabe merah,.. garam,.. gula,… hmm…. apalagi ya yang kurang???” terdiam sambil berfikir. Mengeja satu persatu daftar belanja dalam otak. Membolak balik memori.

“oh iya, ikan.!” Seruku mendapatkan ide.

“ikan??.. maksudku ikan asin. Ehehe..” tertawa dalam hati. Lucu. Ikan? Mana mungkin aku membeli ikan. Itu pasti akan boros sekali. Lagian aku belum tahu pasti berapa hari akan menetap di Villa ini. Sedangkan uang yang ku bawa, seadanya. Tak mungkin menggunakan creadit card. Ini kugunakan hanya untuk urusan tertentu saja. Bukan untuk pribadi.

“iya ikan asin. yah, lumayanlah. Semoga saja kucing – kucingku bisa menerima.” Tukasku. Ikan asin ini sengaja kubeli untuk peliharaan baruku. Karena setahuku, kucing suka dengan ikan. Kalau untuk tempe atau tahu, kemungkinan besar mereka akan menolak. Tidak mau makan. Harus bisa mengerti dan memikirkan untuk mereka.

***

“pus,.. pus,.. pus,.. cckcckcck…”

“miau… miau… miau… miau…” tetap tidak mau.

“pussi.. pussi.. cckcckcckcck..”

“miauuuuuuuu…..” nampaknya mereka tidak mau. Tidak mungkin malu – malu. Walaupun ada istilah malu – malu kucing.

Tetap saja kucing – kucingnya merengek di depanku. Mengganggu aku yang sudah mau mulai menyantap masakan kesukaanku. Tahu – tempe – Kangkung. Tak kuhiraukan. Tetap saja aku lahab. Walaupun sedikit risih. Kutinggalkan kedua kucingku didalam rumah. Tak lupa menutup rapat pintu. Sedangkan aku asyik makan di teras rumah, sembari menikmati pemandangan nan indah. Semakin menambah klasiknya suasana pedesaan.

Tak lama kemudian, aku tak mendengar lagi rengekkan kucing-kucingku yang nakal. Diam. Dan makanku pun usai.

Saat ku cek didalam. “hmm…” aku tersenyum simpul. Bangga. Akhirnya kucing-kucingku mulai memakan bagian mereka.

Untuk sesuatu yang baik. Butuh sedikit pemaksaan.

***

Aku lupa sesuatu hal. Aku melupakan hal yang seharusnya kusadari pertama kali. Aku belum memandikan kucing. Pantas saja bau nya agak pesing.

Hari ini giliranku untuk memandikan mereka. Membersihkan mereka. Agar semakin lucu dan yang pastinya wangi.

Pukul 11.30. “Byurr… Byurr.. kecipak, kecipak… Byurr…”

“Mmmmeaauuuuu…”

“eh mau lari kemana, ni urusan belum selesai….”

“Mmmmiiiiiiiaauuuuuuu….. meau…” ternyata memandikan kucing tidak semudah yang kufikirkan. Butuh ketelatenan dan trik. Cakaran, hal yang biasa diterima untuk pemula sepertiku. Meronta – ronta. Suara yang melengking. Semuanya tidak dapat dilalui dengan emosional. Butuh kesabaran yang lebih dari sekedar kata sabar itu sendiri. Bijaksana. Ya, bijaksana.

Harus bisa mengosongkan gelas hati kita yang penuh.

***

“kardus fix, lubangnya pas… semoga mereka nyaman…” Aku berniat membawa kedua kucing ini kerumah. Semoga menjadi hadiah yang menarik untuk Isteriku Winda dan Adikku Citra. Akan kuceritakan semua.

Hari ini aku memutuskan pulang. Setelah tiga hari asyik dengan kucing – kucing yang lucu ini. Nampaknya tiga hari sudah cukup bagiku untuk bisa mengambil sikap. Lebih tenang. Lebih ringan. Setidaknya ada banyak hal yang dapat kuambil pelajaran. Tidak mudah menjadi lebih baik. Semuanya kupelajari dari kejadian tiga hari terakhir, bersama kedua peliharaanku. Belajar dari kucing – kucing yang lucu. Aku pulang.

***

<<< cerita sebelumnya : (mozaik 4) tak ada yang bisa kukatakan, aku sayang kamu… bag.2

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.