(mozaik 3) Apa kau masih sayang??

oleh : Susanti Eka Pratiwi

Sabtu, malam minggu.

Aku berdiri tegap di depan jendela kamarku, di lantai 2. Menatap gerimis di bawah sinar lampu jalanan. Cantik.

*****

Kamis petang.

aku meminta kakak menjemputku agak malam, karena aku harus mendampingi adik – adik angkatanku. Biasanya saat kaum adam shalat jum’at, aku dan adik-adikku mengendap – endap di bawah tangga dekanat, melingkar dan melakukan ritual pekanan. Ngaji.

Tapi  jum’at pekan ini tanggal merah, dan mereka berencana untuk pulang kerumah masing – masing. Jadinya jadwal ngaji diganti hari kamis. Ba’da ashar, saat tidak ada lagi jam kuliah, sehingga tidak mengganggu amanah terbesar orang tua. 2 ½ jam dihabiskan untuk bercengkama bersama, tilawah, kultum, berbagi berita, juga mendengarkan curhat mereka. Selalu menyenangkan, mendapat banyak pelajaran dari setiap cerita.

Pergantian jadwal itu yang membuatku tidak bisa pulang seperti biasa. Kakak selalu menjemputku pukul 5, karena pukul 4 dia sudah keluar dari kantor. Namun hari ini aku meminta kakak menunggu sampai pukul 6 karena kemungkinan selesai ngaji pukul 6.

Setelah melepas kepergian adik-adik, aku mulai melakukan pekerjaan membosankan. Menunggu kakak. Aku menuju gerbang kampus, huft…. sudah mulai gelap. Lampu jalan sudah dinyalakan semua. Tapi tetap saja ramai kendaraan tidak berkurang. Bising.

Kutolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan, kakak belum ada. Mencari kursi jalanan. Penuh. Banyak yang masih nongkrong, tapi kulihat ada satu kursi yang kosong di seberang. Baiklah, dari pada menunggu kakak sambil berdiri, kuputuskan untuk memanfaatkan kursi yang kosong di seberang.

Untung saja kursi itu lumayan strategis, tepat berada di bawah lampu jalan, terang. Aku bisa sambil membaca, atau mungkin tilawah, kurang beberapa lembar untuk mencapai satu juz. Target tilawah harianku. Sudah ada bapak – bapak yang duduk di kursi itu sebelumnya, asyik dengan majalahnya, sehingga tidak melihat anggukkanku meminta izin duduk berdampingan. Kubiarkan saja. Lagian bukan kursinya, bodo’ amat.

 

Baru satu ayat, adzan bergema. Magrib.

‘Kak, citra sholat dulu. Tunggu depan gerbang aja ya?? hehe…’ kuterbangkan pesan itu pada orang yang sekarang tak tahu sedang berada dimana. Mungkin di jalan, terjebak macet.

Bapak – bapak di sebelahku masih asyik dengan majalahnya. Tak bergeming dengan suara adzan yang mulai memekakkan, tak jelas, tak karuan, bertabrakan dari satu mesjid dengan masjid lainnya. Kacau.

Aku mulai beranjak, bapak itu tetap diam. Kenapa tidak bersegera untuk sholat? Kubiarkan saja. Bukan urusanku… bodo’!

 

******

 

Gerimis semakin rapat, lampu jalanan juga semakin indah di buatnya. Semua mobil yang lewat mulai menyalakan wiper untuk membersikan kaca mobil dari tetesan air langit itu.

Klutak klutik klutak klutik…

Mbak winda masih menyiapkan makan malam. kuduga kakak membantunya. Aku tidak membantu, malas bertemu mereka. orang yang tidak perduli lagi kepadaku. Bikin emosi. Jadi kuketapkan untuk tetap berdiri di depan jendela kamar, melihat gerimis.

*******

Hhhh…

Sudah pukul 8 malam. Sebal.

Ku cek lagi pesan terkirim di handphone. ‘Kak, citra sholat dulu. Tunggu depan gerbang aja ya?? hehe…’ kakak, pending.

 

Kulihat lagi inbox. ‘dek, bentar ya dijemputnya, kakak nganter mbak winda ke panti, insya Alllah Cuma bentar. ^^’. Huh…!! lagi – lagi mbak winda. Kenapa kakak nggak minta ke ibu atau ayah tuk belikan aku motor sih?! Dari pada menelantarkan aku sendiri. Ngedumel. Sebel.

Gerimis. Lampu jalanan semakin cantik.

Aku masih menunggu di kursi tadi. Bapak – bapak tadi juga masih duduk di sana. Bertahan dengan posisi dan majalah yang sama seperti  saat kutinggalkan ke mushola. Tetap kudiamkan. Beliau juga mendiamkan. Lagipula sekarang aku sedang sebal, semakin tidak selera menyapanya.

20.46 WIB.

semakin jengkel.

Kuambil lagi qur’an. meneruskan tilawah. Satu ayat. Dua ayat. Uh.. jengkel. Tiga ayat. Empat ayat. Huh. Jengkel banget. Kututup qur’anku. Kakak….

 

Kuambil novel yang sedari tadi berputar ulang dengan Qur’an. Entah sudah berapa kali perputaran qur’an dan novel ini. Kubaca lagi. Kenapa jadi tidak menarik?! Lagi pula kenapa bisa lupa dengan cerita di halaman – halaman sebelumnya? Uh… kakak……

 

*****

Bosan berdiri di depan jendela kamar.

Kuputuskan untuk keluar. Mengambil payung. Turun. Mengendap keluar. Kudengar kakak memanggil. Kudiamkan saja. Citra keluar sebentar, assalamu’alaikum.. tak ada yang menyahut. Bagaimana mungkin mereka akan menyahut? sedang aku tak bersuara. Tadi kuucap salam dalam hati.

Tak kuhiraukan langkah kakak mengejarku. Aku sudah terlanjur keluar.

Citra laper. Mau beli roti aja sebentar. Males makan sama kakak dan mbak winda. Masih jengkel. Maaf kakak…

 

*****

21. 55 WIB

Kukenali mobil merah yang mendekat. Aku tetap pada posisiku. Diam saja.

Kakak keluar dari mobil. Nyengir. Menghampiriku. Mengusap jilbabku yang Sedikit lembab tersiram gerimis. Tanda maafnya, gengsi mengucapkan.

Kudiamkan saja. Kutinggal masuk ke mobil. Kakak hanya diam saja. Melihatku dari belakang. Memastikan aman hingga di dalam mobil. Selanjutnya menyusulku masuk mobil, ambil kendali.

Kukira kakak akan minta maaf dan menjelaskan keterlambatannya, eh…. ternyata tidak ada kata maaf. aku malas bertanya. Jengkel.

Kulihat handphoneku. ‘tunggu kakak! Jangan naik taxi’ pesan kakak 20 menit yang lalu sebelum ia tiba. Huft… lagipula bagaimana aku bisa naik taxi. Sedang dompetku ketinggalan, tak membawa uang sepeserpun. Bahkan perutku sudah meronta dari tadi. Tak bisa membeli makanan.

‘ada cerita apa hari ini?’ kakak memecah keheningan.

Aku diam.

‘Hm…. mau makan dimana? Belum makan kan?’ lagi – lagi kakak bersuara.

Aku tetap diam. Sebenarnya citra pengen bakso.

 

Sepertinya dia mulai terganggu dengan sikapku.

‘Citra marah ma kakak?’ katanya memelan.

Diam.

Bagaimana mungkin bisa marah ma kakak. Sedang dalam lelah pun kakak tetap menjemput. Pasti kakak belum istirahat sedari tadi. Tapi aku sudah terlanjur jengkel. sesak sekali. Jengkel banget. Pengen nangis.

Kakak mengusap jilbabku. ‘maaf ya sayang…’ katanya berbisik.

Jangan menangis citra.

 

Tetap diam. Aku kan sedang marah.

*********

Jum’at pagi.

Sarapan bersama di meja makan. Setelah kejadian semalam, aku masih memasang tampang sebal. Kakak berencana pergi dengan mbak winda, mau nonton. Heran! Kenapa mesti bercerita di depanku jika tidak berniat mengajak. Dia bahkan menuduhku akan mengganggunya pacaran jika aku ikut, membuatku semakin jengkel. Ditambah lagi, pagi itu kakak tak mau mengantarku ke kampus, menyuruhku naik angkot. akhirnya aku melakukan pekerjaan yang sudah sekian lama tak kulakukan.

Rumah agak jauh dari kampus, naik angkot harus transit 2 kali. Dan tahukah? 2 kali naik angkot tak berAC menuju kampus membuat jengkel pada kakak semakin meluap – luap. Tuh kan.. apa kataku, setelah menikah pasti kakak nggak sayang lagi sama citra. Bilang ke ibu buat beliin motor juga nggak mau, apa sih maunya kakak. Ngedumel dalam hati.

Aku menyerahkan ongkos dengan ketus pada supir angkot. Maklum ya pak, aku sedang jengkel.

Lihat saja, akan kudiamkan kakak. Kalau memang tidak diperdulikan, tidak usah perdulikan juga. misi mendiamkan akan kujalankan. Meski akan sangat menyakitkan, akan kucari tahu, masihkah kakak sayang padaku?

 

******

20.50 WIB.

Hujan semakin deras, aku menunda kepulangan. Kutunggu hujan agak reda. Untung sudah kenyang, sudah makan roti. Aku beli roti ukuran jumbo,  makan di toko. Kuhabiskan sendiri. Lapar.

Aku berdiri di teras toko roti, memandangi hujan yang tetap deras. Tak  apa pulang agak malam. Toh! Toko rotinya dekat dengan rumah. Aku masih bisa melihat rumah dari sini. Aku berharap kakak menyusulku, memintaku untuk pulang bersama. Pasti akan segera kumaafkan. Tapi aku salah, kakak tidak datang. Sepertinya memang sudah tidak perduli lagi.Hhhhh…. desahku.

Jalanan semakin sepi, aku tetap berdiri di teras toko roti. kulihat jam di toko roti itu, huft…. sudah hampir pukul 11 malam. Kakak tak juga menyusulku. Tega!

 

Kulihat ke arah rumah, lantai 2 masih terang. Itu kamarku. Kulihat ke arah kamar kakak. Sudah gelap. Jahat sekali. Bukannya menyusulku malah pergi tidur duluan. Sepertinya kakak memang sudah tidak sayang lagi padaku, lebih sayang sama mbak winda. Padahal dulu kakak tak pernah membiarkan aku keluar sendiri sampai selarut ini. Ia pasti akan langsung menelpon, ngomel, menyuruhku untuk pulang segera. Tapi sekarang? Lagi pula aku sengaja meninggalkan handphone. Malas dihubungi, berharap kakak menyusul.

Kulihat jalanan menuju rumah. Nihil. Tak ada sosok yang kukenal. Kakak sungguh tak sayang lagi. Tidak menyusul. Padahal aku adik satu – satunya. Sudah tak dianggap. Dadaku sesak, Hampir menangis.

15 menit lewat dari pukul 11, aku mulai takut. Kemalamam. Hujan masih deras. Kupaksa untuk menerobos hujan. Sia – sia menunggu kakak menjemput. Dia sudah tidak sayang lagi. Takkan menjemput. mataku agak berat. Sepertinya aku tak kuat lagi menahan tangis. Aku menangis.

 

Kututup payungku, kubiarkan hujan mesra membelaiku. basah kuyup. biar air mataku tak terlihat, bergabung dengan derasnya hujan. Kudongakkan kepalaku ke langit. Hujan semakin deras menyentuh pipiku. Sakit.

Kakak benar- benar tega, tidak lagi mencemaskanku. Air mataku meleleh banyak, tapi tak terlihat karena siraman hujan. Namun senggukan yang kutimbulkan pasti akan membuat orang yang tidak melihat akan tahu kalau aku sedang menangis.

Berjalan pelan menuju gerbang rumah. Ada seseorang berjalan di belakang, tak kuhiraukan. Siapapun dia, aku tak perduli. Paling – paling tetanggaku, jikapun itu penculik, tak apa, mungkin kalau aku diculik kakak akan cemas. memberikan kembali separuh hatinya untukku, tidak seperti sekarang, yang seluruh hatinya telah diberikan pada mbak winda.

Aku sudah berada di depan gerbang rumah. Kamar kakak benar – benar sudah gelap. Aku berhenti. Heran! Kenapa tidak segera diculik? (masih sesenggukan, sepertinya hidungku ikut meler, entah efek nangis atau efek kehujanan). Namun, Tiba – tiba kurasakan air hujan tak lagi membasahi, ada yang meletakkan payung di atas kepalaku.

Kuputar kepalaku.

Kakak….

 

2 hari aku mendiamkannya, kukira dia tak lagi perduli padaku. Ternyata aku salah. Kakak memperhatikan aku sejak keluar dari rumah. Menyusulku, tidak makan malam.

Aku  melihatnya dengan hidung meler, masih sesenggukan. Dia tersenyum.

Menarik bahuku, memelukku.

‘jangan pernah mendiamkan kakak lagi, ini lebih ampuh untuk membunuh dari pada omelanmu, kecuali citra memang berniat mau bunuh kakak?’ katanya berbisik. Serak..

Kakak mengeratkan pelukannya ‘kakak sayang sama citra!’ Semakin serak.

Aku salah, ternyata ia masih perduli. Hujan – hujanan memperhatikan di bawah pohon samping toko roti. membiarkan aku sendiri.

Kerongkonganku tercekat. Aku tak bisa berkata lagi. Tangisku membuncah.Semakin sesenggukan. Semakin meler.

***

<<<< Cerita sebelumnya : (Mozaik 2) tak ada yang bisa kukatakan, Aku Menyayangimu… Bag.1

Cerita selanjutnya : (Mozaik 4) tak ada yang bisa kukatakan, aku sayang kamu… bag >>>

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.