Kupersembahkan untukmu, ayah. *seri sarjana – sarjana

 Alim M Wiltom, Palembang, 05 Oktober 2011 pukul 09 : 11

“Kamu kapan wisuda?”

“Ah, nyantai aja Yah mungkin masih agak lama, dikampus ada banyak pengalaman yang dapat ku gali.” Jawabku kepada Ayah diseberang pulau. Entah sudah berapa kali Ayah menanyakan hal yang serupa. Membuatku sedikit jengkel berkali-kali menjelaskan bahwa kuliahku pasti akan selesai, hanya saja butuh waktu yang sedikit agak lama.

“Lagi pula yang penting saya dapat kerja yang layak kan? Gelar gak terlalu pentinglah.Yang penting kerja, kerja, dan kerja.” Sambungku lagi sedikit ketus.

“Mbokya, diselesaikan secepatnya. Masa’ Dina tetangga kita yang kuliahnya bareng kamu aja katanya udah mau selesai. Tinggal tunggu jadwal wisuda. Lha kamu kapan??” kali ini Ayah membanding-bandingkan aku dengan Dina tetangga kami yang memang kuliahnya berbarengan dengan saya, pun dikampus yang sama. Hanya saja dia menggeluti bidang Ekonomi. Sedangkan aku Keguruan. Memang sih Dina lebih rajin dibanding saya untuk masalah akademis. Kalau teman-teman saya bilang dia orangnya study oriented.

“Tapi kalau memang kamu masih banyak urusan yang mendukung masa depan kamu kelak dan itu sangat  penting, ya gakpapa. Ayah tunggu kabarnya saja disini. Udah dulu ya Nak, Ayah mau ke ladang lagi. Assalamualaikum…” tiba-tiba Ayahku memelankan suaranya. Mengalah.

“Oh ya,.. nanti rianti kabarin lagi ya Yah… waalaikum salam..” tut.. tutt.. tutt.. handphonenya pun saya tutup setelah Ayah menutup handphonenya lebih dulu.

Hari ini ada banyak hal yang harus kuselesaikan. Bukan saja masalah skripsi yang njelimet, dari semester dua aku memang sudah ikut dalam kegiatan – kegiatan sosial. Aku ikut dalam kegiatan Palang Merah Remaja dikampusku. Sesuai jadwal, hari ini ada kegiatan donor darah bagi mahasiswa kampus yang ingin mendonorkan darahnya. Aku dipercayakan oleh teman – teman sebagai sekretaris pelaksana kegiatan. Tentunya ini membuatku menjadi sibuk. Sehingga aku melupakan skripsiku walaupun sebenarnya tanpa kegiatan inipun aku memang rada malas mengerjakan skripsiku. Belum ada minat. Karena obsesiku bukan menjadi seorang akademisi. Belum lagi dengan usahaku. Oh iya aku hampir lupa, bahwa aku sekarang sudah mulai usaha kecil-kecilan. Ya lumayan untuk mencukupi keperluanku dikampus dan Alhamdulillah aku juga bisa menabung setiap bulannya. Jaga – jaga kalau ada keperluan mendadak. Aku selalu berfikir bahwa Ayahku pasti akan sangat senang dikampung, kalau nantinya aku sudah punya tabungan sendiri yang jumlahnya akan mengagetkan seisi keluarga tentunya. Karena usahaku boleh dibilang lumayan lancar. Sejauh ini belum ada kendala yang begitu menyulitkan. “lihatlah, setelah lulus nanti aku akan membahagiakan Ayah…”

Ada satu lagi yang akan membuat Ayah bahagia dariku. Ayah selalu mengirimiku uang untuk keperluan sehari – hari disini. Aku tidak pernah sedikitpun menggunakan uang hasil jerih keringat Ayah untuk hal – hal yang tidak bermanfaat. Apalagi untuk hal-hal yang berbau dosa. Kugunakan uang Ayah hanya untuk keperluan yang baik, karena aku yakin dengan penggunaan yang baik maka Ayah akan mendapatkan pahala yang akan membawanya ke syurga kelak. Aku tidak pernah lupa untuk berinfak, setidaknya seribu rupiah satu harinya. Itu komitmenku. Terkadang juga uangku sering terpakai untuk keperluan organisasiku. Karena biasanya keuangan organisasi tidak menentu. Jadi harus ada yang rela untuk merogoh koceknya masing – masing dari anggota. Akupun ikut andil. Kata ustadzah – ustadzah yang pernah kudengar “bahwa jika kita ikhlas akan harta kita digunakan pada jalan yang benar, maka InsyaAllah akan bernilai pahala.” Ini yang kudapatkan dalam pengajian rutinku.

“Dina??! Kamu ikutan donor darah juga?” tanyaku heran sewaktu ketemu Dina di lokasi donor darah yang baru saja disebut-sebut Ayah ditelpon.

“Iyalah Ti. Masa’ enggak. Setidaknya Aku bisa menyumbangkan darahku dipenghujung hariku di kampus ini. Aku ingin bermanfaat bagi orang lain, walaupun hanya sedkit ini. Hehe..” jawab Dina nyengir.

“Hmm… udah mau lulus aja, baru mau gabung sama acara kita-kita. Kemarin – kemarin kemana aja?” sindirku.

“Hehe…” kali ini mulutnya semakin lebar nyengir.

Dina memang selalu gokil. Walaupun sangat serius ketika sedang belajar. Dulu sewaktu disekolah hampir setiap tahunnya ia juara umum.

“Oh iya Ti..” sela Dina.

“Ya?” jawabku heran.

“KAMU tahu jadwal wisuda gak?”

“Yah, malah nanya aku.” Jawabku sebal.

“Tahu gak, wisuda dikampus kita dua bulan lagi lho. Aku tadi gak sengaja dengar dari Pak Hartono dosen manajemenku.”

“Terus?”

“Aku harap, nanti kamu dan Bapak bisa menjadi pendampingku ya di wisuda. Keluargaku pada gak bisa ikut semua.”

InsyaAllah… nanti aku bilang Ke Ayah.“ jawabku sedikit serau. Aku tahu betul apa yang dimaksud Dina dengan keluargaku pada gak bisa ikut. Tentulah tidak bisa. Di desa, Dina hanya tinggal bersama Embahnya yang sudah sangat berumur. Nampaknya tidak memungkinkan sekali untuk ikut menyeberang lautan. Ayah Ibu nya? Entahlah, sedari kecil Ayah Ibunya sudah tidak ada. Sudah meninggal. Kata Ayah karena sakit keras. Dan Paman – Pamannya. Jauh merantau. Jangankan untuk dating menghadiri wisuda, pulang kampung saja hampir tidak pernah. Jadilah ia hidup bersama Embahnya. Biasanya memang, segala sesuatunya Dina minta bantuan ke Ayah. Dina sangat dekat dengan keuarga kami. Bahkan sudah menjadi bagian keluarga kami.

“Oh iya Din, tadi ditanyain Ayah.” Sambungku.

“Iyakah?”

“Iya, tadi pagi Ayah telpon. Terus Tanya kabarmu.” Jawabku sedikit berohong supaya Dina semakin senang. Sedikit bohong untuk kebaikan kan tidak masalah. Ini juga salah satu yang kudapat dari pengajianku.

“Wah… jadi pengen telpon Ayah..” sahut Dina.

“Ya, makanya telpon sana, tanyain kabarnya dan ngomong langsung aja ke Ayah kalau dua bulan lagi kamu wisuda dan minta Ayah sebagai pendampingnya diwisuda nanti.”

“Ya, nanti deh.. Setelah ini.” jawab Dina yakin.

***

JOKO SANTOSO, SARJANA HUKUM. SH. IPK TIGA KOMA DUA DUA, DENGAN PREDIKAT, BAIK.

BUDI RAHARJO, SARJANA HUKUM. SH. IPK TIGA KOMA EMPAT SATU, DENGAN PREDIKAT, AMAT BAIK.

“Ti, coba kamu lihat mereka – mereka yang wisuda hari ini. Mereka begitu bahagia.”  Dina berbisik ditelingaku disela – sela penyematan Toga tanda kelulusan oleh Rektor kepada Mahasiswa yang wisuda satu persatu.

Kuperhatikan satu persatu mereka – mereka. Tampak semburat ekspresi bahagia dari mereka. “Hmm…”

“Kamu lihat orang itu!” Dina menunjuk salah satu peserta wisuda. Akupun langsung menoleh.

“Kamu tahu Ti, Apa yang ia lakukan dalam wisuda ini?” Dina menghardiku. Akupun menggeleng pelan.

“Ia membawa keluarganya juga. Sama sepertiku membawa Ayah dan juga Kamu. Tapi apa yang membuatnya sungguh berbeda? Ayahnya Ti. Demi ingin melihat anaknnya untuk penyematan sarjana hari ini. Ayahnya yang mempunyai cacat dikakinya rela untuk hadir dan nanti, terpaksa Ayahnya yang sedikit pincang kalau berjalan, dengan di papah anaknya yang wisuda hari ini selangkah demi selangkah menuju panggung penyematan. Tapi Ayahnya tidak pernah susah. Ia bahagia Ti, begitu bahagia dan bangganya ia melihat anaknya berhasil. Bahagia melihat anaknya yang mendapat gelar Sarjana, sedangkan ia, Sekolah Dasar pun tidak selesai.” Dina selalu menyemangatiku yang sedari tadi duduk disampingnya bersama Ayahku. Menjelaskan apa – apa yang luarbiasa terjadi ketika wisuda berlangsung.

“Dan coba kau tengok disamping kita! Kursi ketiga setelah kita.” Kali ini Dina tidak menunjuk dengan tangannya. Walaupun begitu, aku melihat persis siapa yang Dina maksud.

“Ayahnya keren bukan. Necis. Rapi. Berdasi, ber Jas. Tapi kau tahu Ti? Untuk datang pada wisuda anaknya. Ia rela mencari jas yang bisa di sewa hanya untuk hari ini. Kemarin anaknya Tanya kepadaku tempat penyewaan jas dan pakaian kebaya untuk ia dan Ibunya. Padahal aku tahu betul bagaimana kondisi keluarga mereka. Aku kenal betul dengan anaknya dan ia selalu cerita tentang kondisi keluarganya. Untuk makan saja mereka hutang – menghutang. Atau bahkan menghemat makan hanya satu kali sehari. Tentunya akan mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk sewa pakaian. Tapi apa yang Ayahnya bilang pada anaknya, masalah uang tidak usah kau fikirkan ya Nak, yang jelas Kamu, Ayah dan Ibu harus terlihat rapi. Supaya nanti ketika di foto Ayah dan Ibu tidak malu – maluin kamu. Ayah bisa mengusahakan uangnya. Dan  kita bisa pajang di dinding rumah. Supaya orang – orang tahu, bahwa kau sudah bergelar sarjana.” Kali ini Dina membuatku tertegun, mengingat – ingat kembali apa yang telah kulakukan. Menunda kelulusan. Menunda wisuda.

“Dan masih banyak lagi orang – orang disini yang berkorban hanya untuk wisuda anaknya. Ada yang libur kerja, menelantarkan sawah dan masih banyak lagi. Tahu apa yang mereka fikirkan? Bukan hanya saja agar anak – anaknya bisa mendapat kerja yang layak Ti, tapi wisuda ini sebagai hadiah pertama kita untuk Keluarga. Ayah yang banting tulang, peras keringat hanya sekedar membiayai kita kuliah. Dan ia tidak pernah mencicipi apa itu manisnya kuliah. Tidakkah kita berfikir kalau seandainya kita hitung dari awal biaya kuliah sampai sekarang, sudah berapa juta uang Ayah kita habiskan? Bahkan mungkin bisa sampai puluhan juta. Atau mungkin ratusan. Dengan wisuda inilah setidaknya kita bisa membuat Ayah kita bangga walaupun tidak pernah mencicipi puluhan juta biaya untuk kuliah. Wisuda adalah hadiah Ti, wisuda adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi Ayah kita yang tidak bisa menyelesaikan sekolah dasar ini.” Aku tertunduk lesu setelah begitu panjang Dina menjabarkan alasan mengapa harus wisuda. Nampaknya Dina memang sengaja mengajakku untuk menjadi pendamping wisuda nya. Supaya tergerak hatiku untuk segera menyelesaikan wisuda. Ingin rasanya aku menitikan air mata. Bahwa aku belum bisa membahagiakan Ayahku.

“Coba kau perhatikan Ayahmu Ti.” Kali ini Dina memaksaku untuk melihat semburat wajah Ayah. Yang semakin tua dan keriput.

“Tidakkah kau memperhatikan ekspresi Ayahmu? Dari tadi Ayahmu memanjang manjangkan lehernya melihat orang – orang bersama anak – anaknya dalam penyematan gelar. Sesekali Ayahmu senyum, sesekali matanya berkaca – kaca. Aku sangat yakin Ayahmu sangat merindukanmu memakai Toga, Rianti, bangga mendampingimu. Bisa melihat anaknya mendapat gelar sarjana. Aku yakin Ayahmu telah menunggu – nunggu itu bertahun – tahun. Tidakkah kau mampu menyadari harapan Ayahmu itu?” Dina semakin memojokkanku. Ingin sekali rasanya aku menangis dan memohon maaf kepada Ayah. Ternyata Dina benar ternyata bukan saja kekayaan yang orang tua inginkan. Tapi lebih dari itu adalah kebahagiaan dan rasa bangga.

“Ah, kamu sangat beruntung Ti.” Dina melanjutkan kata – katanya.

“Kamu sangat beruntung mempunyai Ayah sepertinya, yang begitu pengertian kepadamu. Kamu masih beruntung bahwa Ayahmu bisa selalu menelponmu, menanyakan kabar. Tentunya kamu tidak ingin sepertiku kan? Begitu sedih Ti. Bayangkan kalau seandainya kamu dalam posisiku. Yang walaupun aku bisa meraih segudang prestasi, namun aku tidak bisa membahagiakan siapa – siapa. Aku tidak bisa mempersembahkan gelar kesarjanaanku ini kepada Ayahku, Ibuku atau keluargaku yang lain. Aku hanya bisa bersimpuh dan berdoa untuk Ayah Ibuku. Aku berharap nanti ketika aku dikumpulkan kepada mereka diakhirat, aku bisa berbangga kepada Ayah Ibuku bahwa aku sudah bergela sarjana. Pastilah Ayah Ibuku sangat bangga…..”

“Din,… kamu benar. Seharusnya aku bisa membaca harapan Ayahku.” aku memotong pembicaraan dina seketika. Dina berhenti bicara dan menoleh kearahku…

“Tunggu sebentar. Aku minta waktu untuk berbicara kepada ayah..” aku memutar badanku kearah samping kanan. Tepat menghadap pada posisi Ayah yang sedari tadi sangat asyik melihat orang – orang dalam penyematan toga kesarjanaan.

“Yah,…” aku mencoba bicara kepada ayah dengan sedikit lirih. Ayahku memandangku heran.

“Yah,.. Rianti minta maaf Yah… mau kah Ayah memaafkan Rianti?

“Maaf untuk apa Nak?” Ayahku bertanya semakin penasaran.

“Rianti belum bisa wisuda hari ini. Rianti mengabaikan pesan Ayah untuk segera wisuda. Rianti minta maaf Yah…. Tapi Rianti janji, enam bulan kedepan dijadwal wisuda yang kedua, Rianti akan membuat Ayah bangga. Bahwa Ayah bisa melihat Rianti mendapat penyematan toga kesarjanaan. Nanti kita bisa befoto bersama dan kita pasang foto kita dinding rumah kita. Rianti akan mempersembahkan semuanya untuk Ayah. Rianti janji. Ayah mau kan memaafkan Rianti..?” Ayah diam saja. Matanya semakin berkaca – kaca melihat aku yang meyakinkan Ayah bahwa pasti akan wisuda pada jadwal wisuda di kesempatan kedua.

“Tidak ada yang harus dimintamaafkan dan tidak ada yang harus dimaafkan Nak… Rianti tidak salah. Yang jelas, mulai dari sekarang Rianti rajin – rajin kuliah, gapai semua impian yang Rianti inginkan, jangan disisakan. Ayah akan menunggu Rianti wisuda seberapapun lama waktunya. Laukakan apa – apa yang mendukung masa depanmu Nak. Rianti gak usah mengkhawatirkan Ayah, Ayah baik  – baik saja.” Ayah tersenyum.

 Ayah selalu membesarkan hatiku, tidak pernahlah ia marah denganku. Apapun yang kulakukan ayah selalu mendukungku.

“Iya Yah… InsyaAllah… Rianti janji. Untuk Ayah.” Aku dan Ayah tersenyum. Dina yang sedari tadi melihatkupun ikut tersenyum bangga.

DINA HERLIANA, SARJANA EKONOMI. SE. IPK. TIGA KOMA DELAPAN LIMA, DENGAN PREDIKAT, CUMLAUDE.

“Nampaknya giliranku Ti, ayo kita maju kedepan, bersama Ayah juga.” Kini akhirnya giliran Dina mendapatkan Penyematan Toga kesarjanaan dengan nilai begitu mumuaskan, cumlaude.

***

Alim M Wiltom, Palembang, 05 Oktober 2011 pukul 09 : 11

Memahami lebih dalam Peran Konstitusi Kemahasiswaan (Studi Analisis Kampus IAIN Raden fatah Palembang)

Oleh : Alim Muslimin ket. DPM IAIN RF tahun 2010

 

Aktivis mahasiswa seharusnya sudah bisa dengan gamblang menjelaskan rule of the game (aturan main) yang menjadi kitab suci dalam kancah perpolitikan mahasiswa. Tidak kemudian gagu dan udik dengan konstitusi, salah tafsir, atau bahkan sama sekali tak mengerti apa dan mengapa aturan tersebut. Terlebih telah menyandang status sebagai seorang aktivis mahasiswa yang secara tidak langsung menjadi icon dan sorotan segenap mahasiswa lain, konstitusi seharusnya menjadi makanan wajib dalam setiap diskusi. Menjadi lucu bahwa kemudian ketika beberapa mahasiswa di kampus IAIN Raden Fatah yang mengaku sebagai aktivis pergerakan, yang malang melintang dalam dunia pergerakan mahasiswa mulai dari diskusi sampai aksi jalanan tidak bisa menafsirkan dengan benar rule of the game yang ada di kampus. Ini begitu miris, sangat miris bahkan.

 

Yang menjadi bottleneck (penghambat) dari penyaluran pemahaman tentang konstitusi ini sebenarnya Cuma satu, yaitu minimnya kesadaran dan keseriusan mahasiswa dalam memahami konstitusi bagi negaranya sendiri, yaitu konstitusi kemahasiswaan. Mahasiswa cenderung mencari shortcut (jalan pintas) dalam pelaksanaan keorganisasiaannya. Hanya sekedar membaca konstitusi. Itupun hanya bagian yang bersifat kekinian atau hanya ketika ada masalah dilapangan. Sehingga mahasiswa dalam keseharian aktivitasnya hanya disibukan dalam permasalahan-permasalahan yang seharusnya bisa ditanggulangi sejak awal. Masalah pemahaman konstitusi ini menjadi pembahasan yang begitu penting.

 

Dalam hal ini saya ingin menjelaskan secara gamblang aturan yang dipakai oleh mahasiswa IAIN Raden fatah Palembang dalam menjalankan student Goverment (kepemerintahan mahasiswa) di kampus. Walaupun saya sadari begitu banyak cara yang digunakan oleh kampus lain yang ada di Indonesia, namun IAIN Raden Fatah memilih caranya sendiri.

Dalam menjalankan student Govermentnya, mahasiswa IAIN Raden Fatah Palembang melalui para Legislatornya tahun 2010 menganut sistem Trias Politica (Montesqieu), dengan ditandainya tiga pilar utama, yaitu Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif. Karena hal ini dipandang metode yang lebih baik untuk menjalankan proses demokratisasi dibandingkan dengan cara-cara yang lainnya.

 

Legislatif, seperti kita ketahui adalah lembaga yang membuat aturan-aturan yang akan menjadi acuan utama dalam menjalankan student govermentnya kelak. Dengan tiga peran penting, yaitu Legislasi (membuat aturan; UUD, UU dan lain lain), Budgeting (Penganggaran), dan Controlling (mengawasi). Yang ini telah tercantum dalam UUD ORMAWA IAIN RF PALEMBANG TAHUN 2010 BAB II Pasal 3 dan UUD ORMAWA IAIN RF PALEMBANG TAHUN 2010 BAB V Pasal 17. Apa dan Siapa saja Anggota Legislatif itu? Ialah MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa), DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), dan DPF (Dewan Perwakilan Fakultas). Yang dipilih langsung oleh seluruh mahasiswa berdasarkan kursi nya masing-masing melalui EMILU MAHASISWA.

 

Eksekutif, ialah entitas yang menjalankan aturan (konstitusi) yang telah dibuat oleh Anggota Legislatif. Eksekutiflah yang menjalankan semua roda kepemerintahan dibawah pengawasan Anggota Legislatif dan berjalan diatas UUD dan UU. Yang juga dipilih langsung oleh mahasiswa melalui PEMILU MAHASISWA. Perihal penentuan para menteri dalam membantu menjalankan roda kepemerintahan, presiden Mahasiswa berhak penuh (preogatif) untuk mengangkat dan memberhentikannya sesuai aturan yang berlaku dalam UUD ORMAWA IAIN RF PALEMBANG BAB III Pasal 4 ayat (4) dan pasal 12 ayat (3). Boleh saja PRESMA mengangkat dan memberhentikan para menterinya secara sepihak, karena itu hak preogatif presiden. Dan yang perlu diingat bahwa kita tidak menganut sistem partai.

 

Yudikatif, dalam hal ini MPM berlaku sebagai Yudikatif dengan berkoordinasi dengan beberapa pihak yaitu Pembantu Rektor III (PUREK III) Pembantu Dekan III (PUDEK III).

 

Adapun wacana pemakzulan atau impechment atau pemberhentian PRESMA dan WAPRESMA seperti yang di aspirasikan mahasiswa beberapa hari yang lalu di kampus IAIN RF, sebenarnya jikalau membaca dengan teliti, bahwa sudah begitu jelas dalam aturan ORMAWA IAIN RF 2010. Untuk mengimpechment seorang Presma, itu bisa diajukan oleh 2/3 Anggota Legislatif dalam sidang Istimewa MPM. Itupun jikalau PRESMA melakukan pelanggaran hukum positif indonesia atau melanggar konstitusi Ormawa IAIN RF Palembang. (UUD ORMAWA IAIN RF PALEMBANG BAB III Pasal 8. Dan selanjutnya dijelaskan dalam pasal 10 UUD ORMAWA IAIN RF Palembang. Inilah aturan yang telah disepakati oleh Anggota Legislatif tahun 2010 dan disahkan oleh Rektor melalui Surat Keputusan Nomor XIX Tahun 2010. Tidak serta merta setelah penyampaian aspirasi, langsung kemudian ingin menurunkan. Ini kesalahan pemahaman yang fatal.

 

Jelas sudah aturan yang telah dibuat, dan ini wajib dipahami seluruh jagat Kampus IAIN RF Palembang. Sejak awal bahwa semangat perubahan itu ditanamkan oleh para pendiri dan penggiat politik kampus di IAIN RF Palembang. Bahwa proses demokrasisasi selalu didengung-dengungkan. Semuanya boleh berpendapat, semuanya bebas menyampaikan aspirasi, sebagai wujud demokrasi, namun dalam penyampainya sepatutnya para aktivis mahasiswa menyampaikan dengan bijak, santun dan bertata krama. Karena demokrasi yang kita bangun adalah demokrasi yang santun, bukan demokrasi abal – abal. Kalau mahasiswa tidak lagi pernah menghargai konstitusi sebagai landasan hukum dan bertindak semaunya, apa bedanya kita dengan suku Bar – Bar yang bertindak semaunya tanpa berfikir terlebih dahulu. Yang menjadi pembeda mahasiswa dengan kaum yang lainnya , bahwa mahasiswa itu berakal, memiliki kecerdasan lebih untuk berfikir matang. Entitas terdidik untuk kemudian dapat menjadi orang-orang yang berfikir untuk bangsa, pilar – pilar negara. Dan nilai lebih dari seorang mahasiswa ialah idealisme yang takkan pernah tergadai. Bergerak atas kehendaknya sendiri tanpa ada yang menginterpensi. Terlebih hanya sekedar dengan uang, ini hal yang sangat memalukan (melihat banyaknya fenomena mahasiswa yang menggadaikan idealismenya untuk sejumlah uang).

 

Mahasiswa harus menjadi centre position (posisi tengah) dalam segala kondisi yang ada. Menjadi perantara antara rakyat dan penguasa. Selalu mengawal proses demokratisasi untuk kemudian menjadikan bangsa ini bangsa yang makmur dan berkeadilan.

 

*penulis adalah orang yang merumuskan dari awal konstitusi UUD & UU ORMAWA 2010 IAIN RF Palembang

Belajar dari Kucing – kucing yang lucu (Mozaik 5)

Oleh : Alim M Wiltom (10 Juni 2011)

Pagi ini begitu indah. Ku hirup udara yang begitu segar hingga masuk melalui hidungku, berjalan disela-sela kerongkongan, menelisik disetiap rongga-rongga membuat urat-urat syarat bereaksi, menyegarkan disetiap aliran darah, aku bisa merasakannya. Udara yang masuk bersesakan kesekujur tubuh. Mengalir dan terus mengalir…

tak puas dengan udara yang kuhirup di balik jendela rumah, aku mencoba untuk melangkahkan kaki ke luar mencari udara segar yang lebih banyak. Tak kupedulikan sekalipun suhunya begitu dingin menusuk-nusuk sampai ketulang, aku tetap beranjak keluar.

***

“Abi sadar kalau aku adalah istri Abi??? Pernahkah Abi berfikir dan bertanya-tanya pada diri Abi Sendiri, tentang perasaan Aku???” istriku menghardik diriku yang sedari tadi tetap diam.

“Aku tidak meminta banyak hal dari Abi, yang aku minta hanya kasih sayang dan perhatian dari Abi selaku suami. Itu saja, tidak lebih. Tidak rumahl mewah, tidak juga mobil mentereng. Cukup kasih sayang dan perhatian dari Abi”. Istriku melanjutkan ucapannya, terbata-bata mencoba menahan segukan tangis, membelakangiku sembari duduk di sudut kasur.

Aku mulai tersadarkan. Sekarang aku faham betul apa yang dimaksud istriku. Memang belakangan ini aku lebih banyak membagi waktu dengan adikku Citra, mengajaknya jalan-jalan, makan diluar rumah, berjam-jam, berhari-hari. Walaupun tak jarang aku juga mengajak istriku Winda untuk berjalan bertiga, namun karena jadwal yang padat dengan aktivitas sosialnya membuat aku sering berjalan berduaan saja dengan adik kesayanganku Citra. Menghabiskan dua per tiga hari-hari ku bersama citra. Pernah sekali waktu aku dan Citra pulang begitu larut, karena sepulang bekerja aku sengaja menyempatkan diri untuk menjemput Citra dikampus, tapi ternyata Citra mengajakku pergi menonton. Tanpa fikir panjang, aku yang sedari tadi penat dengan segala macam urusan kantor langsung mengiyakan ajakan Citra. Setelah memnghubungi isteriku Winda. Jadilah kami menonton bersama.

Sialnya sewaktu mau beranjak pulang, ban mobilku kempes. Sempat aku merutukki ban mobil yang kempes. Betapa tidak, seharusnya aku dan Citra sudah bisa sampai rumah dan memberikan surprise untuk isteri tercinta. Banyak sekali kami membeli oleh-oleh. Sebenarnya Citra yang memaksa untuk membeli ini, beli itu, “untuk mbak Winda nanti kak” katanya. Akupun menurut saja. Tapi hal itu sia-sia, pastilah akan terasa basi jadinya. Tidak menjadi surprise lagi. Kami pulang teramat larut. Isteriku pastilah sudah terkantuk dirumah, lelah menunggu kepulangan kami.

“wah pak bannya bocor, dua pula bocornya. Kayaknya agak lama. Kalo Bapak mau makan atau jajan,… jajan aja  dulu gak papa.” ujar mas-mas tukang tambal ban dengan logat khas Bataknya. Akhirnya kami makan dipinggir jalanan kota. Inilah yang membuat isteriku cemburu dan uring-uringan akhir-akhir ini.

“Maaf kan Aku, Mi. Aku memang salah” aku mencoba untuk meminta maaf, menyesali segala kesalahan. Tapi ia tetap saja membelakangiku. Diam.

***

Kulangkahkan kaki menyambut mentari pagi. Aroma bunga disekelilingku semakin menambah indahnya pagi ini. Kebun teh menghijau, membuat mataku yang hitam putih menjadi menghijau. begitu luas, seluas mata memandang. Membuatku semakin tidak ada alasan untuk tidak bersyukur dan memaksa berfikir bahwa diri ini begitu kecil. Dunia ini terlampau indah.

“miauu… miauu… miauu… miauu…” aku terusik dengan suara yang bersahut sahutan. Kepalaku celingukan mencari cari sumber suara. Beberapa kali aku menyingkap daun-daun teh. Dan akhirnya aku menemukan sumber suara tepat di belakangku berdiri.

MasyaAllah…” desisku kaget.

“anak anak kucing… lucu sekali…” segera aku mencoba untuk meraih anak kucing dari rerimbun daun teh.

“ni kucing induknya kemana ya? Tega banget ninggalin anak-anaknya disini… hmm…” sembari menggendong kedua anak kucing yang lucu lucu itu aku berusaha mencari cari siapa tahu ada induknya disekeliling kebun teh.

“apa jangan jangan ada orang yang sengaja membuang anak anak kucing ini kesini ya???” tuduhku heran.

“ya sudahlah daripada ni kucing terlantarkan, lebih baik ku bawa masuk ajalah. Kasihan masih kecil-kecil.” Segera aku membawa kedua kucing masuk. Aku berniat mengurusnya. Anggap saja ini hadiah. Hadiah dari langit. Read more

(Mozaik 4) tak ada yang bisa kukatakan, aku sayang kamu… bag.2

Oleh : Alim M Wiltom

Hari ini kembali aku dengan rutinitas baru. Mengantar istri tercinta dalam setiap aktivitasnya. Termasuk mengantar ke panti. Seperti biasa.

“hati-hati ya mi. salam buat anak-anak disana.”

“iya bi, InsyaAllah... Abi juga kudu hati-hati”

Ku kecup kening istriku dengan kecupan lembut seraya  berbisik “Aku sayang kamu, bidardariku…”. dengan sebelumnya ia mengecup tanganku. Tidak akan pernah akan kulewatkan rutinitas ini, karena ini adalah peristiwa yang kutungggu-tunggu setiap harinya. Memanjakan sang bidardari.

Lagi pula ini adalah cara terampuhku. Cara terampuhku membuatnya tersipu malu dengan muka memerah. Terus salah tingkah. Dan juga biasanya setelah prosesi itu berlangsung, ia begitu semangat dengan memasang tensi sangat tinggi. Lebih tinggi daripada tensi ketika pak Presiden memarahi para bawahannya. Alhasil, semua aktivitas dikerjakan dengan hasil yang maksimal…

Kujalankan mobil merahku. Istriku tetap berada disana, memandangiku yang sudah mulai beranjak pergi. Memastikan kepergianku dengan selamat. Setidaknya selamat ketika didepannya. “istriku yang cantik. Bidardariku yang manis,… aku sayang kamu umi… beruntung aku mendapatkan pendamping yang begitu menyayangi, perhatian, begitu mengerti…bahkan semua kata-kata terbaikpun tak cukup untuk menggambarkan luhurnya sikapmu..” gumamku seraya menyetir mobil. Read more

(mozaik 3) Apa kau masih sayang??

oleh : Susanti Eka Pratiwi

Sabtu, malam minggu.

Aku berdiri tegap di depan jendela kamarku, di lantai 2. Menatap gerimis di bawah sinar lampu jalanan. Cantik.

*****

Kamis petang.

aku meminta kakak menjemputku agak malam, karena aku harus mendampingi adik – adik angkatanku. Biasanya saat kaum adam shalat jum’at, aku dan adik-adikku mengendap – endap di bawah tangga dekanat, melingkar dan melakukan ritual pekanan. Ngaji.

Tapi  jum’at pekan ini tanggal merah, dan mereka berencana untuk pulang kerumah masing – masing. Jadinya jadwal ngaji diganti hari kamis. Ba’da ashar, saat tidak ada lagi jam kuliah, sehingga tidak mengganggu amanah terbesar orang tua. 2 ½ jam dihabiskan untuk bercengkama bersama, tilawah, kultum, berbagi berita, juga mendengarkan curhat mereka. Selalu menyenangkan, mendapat banyak pelajaran dari setiap cerita.

Pergantian jadwal itu yang membuatku tidak bisa pulang seperti biasa. Kakak selalu menjemputku pukul 5, karena pukul 4 dia sudah keluar dari kantor. Namun hari ini aku meminta kakak menunggu sampai pukul 6 karena kemungkinan selesai ngaji pukul 6.

Setelah melepas kepergian adik-adik, aku mulai melakukan pekerjaan membosankan. Menunggu kakak. Aku menuju gerbang kampus, huft…. sudah mulai gelap. Lampu jalan sudah dinyalakan semua. Tapi tetap saja ramai kendaraan tidak berkurang. Bising.

Kutolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan, kakak belum ada. Mencari kursi jalanan. Penuh. Banyak yang masih nongkrong, tapi kulihat ada satu kursi yang kosong di seberang. Baiklah, dari pada menunggu kakak sambil berdiri, kuputuskan untuk memanfaatkan kursi yang kosong di seberang.

Untung saja kursi itu lumayan strategis, tepat berada di bawah lampu jalan, terang. Aku bisa sambil membaca, atau mungkin tilawah, kurang beberapa lembar untuk mencapai satu juz. Target tilawah harianku. Sudah ada bapak – bapak yang duduk di kursi itu sebelumnya, asyik dengan majalahnya, sehingga tidak melihat anggukkanku meminta izin duduk berdampingan. Kubiarkan saja. Lagian bukan kursinya, bodo’ amat.

 

Baru satu ayat, adzan bergema. Magrib.

‘Kak, citra sholat dulu. Tunggu depan gerbang aja ya?? hehe…’ kuterbangkan pesan itu pada orang yang sekarang tak tahu sedang berada dimana. Mungkin di jalan, terjebak macet.

Bapak – bapak di sebelahku masih asyik dengan majalahnya. Tak bergeming dengan suara adzan yang mulai memekakkan, tak jelas, tak karuan, bertabrakan dari satu mesjid dengan masjid lainnya. Kacau.

Aku mulai beranjak, bapak itu tetap diam. Kenapa tidak bersegera untuk sholat? Kubiarkan saja. Bukan urusanku… bodo’!

 

******

 

Gerimis semakin rapat, lampu jalanan juga semakin indah di buatnya. Semua mobil yang lewat mulai menyalakan wiper untuk membersikan kaca mobil dari tetesan air langit itu.

Klutak klutik klutak klutik…

Mbak winda masih menyiapkan makan malam. kuduga kakak membantunya. Aku tidak membantu, malas bertemu mereka. orang yang tidak perduli lagi kepadaku. Bikin emosi. Read more

(Mozaik 2) tak ada yang bisa kukatakan, Aku Menyayangimu… Bag.1

oleh: Alim M Wiltom

Hhhh…

hari ini begitu melelahkan. hari yang paling mendebarkan disepanjang sejarah hidupku…

aku sangat kecapaian. Punggungku rasanya seakan mau patah.

kurebahkan tubuh ku diatas kasur yang begitu empuk bertabur bunga. kuperhatikan satupersatu hiasan kamar yang berjuntai indah. Hiasan yang menghiasi sudut-sudut kamar. kamar ini beda, sangat beda. setidaknya beda dari seminggu yang lalu. ya mungkin karena hari ini adalah hari spesialku.

“akhirnya hari ini berlalu juga, Alhamdulillha” gumamku dalam hati.

“drrrt drrrrrt drrrrtt…”

“drrrt drrrrrt drrrrtt…”

“astaghfirullahaladzim…” aku terbangun dalam lamunan panjang. Mengindera sesuatu.

“Handpone ku!!!”

mataku tertuju pada handphone yang terletak di atas meja dekat ranjang kamarku. handphone yang sedari tadi menemani meja kayu ini sengaja ku silent kan, agar fokus dalam upacara sakralku.

“drrtt drrrttt drrt…” getar handphone pun terus berlanjut…

segera dengan gesit ku ambil handphone yang telah lama menari-nari diatas meja ini. tak kalah gesitnya dengan jurus-jurus Bruce lee..

“Barokallahu laka wa baroka a’laika Wajamaabaina kuma fii khoiri…”

“selamat saudaraku, sekarang islammu sudah utuh..”

“hati-hati akh, ente harus menyiapkan stamina. jangan panik… hahaha”

kubaca satupersatu pesan singkat di handphone ku… 

 “dasar teman-teman yang aneh…gumamku gusar…

“bisa-bisanya ngerjain orang..”

“tapi bener juga ya??? jangan panik. hmm…” aku tertawa licik dalam hati. Read more

(Mozaik 1) Nobody like you !!

oleh: Susanti Eka Pratiwi

Begitu banyak hiasan berjuntai di atap kamar itu. menjulur bermeter – meter sutera menutupi temboknya, hingga tak ada sedikitpun celah tuk memperlihatkan pudarnya cat tembok yang sudah 10 tahun tak diganti. Ditambah rangkaian bunga di beberapa titik, membuatnya semakin indah. Kamar itu benar – benar berhasil disulap menjadi ruangan bidadari dalam semalam, tapi aku takut melihatnya, aku takut melalui hari – hari setelahnya.

******

“Kak, duren….” rengekku padanya setiap kali harum buah itu menggodaku. Selalu saja manja di depannya. Seorang laki – laki semampai yang selalu mengusap jilbabku saat aku rewel di dekatnya. Dia kakakku satu – satunya, kami sangat dekat, bagaimana mungkin hubungan kami tak dekat sedang setiap hari dia selalu ada untukku, dia yang selalu setia mendampingiku.

Ayah dan ibu selalu asyik dengan bisnisnya di Jerman, Hongkong, Sidney atau mana lagilah. Aku sampai tak hafal, selalu berpindah. Efeknya aku tak begitu dekat dengan mereka. Tapi dengan kakakku, setiap cerita di hari – hariku selalu terbagi dengannya. Dia segalanya untukku, entah akan seperti apa hidupku tanpanya.

Apapun pintaku selalu saja diusahakan. Alhasil, terciptalah aku yang sering bergantung padanya. Sedikit – sedikit kakak… rada susah dikit, kakak…kerepotan, kakak… sedih, kakak… sudah ngerjain tugas, kakak… huft… itulah aku dengan kakakku, manja.

******

Mushaf warna emas itu terbungkus rapi di atas meja belajar di kamar yang penuh sutera itu. besok akan jadi saksi bisu, perubahan status seorang gadis menjadi istri. Read more

Pesan tanpa Kata

Memahami mu karena naluri.

ini bukan kisah yang asyik dibaca, mungkin. ini juga bukan cerita fiksi yang akan menghabiskan secangkir teh di teras rumah.

 

ini adalah sebuah sikap! sikap yang tak semua orang mengerti. sikap yang mana hanya kau dan aku yang mengerti.

“pesan tanpa kata”.

 

sahabatku pernah berkata “perbaikilah cara komunikasimu, InsyaAllah semua urusanmu yang rumit akan mudah diselesaikan.”

atau saudara-saudara yang lainpun pernah berujar, “satu yang menjadi kekuranganmu tentang hal ini, ialah kamunikasimu yang tidak begitu baik.”

 

tapi dalam hati saya berkata, ini adalah prinsip! prinsip yang harus kupertahankan. logika-logika kalian tentang kamunikasi tidak akan pernah mampu melunturkan prinsip yang mengakar ini.

 

sederhana, saya menyebutnya sebagai “pesan tanpa kata”

 

kecenderungan untuk mendiamkan adalah sesuatu yang menjengkelkan bagi teman yang lain, biasanya. tapi prcayalah, ini akan lebih ampuh daripada sekedar ocehan kepada “diri yang bebal”,

patung bernyawa itu takkan pernah tahu apa itu amarah??

hati yang berkarat takkan pernah mampu menerima celupan sakitnya alkohol yang akan mencucinya dari karat yang menulikan.

DIAM, inilah akses terbaik saat ini.

 

pernahkah pembaca mempunyai seorang sahabat karib? yang mengerti dan memahami?

menjadi penghibur dikala sedih, menjadi obat dikala sakit, menjadi benteng dikala diserang, menjadi tongkat dikala pincang, menjadi angin dikala petang hari, Read more

membina cahaya harapan…

burung-burung bersiul merdu mengusik hari-hariku mengingatkanku pada masa-masa dimana semuanya selalu menjadi indah dan menyenangkan.

angin pagi berhembus lembut menembus jiwa merasuk dalam raga menyadarkanku pada sebuah kisah yang takkan terlupakan.

hiruk pikuk suasana, lalu lalang aktifitas, teriakan tukang becak, teriakan pedagang baju, pedagang rambutan, selalu membuatku tertawa dalam hati tersenyum ringan mengingatkan pada skenario peristiwa tentang awal dan akhir, tentang rindu yang tak terbendung, tentang air mata, tentang rasa manja, tentang ego, tentang kasih sayang, tentang harapan yang selalu digantungkan, tentang keoptimisan dan kesetiaan. tawa anak-anak kecil yang lewat setiap paginya didepan rumah membuatku iri akan lakunya. aku ingin berlaku manja sepertinya, sedikit-sedikit merengek, sedikit-sedikit ngambek, sedikit-sedikit Read more

Apa yang bisa kita berikan? Ya berikanlah. (Bag 1)

palembang, 20 September 2010

Pernah kita berfikir bahwa kehidupan kita tidak seindah kehidupan saudara-saudara kita yang lain. Mereka mempunyai segudang kelebihan, segudang kenikmatan, segudang prestasi, segudang harta, segudang ilmu dan segugang pujian. Sedangkan kita? Kita hanyalah seonggok sampah, tak lebih hanyalah pemanis keseimbangan hidup (baik-buruk kehidupan). Saya pernah berkata kepada teman saya bahwa “kau akan dipandang sejauh mana kau memandang”, ketika kita memandang bahwa diri kita sampah, maka selamanya kita akan menjadi sampah, namun jikalau kita memandang bahwa kita adalah pemenang, maka kita akan menjadi seorang pemenang, seorang yang super, seorang yang dahsyat luar biasa. Kitalah yang menciptakan sugesti kehidupan, dan kitalah yang akan menjalankan kehidupan ini berdasarkan sugesti yang kita miliki. Karena yang perlu kita ingat bahwa “di dunia ini tidak ada yang pintar dan bodoh” Read more

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.