(Mozaik 4) tak ada yang bisa kukatakan, aku sayang kamu… bag.2
Oleh : Alim M Wiltom
Hari ini kembali aku dengan rutinitas baru. Mengantar istri tercinta dalam setiap aktivitasnya. Termasuk mengantar ke panti. Seperti biasa.
“hati-hati ya mi. salam buat anak-anak disana.”
“iya bi, InsyaAllah... Abi juga kudu hati-hati”
Ku kecup kening istriku dengan kecupan lembut seraya berbisik “Aku sayang kamu, bidardariku…”. dengan sebelumnya ia mengecup tanganku. Tidak akan pernah akan kulewatkan rutinitas ini, karena ini adalah peristiwa yang kutungggu-tunggu setiap harinya. Memanjakan sang bidardari.
Lagi pula ini adalah cara terampuhku. Cara terampuhku membuatnya tersipu malu dengan muka memerah. Terus salah tingkah. Dan juga biasanya setelah prosesi itu berlangsung, ia begitu semangat dengan memasang tensi sangat tinggi. Lebih tinggi daripada tensi ketika pak Presiden memarahi para bawahannya. Alhasil, semua aktivitas dikerjakan dengan hasil yang maksimal…
Kujalankan mobil merahku. Istriku tetap berada disana, memandangiku yang sudah mulai beranjak pergi. Memastikan kepergianku dengan selamat. Setidaknya selamat ketika didepannya. “istriku yang cantik. Bidardariku yang manis,… aku sayang kamu umi… beruntung aku mendapatkan pendamping yang begitu menyayangi, perhatian, begitu mengerti…bahkan semua kata-kata terbaikpun tak cukup untuk menggambarkan luhurnya sikapmu..” gumamku seraya menyetir mobil.
****
“citra???”
“kamu gak kekampus hari ini??”
sapaku heran. Melihat adik kesayangan tetap betah dengan mushabnya di ruang tamu. Tanpa menghiraukan sedikitpun. Memang sebelum berangkat ke panti, setelah sarapan., ia langsung duduk di ruang tamu dengan membawa mushab coklatnya. Meninggalkan kami berdua dimeja makan. Membolak-balik mushabnya. Sekali-kali terlihat ia menyalakan televisi , entah apa yang sedang di tontonnya. Kartunn, berita, gossip, musik, atau apalah aku tak tahu. Mungkin saja hanya sekedar merefresh mata agar tidak mengantuk.
“kok ditanya, diem aja. Kamu sakit? tukasku.
“lha, kakak ngapain gak kekantor?! Kakak sakit???!” sindirnya ketus.
“tadi kakak bingung, mau kekantor atau gak. Berhubung di kantor juga pekerjaan sudah beres semua, kakak memutuskan untuk pulang” jawabku sabar.
“aku lagi males kekampus.gak ada kerjaan!” Ketusnya lagi tanpa menghiraukan penjelasanku.
“o gitu ya…”.
Aku semakin kesal dibuatnya. Sikap dingin itu kembali muncul, setelah kejadian beberapa minggu lalu. Sikap dingin yang membuat mati gaya yang hampir membunuh perasaanku. Sikap dingin yang mendiamkanku selama dua hari. Hanya dua hari saja. Tak lebih tak kurang. Namun dua hari itu begitu suram. Begitu mencekam.
“hari ini kakak lagi kosong, citra temenin kakak jalan-jalan ya. Udah lama gak jalan-jalan sama citra. Kakak kangen.” Citra tetap saja diam tanpa sepatah katapun. Pura-pura tidak mendengar ajakanku. Atau mungkin memang benar-benar tidak mendengar karena begitu asyiknya dengan mushab coklatnya.
“citra mau kan?” tanyaku lagi. Walaupun kini rasa kesalku sudah naik ke gigi dua.
Tak berapa lama kemudian sebelum aku melanjutkan dengan permintaan selanjutnya, citra menganggukan kepalanya dengan pelan setengah ragu. Mungkin ia terpaksa atau kasihan dengan ajakanku yang sedikit memaksa itu.
“ya udah, sekarang citra siap-siap. Kalo emang udah siap kita segera berangkat sekarang.”
Kembali anggukan citra semakin melamban sembari menutup mushab coklatnya. Nampaknya setengah hati.
***
Terik matahari pagi menyinari bunga-bunga yang sedang bermekaran. Ikhlas memancarkan sinarnya membantu pertumbuhan bunga yang begitu indah. Tak pernah kita berfikir mengapa matahari begitu baik dan perhatiannya terhadap bunga-bunga. Setiap hari memancarkan sinar tanpa berharap akan balas budi sang bunga. Begitu menakjubkan. Padahal kalau matahari ingin marah, ia layak untuk marah. Betapa tidak, apa yang ia dapatkan dari sekuntum bunga? Tak sedikitpun. Namun demikian, ia tetap ikhlas menyinari setiap hari tanpa lelah. Tanpa keluh kesah.
Hari ini bunga-bunga menghiasi taman kota. Warna-warni dengan berbagai coraknya. Merah, kuning, ungu, putih, pink,.. menambah keindahan taman kota yang memang telah indah dengan penataannya. Kursi-kursi tersusun indah di beberapa titik taman. Membuat orang-orang berbondong-bondong berkunjung melepas kepenatan yang mungkin penat dengan aktivitas hariannya. Kantor, kampus, sekolah, aktivitas sosial, rumah tangga, bahkan ada yang lancang untuk memanfaatkan taman kota untuk sekedar pacaran. Menebar maksiat…
Ya pagi ini aku mengajak citra untuk menikmati keindahan taman kota.
Kami duduk berdua di kursi yang sedari tadi kosong. Seakan-akan kami telah memesan kursinya dari penjaga taman jauh beberapa hari sebelumnya.
“Tamannya indah ya cit..” ujarku basa-basi.
“hmm..” jawabnya singkat. Sambil memandangi sejenak keindahan taman kota.
“citra ingat sudah berapa kali kita berkunjung kesini? Tak terhitung. Ini adalah tempat terfavorit kamu kan dari kamu kecil hingga sekarang. Walaupun sebenarnya tempat favoritmu banyak sih, warung bakso, toko roti, toko ice cream, bioskop, mall…haha” aku tertawa menghibur.
Sengaja untuk mencairkan suasana, menghilangkan kekakuan. Biasanya setelah aku menggodanya, citra langsung mencubit ku tanda tidak terima dan tertawa bersama-sama setelahnya. Tapi kali ini tidak. Citra hanya melepaskan senyum sederhana. Itupun tidak lama. Hanya berapa sekian detiknya.
“dulu citra pernah kecebur disana kan…haha?” aku menunjuk suatu lokasi kolam taman yang dihiasi air mancur. Tempat kejadian beberapa tahun silam.
“lagian, dulu kamunya norak amat. Sedikit-sedikit foto, ada hal yang unik. Foto, ada tourist. foto, ada yg lagi rame-rame. Foto. Terus liat air mancur sedikit pasti foto. Dasar.. adik yang aneh.. hehehe” aku menggoda, tertawa-tawa sambil mengusap-usap jilbab birunya. sengaja aku mengulang kejadian-kejadian masa lalu, berusaha menghibur adikku yang tetap murung. Walaupun aku sebenarnya tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Kejadian yang membuat citra begitu senewen. Karena dengan kejadian itu ia basah kuyub. Muka nya memerah, malu. Buru-buru ia menyeretku memaksa pulang. Akupun memakluminya. Walaupun sudah megalami kejadian-kejadian yg membuatnya malu, tetap saja citra. Gila foto. Kalau gak foto bukan citra namanya.
Hening. Tetap saja hening. Citra tak bergeming sedikitpun kecuali senyum-senyum dinginnya. Senyum sederhana. Terpaksa.
“kakak perhatikan beberapa minggu ini citra selalu murung. Citra mau berbagi dengan kakak?” aku mulai serius dengan pertayaanku.
“citra, mungkin masih sedih atas kematian ibu. Kakak ngerti. Kakakpun merasa sangat sedih dan kehilangan. Kalau ada orang yang paling bertanggung jawab atas kematian ibu. Kakaklah orangnya. Kakak merasa anak yang paling durhaka di dunia dan tak berguna..” aku menghentikan kalimatku. Menahan diri agar tidak ada satupu bulir airmata yang jatuh di pipi ku. Karena aku tak mau terlihat sedih didepan adik kesayangan.
Kulanjutkan kalimatku dengan hati yang bergemuruh…
“kakak minta maaf pada citra. Kakaklah penyebab kematian ibu. Coba seandainya kakak tidak terlambat datang ke Rumah Sakit Soecipto waktu itu. Mungkin ibu masih bisa terselamatkan. Mungkin kakak masih sempat mendonorkan darah. Kakak bersalah…”
“kakak bersedia mendapatkan hukuman apapun dari citra. Apapun. Tapi kakak mohon, citra tersenyum lagi.. tersenyum seperti dulu…” Kupegang erat tangan adik kesayanganku yang sedari tadi duduk tepat di sebelah kananku. Memohon agar ia tetap tersenyum seperti dulu. Namun citra tetap bungkam. Tak bergeming sedikitpun.
“citra merasa bahwa kakak tidak mempedulikan citra lagi??? Kakak begitu jahat bagi citra. Pasti citra merasa bahwa kakak tidak menyayangi citra lagi. Kakak berubah. Iya kan??” ekspresi citra berubah seketika mendengar pernyataanku barusan. Sedikit terkejut. Seakan ingin bertanya kenapa kakak bisa menebak seperti itu? .
“kemarin kakak tidak sengaja membuka diary citra. Sewaktu kakak mencari citra dikamar. Kakak melihat sebuah buku diary citra tergeletak diatas meja. Tanpa sengaja kakak membuka-bukanya. Citra menuliskan hal yang membuat kakak sangat terpukul. Disana tertulis dengan jelas: kakak sekarang tidak menyayangi citra lagi, kakak lebih asyik dengan mbak winda. Oh ibu… kenapa kau meninggalkanku sendirian disini. Tanpamu. Tanpa kakak. Aku disini bagaikan anak pungut ibu.. aku terlantarkan. Ibu jahat. Kakak jahat.” Aku berusaha membaca utuh isi diary citra.
“citra salah besar!!!” ungkapku tegas sembari memandangi mata citra lekat-lekat. Citra-pun mengangkat mukanya. Ntah karena terkejut atau mungkin ingin marah karena aku begitu lancang membuka diary nya tanpa izin.
“citra salah besar, adikku..”
“tidak pernah sedkitpun kakak berfikir ingin mengacuhkan citra, tidak pernah kakak ingin melupakan citra.. tidak pernah. Sewaktu citra pergi keluar meninggalkan makan malam yang telah susah payah mbak winda hidangkan. Kakak lebih memilih untuk mengejar citra, meninggalkan mbak winda sendirian disana.”
“kakak lebih memilih citra adikku,… karena kakak tidak ingin terjadi apa-apa terhadap citra. Walaupun mungkin kakak adalah suami yang tidak bertanggung jawab. Meninggalkan isteri yang sudah bersusah payah menyediakan hidangan makan malam. Kakak tak peduli. Kakak berusaha mengejar citra yang begitu cepat meninggalkan rumah. Tanpa pamit. Namun kakak tidak menemukan sesosok citra disekeliling rumah. Kakak terlambat mengejar citra, karena harus sedikit beradu mulut dengan mbak winda. Kakak mencari citra. Namun tetap saja tidak menemukan. Hujan pun tak kakak hiraukan. Demi mencari adik kesayanganku..”
“citra…” aku membungkukan badan, duduk tepat berada didepan citra, tetap memegang erat tangannya. menjongkokan badan. Memohon. Selayaknya seorang pangeran yang sedang merayu kekasihnya.
“kakak telah kehilangan ibu tercinta… kakak tidak ngin kehilanganan adik kesayangan kakak. Kalau citra masih berfikir kakak tidak menyayangi citra, itu salah besar adikku… kakak tidak bisa hidup tanpa seorang adik yang begitu kakak sayangi sepertimu. Walaupun kau selalu manja dengan kakak.” Air matakupun tak dapat kubendung lagi. Mukaku memerah haru.
“tak ada yang bisa kakak katakana lagi kepada citra… kakak menyayangimu citra… sangat menyayangimu… jangan pernah membenci kakak lagi.”
Aku berdiri beranjak pergi meninggalkan citra, dengan isak tangis. Sedih karena tidak sedikitpun citra menghiraukan tangisanku. Kakak yang selalu menahan rasa sedih didepannya. Aku kecewa.
Tapi tiba-tiba, ketika aku mulai beranjak, citra meraih tanganku. Mencegat kepergianku…
“kakak…” ia berdiri dan menarik tanganku. Sehingga tubuhku berbalik arah menghadapnya lagi.
“citra sayang kakak… citra sangat menyayangi kakak. Citra gak mau kehilangan kakak…” tiba-tiba ia memeluk tubuh ku seraya menangis. Mengharu biru. Menumpahkan semuanya dalam dekapanku. Akupun menerima pasrah..
“jangan pernah tinggalkan citra kak.. citralah yang salah” lanjutnya.
Akupun berbisik..
“apa peru kakak ulangi kata-kata kakak tadi??… kakak sayang citra. Kakak gak bakal meninggalkan citra.”
“cukup kak.. citra tahu. Citra minta maaf selama ini citra salah menilai..
Citrapun menangis sedu-sedan tanpa henti. Menumpahkan semuanya..
“dasar adik yang bandel…” akupun mengusap-usap jilbab birunya yang mulai lusuh…
“citra kangen kakak….”
****
<<< cerita sebelumnya : (mozaik 3) Apa kau masih sayang??
cerita selanjutnya: (Mozaik 5) Belajar dari kucing – kucing yang lucu >>>


