Kupersembahkan untukmu, ayah. *seri sarjana – sarjana
Alim M Wiltom, Palembang, 05 Oktober 2011 pukul 09 : 11
“Kamu kapan wisuda?”
“Ah, nyantai aja Yah mungkin masih agak lama, dikampus ada banyak pengalaman yang dapat ku gali.” Jawabku kepada Ayah diseberang pulau. Entah sudah berapa kali Ayah menanyakan hal yang serupa. Membuatku sedikit jengkel berkali-kali menjelaskan bahwa kuliahku pasti akan selesai, hanya saja butuh waktu yang sedikit agak lama.
“Lagi pula yang penting saya dapat kerja yang layak kan? Gelar gak terlalu pentinglah.Yang penting kerja, kerja, dan kerja.” Sambungku lagi sedikit ketus.
“Mbokya, diselesaikan secepatnya. Masa’ Dina tetangga kita yang kuliahnya bareng kamu aja katanya udah mau selesai. Tinggal tunggu jadwal wisuda. Lha kamu kapan??” kali ini Ayah membanding-bandingkan aku dengan Dina tetangga kami yang memang kuliahnya berbarengan dengan saya, pun dikampus yang sama. Hanya saja dia menggeluti bidang Ekonomi. Sedangkan aku Keguruan. Memang sih Dina lebih rajin dibanding saya untuk masalah akademis. Kalau teman-teman saya bilang dia orangnya study oriented.
“Tapi kalau memang kamu masih banyak urusan yang mendukung masa depan kamu kelak dan itu sangat penting, ya gakpapa. Ayah tunggu kabarnya saja disini. Udah dulu ya Nak, Ayah mau ke ladang lagi. Assalamualaikum…” tiba-tiba Ayahku memelankan suaranya. Mengalah.
“Oh ya,.. nanti rianti kabarin lagi ya Yah… waalaikum salam..” tut.. tutt.. tutt.. handphonenya pun saya tutup setelah Ayah menutup handphonenya lebih dulu.
Hari ini ada banyak hal yang harus kuselesaikan. Bukan saja masalah skripsi yang njelimet, dari semester dua aku memang sudah ikut dalam kegiatan – kegiatan sosial. Aku ikut dalam kegiatan Palang Merah Remaja dikampusku. Sesuai jadwal, hari ini ada kegiatan donor darah bagi mahasiswa kampus yang ingin mendonorkan darahnya. Aku dipercayakan oleh teman – teman sebagai sekretaris pelaksana kegiatan. Tentunya ini membuatku menjadi sibuk. Sehingga aku melupakan skripsiku walaupun sebenarnya tanpa kegiatan inipun aku memang rada malas mengerjakan skripsiku. Belum ada minat. Karena obsesiku bukan menjadi seorang akademisi. Belum lagi dengan usahaku. Oh iya aku hampir lupa, bahwa aku sekarang sudah mulai usaha kecil-kecilan. Ya lumayan untuk mencukupi keperluanku dikampus dan Alhamdulillah aku juga bisa menabung setiap bulannya. Jaga – jaga kalau ada keperluan mendadak. Aku selalu berfikir bahwa Ayahku pasti akan sangat senang dikampung, kalau nantinya aku sudah punya tabungan sendiri yang jumlahnya akan mengagetkan seisi keluarga tentunya. Karena usahaku boleh dibilang lumayan lancar. Sejauh ini belum ada kendala yang begitu menyulitkan. “lihatlah, setelah lulus nanti aku akan membahagiakan Ayah…”
Ada satu lagi yang akan membuat Ayah bahagia dariku. Ayah selalu mengirimiku uang untuk keperluan sehari – hari disini. Aku tidak pernah sedikitpun menggunakan uang hasil jerih keringat Ayah untuk hal – hal yang tidak bermanfaat. Apalagi untuk hal-hal yang berbau dosa. Kugunakan uang Ayah hanya untuk keperluan yang baik, karena aku yakin dengan penggunaan yang baik maka Ayah akan mendapatkan pahala yang akan membawanya ke syurga kelak. Aku tidak pernah lupa untuk berinfak, setidaknya seribu rupiah satu harinya. Itu komitmenku. Terkadang juga uangku sering terpakai untuk keperluan organisasiku. Karena biasanya keuangan organisasi tidak menentu. Jadi harus ada yang rela untuk merogoh koceknya masing – masing dari anggota. Akupun ikut andil. Kata ustadzah – ustadzah yang pernah kudengar “bahwa jika kita ikhlas akan harta kita digunakan pada jalan yang benar, maka InsyaAllah akan bernilai pahala.” Ini yang kudapatkan dalam pengajian rutinku.
“Dina??! Kamu ikutan donor darah juga?” tanyaku heran sewaktu ketemu Dina di lokasi donor darah yang baru saja disebut-sebut Ayah ditelpon.
“Iyalah Ti. Masa’ enggak. Setidaknya Aku bisa menyumbangkan darahku dipenghujung hariku di kampus ini. Aku ingin bermanfaat bagi orang lain, walaupun hanya sedkit ini. Hehe..” jawab Dina nyengir.
“Hmm… udah mau lulus aja, baru mau gabung sama acara kita-kita. Kemarin – kemarin kemana aja?” sindirku.
“Hehe…” kali ini mulutnya semakin lebar nyengir.
Dina memang selalu gokil. Walaupun sangat serius ketika sedang belajar. Dulu sewaktu disekolah hampir setiap tahunnya ia juara umum.
“Oh iya Ti..” sela Dina.
“Ya?” jawabku heran.
“KAMU tahu jadwal wisuda gak?”
“Yah, malah nanya aku.” Jawabku sebal.
“Tahu gak, wisuda dikampus kita dua bulan lagi lho. Aku tadi gak sengaja dengar dari Pak Hartono dosen manajemenku.”
“Terus?”
“Aku harap, nanti kamu dan Bapak bisa menjadi pendampingku ya di wisuda. Keluargaku pada gak bisa ikut semua.”
“InsyaAllah… nanti aku bilang Ke Ayah.“ jawabku sedikit serau. Aku tahu betul apa yang dimaksud Dina dengan keluargaku pada gak bisa ikut. Tentulah tidak bisa. Di desa, Dina hanya tinggal bersama Embahnya yang sudah sangat berumur. Nampaknya tidak memungkinkan sekali untuk ikut menyeberang lautan. Ayah Ibu nya? Entahlah, sedari kecil Ayah Ibunya sudah tidak ada. Sudah meninggal. Kata Ayah karena sakit keras. Dan Paman – Pamannya. Jauh merantau. Jangankan untuk dating menghadiri wisuda, pulang kampung saja hampir tidak pernah. Jadilah ia hidup bersama Embahnya. Biasanya memang, segala sesuatunya Dina minta bantuan ke Ayah. Dina sangat dekat dengan keuarga kami. Bahkan sudah menjadi bagian keluarga kami.
“Oh iya Din, tadi ditanyain Ayah.” Sambungku.
“Iyakah?”
“Iya, tadi pagi Ayah telpon. Terus Tanya kabarmu.” Jawabku sedikit berohong supaya Dina semakin senang. Sedikit bohong untuk kebaikan kan tidak masalah. Ini juga salah satu yang kudapat dari pengajianku.
“Wah… jadi pengen telpon Ayah..” sahut Dina.
“Ya, makanya telpon sana, tanyain kabarnya dan ngomong langsung aja ke Ayah kalau dua bulan lagi kamu wisuda dan minta Ayah sebagai pendampingnya diwisuda nanti.”
“Ya, nanti deh.. Setelah ini.” jawab Dina yakin.
***
JOKO SANTOSO, SARJANA HUKUM. SH. IPK TIGA KOMA DUA DUA, DENGAN PREDIKAT, BAIK.
BUDI RAHARJO, SARJANA HUKUM. SH. IPK TIGA KOMA EMPAT SATU, DENGAN PREDIKAT, AMAT BAIK.
“Ti, coba kamu lihat mereka – mereka yang wisuda hari ini. Mereka begitu bahagia.” Dina berbisik ditelingaku disela – sela penyematan Toga tanda kelulusan oleh Rektor kepada Mahasiswa yang wisuda satu persatu.
Kuperhatikan satu persatu mereka – mereka. Tampak semburat ekspresi bahagia dari mereka. “Hmm…”
“Kamu lihat orang itu!” Dina menunjuk salah satu peserta wisuda. Akupun langsung menoleh.
“Kamu tahu Ti, Apa yang ia lakukan dalam wisuda ini?” Dina menghardiku. Akupun menggeleng pelan.
“Ia membawa keluarganya juga. Sama sepertiku membawa Ayah dan juga Kamu. Tapi apa yang membuatnya sungguh berbeda? Ayahnya Ti. Demi ingin melihat anaknnya untuk penyematan sarjana hari ini. Ayahnya yang mempunyai cacat dikakinya rela untuk hadir dan nanti, terpaksa Ayahnya yang sedikit pincang kalau berjalan, dengan di papah anaknya yang wisuda hari ini selangkah demi selangkah menuju panggung penyematan. Tapi Ayahnya tidak pernah susah. Ia bahagia Ti, begitu bahagia dan bangganya ia melihat anaknya berhasil. Bahagia melihat anaknya yang mendapat gelar Sarjana, sedangkan ia, Sekolah Dasar pun tidak selesai.” Dina selalu menyemangatiku yang sedari tadi duduk disampingnya bersama Ayahku. Menjelaskan apa – apa yang luarbiasa terjadi ketika wisuda berlangsung.
“Dan coba kau tengok disamping kita! Kursi ketiga setelah kita.” Kali ini Dina tidak menunjuk dengan tangannya. Walaupun begitu, aku melihat persis siapa yang Dina maksud.
“Ayahnya keren bukan. Necis. Rapi. Berdasi, ber Jas. Tapi kau tahu Ti? Untuk datang pada wisuda anaknya. Ia rela mencari jas yang bisa di sewa hanya untuk hari ini. Kemarin anaknya Tanya kepadaku tempat penyewaan jas dan pakaian kebaya untuk ia dan Ibunya. Padahal aku tahu betul bagaimana kondisi keluarga mereka. Aku kenal betul dengan anaknya dan ia selalu cerita tentang kondisi keluarganya. Untuk makan saja mereka hutang – menghutang. Atau bahkan menghemat makan hanya satu kali sehari. Tentunya akan mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk sewa pakaian. Tapi apa yang Ayahnya bilang pada anaknya, masalah uang tidak usah kau fikirkan ya Nak, yang jelas Kamu, Ayah dan Ibu harus terlihat rapi. Supaya nanti ketika di foto Ayah dan Ibu tidak malu – maluin kamu. Ayah bisa mengusahakan uangnya. Dan kita bisa pajang di dinding rumah. Supaya orang – orang tahu, bahwa kau sudah bergelar sarjana.” Kali ini Dina membuatku tertegun, mengingat – ingat kembali apa yang telah kulakukan. Menunda kelulusan. Menunda wisuda.
“Dan masih banyak lagi orang – orang disini yang berkorban hanya untuk wisuda anaknya. Ada yang libur kerja, menelantarkan sawah dan masih banyak lagi. Tahu apa yang mereka fikirkan? Bukan hanya saja agar anak – anaknya bisa mendapat kerja yang layak Ti, tapi wisuda ini sebagai hadiah pertama kita untuk Keluarga. Ayah yang banting tulang, peras keringat hanya sekedar membiayai kita kuliah. Dan ia tidak pernah mencicipi apa itu manisnya kuliah. Tidakkah kita berfikir kalau seandainya kita hitung dari awal biaya kuliah sampai sekarang, sudah berapa juta uang Ayah kita habiskan? Bahkan mungkin bisa sampai puluhan juta. Atau mungkin ratusan. Dengan wisuda inilah setidaknya kita bisa membuat Ayah kita bangga walaupun tidak pernah mencicipi puluhan juta biaya untuk kuliah. Wisuda adalah hadiah Ti, wisuda adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi Ayah kita yang tidak bisa menyelesaikan sekolah dasar ini.” Aku tertunduk lesu setelah begitu panjang Dina menjabarkan alasan mengapa harus wisuda. Nampaknya Dina memang sengaja mengajakku untuk menjadi pendamping wisuda nya. Supaya tergerak hatiku untuk segera menyelesaikan wisuda. Ingin rasanya aku menitikan air mata. Bahwa aku belum bisa membahagiakan Ayahku.
“Coba kau perhatikan Ayahmu Ti.” Kali ini Dina memaksaku untuk melihat semburat wajah Ayah. Yang semakin tua dan keriput.
“Tidakkah kau memperhatikan ekspresi Ayahmu? Dari tadi Ayahmu memanjang manjangkan lehernya melihat orang – orang bersama anak – anaknya dalam penyematan gelar. Sesekali Ayahmu senyum, sesekali matanya berkaca – kaca. Aku sangat yakin Ayahmu sangat merindukanmu memakai Toga, Rianti, bangga mendampingimu. Bisa melihat anaknya mendapat gelar sarjana. Aku yakin Ayahmu telah menunggu – nunggu itu bertahun – tahun. Tidakkah kau mampu menyadari harapan Ayahmu itu?” Dina semakin memojokkanku. Ingin sekali rasanya aku menangis dan memohon maaf kepada Ayah. Ternyata Dina benar ternyata bukan saja kekayaan yang orang tua inginkan. Tapi lebih dari itu adalah kebahagiaan dan rasa bangga.
“Ah, kamu sangat beruntung Ti.” Dina melanjutkan kata – katanya.
“Kamu sangat beruntung mempunyai Ayah sepertinya, yang begitu pengertian kepadamu. Kamu masih beruntung bahwa Ayahmu bisa selalu menelponmu, menanyakan kabar. Tentunya kamu tidak ingin sepertiku kan? Begitu sedih Ti. Bayangkan kalau seandainya kamu dalam posisiku. Yang walaupun aku bisa meraih segudang prestasi, namun aku tidak bisa membahagiakan siapa – siapa. Aku tidak bisa mempersembahkan gelar kesarjanaanku ini kepada Ayahku, Ibuku atau keluargaku yang lain. Aku hanya bisa bersimpuh dan berdoa untuk Ayah Ibuku. Aku berharap nanti ketika aku dikumpulkan kepada mereka diakhirat, aku bisa berbangga kepada Ayah Ibuku bahwa aku sudah bergela sarjana. Pastilah Ayah Ibuku sangat bangga…..”
“Din,… kamu benar. Seharusnya aku bisa membaca harapan Ayahku.” aku memotong pembicaraan dina seketika. Dina berhenti bicara dan menoleh kearahku…
“Tunggu sebentar. Aku minta waktu untuk berbicara kepada ayah..” aku memutar badanku kearah samping kanan. Tepat menghadap pada posisi Ayah yang sedari tadi sangat asyik melihat orang – orang dalam penyematan toga kesarjanaan.
“Yah,…” aku mencoba bicara kepada ayah dengan sedikit lirih. Ayahku memandangku heran.
“Yah,.. Rianti minta maaf Yah… mau kah Ayah memaafkan Rianti?
“Maaf untuk apa Nak?” Ayahku bertanya semakin penasaran.
“Rianti belum bisa wisuda hari ini. Rianti mengabaikan pesan Ayah untuk segera wisuda. Rianti minta maaf Yah…. Tapi Rianti janji, enam bulan kedepan dijadwal wisuda yang kedua, Rianti akan membuat Ayah bangga. Bahwa Ayah bisa melihat Rianti mendapat penyematan toga kesarjanaan. Nanti kita bisa befoto bersama dan kita pasang foto kita dinding rumah kita. Rianti akan mempersembahkan semuanya untuk Ayah. Rianti janji. Ayah mau kan memaafkan Rianti..?” Ayah diam saja. Matanya semakin berkaca – kaca melihat aku yang meyakinkan Ayah bahwa pasti akan wisuda pada jadwal wisuda di kesempatan kedua.
“Tidak ada yang harus dimintamaafkan dan tidak ada yang harus dimaafkan Nak… Rianti tidak salah. Yang jelas, mulai dari sekarang Rianti rajin – rajin kuliah, gapai semua impian yang Rianti inginkan, jangan disisakan. Ayah akan menunggu Rianti wisuda seberapapun lama waktunya. Laukakan apa – apa yang mendukung masa depanmu Nak. Rianti gak usah mengkhawatirkan Ayah, Ayah baik – baik saja.” Ayah tersenyum.
Ayah selalu membesarkan hatiku, tidak pernahlah ia marah denganku. Apapun yang kulakukan ayah selalu mendukungku.
“Iya Yah… InsyaAllah… Rianti janji. Untuk Ayah.” Aku dan Ayah tersenyum. Dina yang sedari tadi melihatkupun ikut tersenyum bangga.
DINA HERLIANA, SARJANA EKONOMI. SE. IPK. TIGA KOMA DELAPAN LIMA, DENGAN PREDIKAT, CUMLAUDE.
“Nampaknya giliranku Ti, ayo kita maju kedepan, bersama Ayah juga.” Kini akhirnya giliran Dina mendapatkan Penyematan Toga kesarjanaan dengan nilai begitu mumuaskan, cumlaude.
***
Alim M Wiltom, Palembang, 05 Oktober 2011 pukul 09 : 11





